Jumat, 18 Februari 2011

PENGERTIAN DAN PENDEKATAN SOSIOLOGI PENDIDIKAN

A.  Pengertian Sosiologi Pendidikan
Apakah sosiologi pendidikan itu? Untuk menjawab pertanyaan ini ada
beberapa hal yang perlu dicermati,  diantaranya sebagai berikut: Sosiologi
pendidikan berasal dari kata sosiologi dan pendidikan, sosiologi adalah ilmu yang
mempelajari hubungan antara manusia dalam kelompok-kelompok dan struktur
sosialnya (Pidarta, 2000:145), Jadi sosiologi dapat ditafsirkan sebagai ilmu yang
mempelajari bagaimana manusia itu berhubungan satu dengan yang lain dalam
kelompoknya dan bagaimana susunan unit-unit masyarakat atau sosial di suatu
wilayah serta kaitannya satu dengan yang lain.
Menurut Mayor Polak dalam Gunawan (2000:3) disebutkan bahwa
sosiologi adalah suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari masyarakat sebagai
keseluruhan, yakni hubungan antar manusia dengan manusia, manusia dengan
kelompok, kelompok dengan kelompok, baik formal maupun material, baik statis
maupun dinamis. Sedangkan menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi
dalam Gunawan (2000:3) sosiologi adalah ilmu yang mempelajari struktur sosial
dan proses sosial, termasuk perubahan-perubahan sosial.
Menurut H.P. Fairchild dalam Ahmadi (2000:1) Sosiologi Pendidikan
adalah sosiologi yang diterapkan untuk memecahkan masalah-masalah
pendidikan yang fundamental. Secara etimologi sosiologi pendidikan terdiri
7 sosiologi dan pendidikan, yang berarti aspek-aspek sosiologi dikaitkan dengan
masalah-masalah pendidikan.
Menurut Charles A. Ellwood dalam Ahmadi (2000:7) Sosiologi
pendidikan adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari/menuju untuk melahirkan
maksud hubungan-hubungan antara semua pokok-pokok masalah antara proses
pendidikan dan proses sosial.
Menurut Wuraji dalam Pidarta (2000:146) sosiologi pendidikan adalah
ilmu yang membahas sosiologi yang terdapat pada pendidikan.
Dari uraian tersebut di atas maka dapat ditafsirkan bahwa sosiologi
pendidikan adalah aspek-aspek sosiologi yang diterapkan pada masalah-masalah
pendidikan yang fundamental.
Kaitan antara sosiologi pendidikan dengan sosiologi, ilmu pendidikan dan
kelompok
Gambar 1 Sosiologi Pendidikan dalam kelompok ilmu-ilmu sosial (Dirujuk dari
Ravik Karsidi, 2005:2)
Mengapa dalam pendidikan terdapat aspek-aspek sosiologis sebab situasi
pendidikan adalah situasi hubungan dan pergaulan sosial. Hubungan dan
pergaulan sosial yang ada dalam pendidikan (sekolah) antara lain terjadi antara
pendidik dengan pendidik, pendidik dan anak didik, anak didik dengan anak
didik, pendidik dengan pegawai, pegawai dengan pegawai, anak didik dengan
pegawai.
Mengapa guru dan calon guru perlu memahami hal-hal yang berkaitan
dengan sosiologi? Hal ini disebabkan antara lain:
1.  Bahwa masyarakat mengalami perubahan sangat cepat, progresif. Perubahan
yang cepat menimbulkan adanya cultural lag (ketinggalan kebudayaan akibat
adanya hambatan-hambatan). Cultural lag ini merupakan paham sesuatu yang
menimbulkan masalah-masalah sosial di masyarakat. Masalah yang timbul


tidak dapat diatasi oleh lembaga-lembaga pendidikan. Untuk itu para ahli
sosiologi diharapkan dapat mengembangkan pemikirannya untuk ikut
memecahkan masalah-masalah pendidikan yang fundamental.
2.  Guru selain sebagai administrator,  informatory dan pemimpin, maka harus
berkelakuan menurut harapan masyarakatnya. Kepribadian guru dapat
mempengaruhi suasana kelas/sekolah, baik kebebasan yang dinikmati anak
dalam mengeluarkan pendapatnya dan mengembangkan kreatifitasnya
ataupun pengekangan dan keterbatasan yang dialami dan pengembanga
kepribadiannya. Kebebasan guru juga dibatasi oleh atasannya (kepala
sekolah, pemilik, kepala Dinas sangsi menteri), keseluruhannya dipengaruhi,
dibatasi, serta diarahkan pada pencapaian tujuan pendidikan. Keberhasilan
pendidikan di sekolah dipengaruhi berbagai faktor antara ;ain menyangkut
usaha murid, guru, orang tua, interaksi antara murid dengan murid serta
lingkungan sosialnya baik yang dihadapi di dalam maupun di luar sekolah.

Anak memiliki perbedaan antara satu dengan lainnya menyangkut bakat,
kemampuan pembawaannya, karena dipengaruhi lingkungan sosial yang
berlainan. Untuk itu sudah sewajarnya bila seorang guru harus berusaha
menganalisis pendidikan dari segi sosiologi, hubungan manusia dalam keluarga,
sekolah dan masyarakat.
Bagaimana perkembangan sosiologi pendidikan? Untuk menjawab
permasalahan ini kita kaji bersama hal-hal sebagai berikut. Perkembangan
sosiologi pendidikan di mulai oleh Jhon Dewey yang menerbitkan buku “School
and society” tahun 1899. selanjutnya pada tahun 1920, F. R. Clow David
Inedden, Ross Finney, C.C. Petrus, C.L. Robbius, E. R. Groves dan lain-lain
meneruskan jalan pikiran tersebut di atas dan menekankan pentingnya nilai sosial
pendidikan. Sosiologi pendidikan dikuliahkan pertama kali oleh Henry Awazalo
tahun 1910 di Teaher College, Universitas Columbia. Pada tahun 1916 di
Universitas New York dan Columbia didirikan jurusan sosiologi pendidikan.
Himpunan untuk studi sosiologi pendidikan dibentuk pada konggres himpunan
sosiologi Amerika pada tahun 1923. Sejak tahun 1928 terbitlah The Jurnal of
educational Sociology di bawah pimpinan E. George Payne. Majalah social
education mulai terbit tahun 1936. Sejak tahun 1940 dalam Review of
Educational research dimuat artikel-artikel yang mempunyai hubungan dengan
sosiologi pendidikan. Pada tahun 1967 sosiologi pendidikan diberikan pertama
kali di IKIP Negeri Yogyakarta jurusan Didaktik kurikulum.
 B.  Pendekatan Sosiologi Pendidikan
Pendekatan sosiologi pendidikan menggunakan beberapa pendekatan
yaitu pendekatan individu, pendekatan sosial dan pendekatan interaksi.
1.  Pendekatan individu
Individu merupakan bagian dari kelompok atau masyarakat dengan
kata lain bahwa individu merupakan pembentuk kelompok. Apabila kita
dapat memahami tingkah laku individu satu persatu bagaimana cara
berpikirnya, perasaannya, kemauannya, perbuatannya, mentalitasnya dan
seterusnya, maka akhirnya dapat dimengerti bagaimana kelompok,
bagaimana mentalita kelompok.
Individu dipengaruhi oleh faktor intern meliputi faktor-faktor biologis
dan psikologis, sedangkan faktor ekstern mencakup faktor-faktor lingkungan
fisik dan lingkungan sosial (Ahmadi, 2000:27).
Pada bagian ini yaitu individu dibahas tentang faktor biologis pada tingkah
laku manusia dan faktor psikologis pada tingkah laku manusia.
a.  Faktor biologis pada tingkah laku manusia
Menyangkut keadaan biologis manusia dapat mempengaruhi tingkah laku
manusia, dapat ditemukan antara lain:
Penyelewengan nasionalisme yang ekstrim seperti yang dianut Hitler,
bahwa ras Arya dari Jerman sebagai ras yang super, melebihi ras-ras yang
lain. Ras kulit putih menganggap bahwa ras kulit hitam memiliki
intelegensi yang rendah. Tetapi dalam penyelidikan-penyelidikan
membuktikan bahwa tinggi rendahnya Intelegensi tidak tergantung pada
asal ras, tetapi dipengaruhi faktor  milieu fisik dan kultural pada
masyarakat. Bangsa kulit berwarna belum maju karena berkaitan dengan
kebebasan, fasilitas ekonomi, kemajuan kebudayaan, hubungan sosial
yang luas dan keagamaan.
Hal yang lain misalnya menyangkut makanan yang berkaitan dengan
protein, jaringan otak dan saraf-sarafnya berasal dari protein, orang yang
jaringan otaknya tumbuh secara baik karena protein, maka perkembangan
Intelegensinya juga baik.
b.  Faktor psikologis pada tingkah laku manusia
Unsur kejiwaan atau psikologis dapat mempengaruhi tingkah laku
manusia. Hal ini dipertegas sesuai pendapat Ahmadi (2000:36) yang
menyatakan bahwa:
“Faktor-faktor hereditair, misalnya  pembawaan, bakat dan sebagainya,
yang harus kita akui sebagai kekuatan potensial, kekuatan yang  latent, kekuatan-kekuatan potensial mana baru dapat diaktuilkan, baru dapat
dimanifestasikan kalau faktor-faktor  milieu, faktor-faktor lingkungan
sekitar mengijinkan, memberi kesempatan dan fasilitas yang mencukupi
adanya”.
Dari pendapat tersebut dapat memperjelas bahwa aktualitas seseorang
yang berwujud tingkah laku dipengaruhi adanya unsur kejiwaan berupa
hereditas dan juga faktor lingkungan (milieu).
2.  Pendekatan Sosial
Pendekatan sosial menekankan pada masyarakat dan pengaruh
geografi. Di masyarakat terjadi individu berhubungan dengan individu dan
juga menyesuaikan diri dengan lingkungan.
Proses sosial dimulai dari interaksi sosial. Sedangkan interaksi dan
proses sosial didasari oleh fakta-fakta sebagai berikut: 1) imitasi; 2) sugesti;
3) identifikasi; simpati (Pidarta, 2000:147).
Imitasi adalah peniruan, misalnya anak meniru gurunya yang
berpakaian rapi. Tetapi anak tidak meniru orang lain yang gemar minum-
minuman keras. Meniru guru yang berpakaian rapi merupakan imitasi
terhadap hal yang positif. Kalau anak ikut-ikutan minum-minuman keras
terhadap temannya maka itu merupakan imitasi yang negatif.
Sugesti adalah jika anak menerima atau tertarik pada pandangan atau
sikap orang lain, ini dilakukan tanpa adanya kritik atau pertimbangan yang
rasional. Identifikasi adalah keinginan untuk menggunakan dirinya kepada
orang lain yang dianggap memiliki keistimewaan atau kelebihan.
Simpati yaitu tertariknya orang satu terhadap orang lain. Timbulnya
simpati karena berdasarkan penilaian perasaan.

3.  Pendekatan Interaksi
Dalam proses sosial terdapat interaksi sosial, yaitu suatu hubungan
sosial antara individu dengan individu, antara individu dengan masyarakat
dan sebaliknya. Interaksi sosial dapat terjadi apabila memenuhi syarat: 1)
kontak sosial, 2) komunikasi (Pidarta, 2000:149).

Kontak sosial dapat berlangsung dalam tiga bentuk yaitu:
1.  Kontak antar individu, misalnya antara anak dengan ibu di rumah, anak
dengan anak, anak dengan guru di sekolah.
2.  Kontak antara individu dengan kelompok atau sebaliknya, contohnya
antara anak dengan kelompok remaja masjid atau gereja. 3.  Kontak antar kelompok, contohnya antara kelompok orang tua murid
dengan guru-guru.
 Komunikasi adalah proses penyampaian pikiran dan perasaan
seseorang kepada orang lain atau sekelompok orang. Adapun alat-alat
komunikasi antara lain : melalui pembicaraan, melalui mimik dengan
lambang-lambang misalnya mengacungkan ibu jari, melalui alat-alat
misalnya melalui media cetak dan elektronik.
Sampai di sini Anda telah mempelajari dan menyelesaikan kegiatan
belajar sub unit I (satu). Tentu Anda telah menguasai uraian di atas. Untuk
mengetahui pemahaman Anda, kita kerjakan latihan berikut ini:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar