Jumat, 11 Februari 2011

PENDEKATAN KETRAMPILAN PROSES (PKP)

A.  Rasional Penerapan PKP Dalam Pembelajaran

                 Pendekatan  Ketrampilan  Proses,  seperti  telah  ditegaskan  sebelumnya,
adalah  pendekatan  yang  menekankan  penggunaan  ketrampilan  memproseskan
perolehan dalam pembelajaran yang dikembangkan sebagai konsep terlaksana  untuk
menerapkan Pendekatan CBSA. Oleh karena  itu,   alasan dikembangkannya PKP  ini
tidak berbeda secara prinsip dengan rasional Pendekatan CBSA. Rasional penerapan
PKP dalam pembelajaran  (Conny Semiawan, dkk,1985: 14-16; Moedjiono dan Moh.
Dimyati, 1992/1993:  12-14) sebagai berikut:
1.  Percepatan perkembangan  ilmu pengetahuan menyebabkan bahan ajar, yang  
bersumber  dari  ilmu  pengetahuan  itu  makin  banyak  (makin  luas  dan  atau
mendalam) sehingga  tidak mungkin  lagi guru mengajarkan  semua  fakta dan
konsep itu kepada muridnya dalam pembelajaran di sekolah. Kalau guru tetap
berusaha  mengajarkan  semua  fakta  dan  konsep  itu,  maka  guru  biasanya
memilih cara praktis dengan metode ceramah. Akibatnya, murid  mengetahui
banyak  fakta dan konsep yang diajarkan  itu,  tetapi murid  tidak dilatih untuk
menemukan  dan  atau  mengembangkan  fakta,  konsep,  dan  atau  prinsip,
dengan kata lain, tidak dilatih untuk mengembangkan ilmu pengetahuan.
2.  Perkembangan kognitif murid SD-MI yang masih berada pada  tahap operasi
konkrit      sehingga masih memerlukan  contoh nyata untuk dapat memahami
konsep  yang  abstrak  dan  rumit,  utamanya  dengan memperaktekkan  sendiiri
upaya menemukan konsep  itu. Hal  itu sesuai dengan salah satu prinsip PKP
yakni  perkembangan  kognitif  sesungguhnya  dilandasi  oleh  gerakan  dan
perbuatan,  seperti pendapat  Jean Piaget  “….. mengetahui  sesuatu obyek  tak
lain daripada memperlakukannya”; esensi pengetahuan adalah aktivitas, baik
fisik dan  terutama mental. Tugas guru adalah menyiapkan  suatu  lingkungan
belajar  yang  menggiring  murid  untuk  bertanya,  mengamati,  mengadakan
percobaan,  dll  untuk  menemukan  fakta,  konsep,    dan  atau  prinsip.  Murid
mulai belajar menjadi seorang „ilmuwan‟.
3.  Penemuan  ilmu  pengetahuan  hanyalah  suatu  kebenaran  relatif  yang  masih
tetap  terbuka  untuk  dikaji  dan  diuji  kembali.  Hal  tersebut  menuntut  suatu
sikap ilmiah dari para ilmuwan yakni mampu dan mau mengkaji dan menguji
kembali  sesuatu  yang  telah  dianggap  benar.  Sikap  ilmiah  itu  seharusnya
mulai  ditanamkan  pada  setiap  murid  SD-MI.  Dari    sisi  lain,  murid  mulai
dibiasakan  untuk mempertanyakan  dan mencari  kemungkinan-kemungkinan
lain, dengan kata lain, murid dibiasakan untuk berpikir dan bertindak kreatif.
4.  Setiap pembelajaran harus tetap berusaha untuk mengembangkan kepribadian
murid secara holistik. Meskipun suatu pembelajaran berada dikawasan ranah
kognitif, tetapi pembelajaran itu tidak boleh dilepaskan dari ranah afektif dan
atau  psikomotorik.  PKP  yang  menekankan  pengembangan  ketrampilan
memproseskan perolehan (kawasan psikomotorik: ketrapilan fisik/intelekual)
akan  berperan  sebagai    wahana  penyatukait  antara  pengembangan  konsep
(ranah kognitif) dan pengembangan  sikap dan nilai (ranah afektif).
        Demikianlah  beberapa alasan  yang mendorong dikembangkannya PKP sebagai
konsep  terlaksananya penerapkan Pendekatan CBSA,   namun bukanlah pengaktifan
murid  yang  “…..tanpa  isi,  tanpa  pesan,  tanpa    rancangan,  dan  tanpa  arah.
……..[Tetapi]  yang  dipraktekkan  adalah  cara  belajar  siswa  aktif  yang
mengembangkan ketrampilan proses perolehan.”  (Conny Semiawan, dkk, 1985: 16).
Pembelajaran  aktif  dan  bermakna  itu   menuntut  aktivitas murid  yang  bukan  hanya
bersifat fisik, melainkan yang utama adalah keterlibatan mental (intelektual dan atau
emosionl).  Pembelajaran  yang  bermakna  itu  akan  menumbuhkan    prakarsa  dan
kreativitas murid dalam pembelajaran, serta  akan mendorong  perkembangan mental
yang  kadarnya  tinggi  dalam  2  (dua)  komponen  penting  yakni  (1)  berpikir  kritis
dalam mencari kebenaran fakta, konsep, prinsip, dan atau teori,  dan (2)   kreativitas
dalam  mencari  kebermaknaan  (Siler,  1990,  dan  Lipman,  1991,  dari  Conny R.Semiawan,  1993:17-19). Seperti diketahui, proses berpikir dapat dibedakan dalam
2  (dua)  fungsi utama, yakni  (1) berpikir kritis,  rasional  logis, konvergen  (memusat)
sebagai  fungsi  utama    dari  belahan  otak  kiri,  dan  (2)  berpikir  kreatif,  divergen
(memencar)    sebagai  fungsi  utama  dari  otak  kanan. Kedua  sisi  fungsi  berpikir  itu
saling  melengkapi  dan  merupakan  satu  kesatuan,  dan  keduanya  seharusnya
dikembangkan  secara    seimbang,  serasi dan  selaras dalam pembelajaran di SD-MI.
Dalam pengamatan tentang pembelajaran di SD-MI, diperoleh kesan bahwa berpikir
kreatif belum cukup dikembangkan.

B. Pengertian Pendekatan Ketrampilan Proses (PKP)

             Pendekatan Ketrampilan Proses (PKP) adalah pendekatan pembelajaran yang
mengutamakan  penerapan  berbagai  ketrampilan  memproseskan  perolehan  dalam
pembelajaran  itu      “Ketrampilan  memproseskan  perolehan  adalah  suatu  konsep
terlaksana  yang  dapat membantu  kita  untuk menerapkan Cara Belajar Siswa Aktif
(CBSA)   …”  (Conny  Semiawan,  1985:  3).  Penerapan  PKP  dalam  pembelajaran
memberi penekanan agar dalam pembelajaran itu para murid dilatihkan ketrampilan-
ketrampilan mendasar yang  biasa dipergunakan para ilmuwan  dalam menghasilkan
penemuan-penemuan  besar  dalam  ilmu  pengetahuan,  seperti:  mengamati,
menghitung, mengukur, mengklasifikasi,  dll. Ketrampilan mendasar  itu  yang  telah
menghasilkan  penemuan  besar  dalam  ilmu  pengetahuan,  seperti:  „pemutarbalikan‟
Copernicus  yang  mengemukakan  bahwa  bukan  matahari  yang  mengedari  bumi
(seperti  anggapan    umum  pada  saat  itu)  tetapi  terbalik:  bumi  yang  mengedari
matahari,  atau    penemuan  ketidaksadaran  (Id/Das  unbewuzte)  oleh Sigmund Freud
dengan aliran Psikoanalisa, atau penemuan gagasan koperasi oleh Muhammad Hatta
(Bung Hatta),  dsb    Penemuan-penemuan  besar  itu  dilakukan  karena  para  ilmuwan
tersebut  menguasai  berbagai  ketrampilan  mendasar  (fisik  dan  atau  mental),
meskipun  penguasaan  fakta,    konsep,  prinsip  dan  atau  teori  dalam  bidangnya
mungkin masih terbatas.
       Ketrampilan-ketrampilan  mendasar  yang  dikuasai  para  ilmuwan  itu  pada
prinsipnya  terdapat  juga  dalam  diri  anak,  hanya  masih  potensial  dan  atau  masih
sederhana  dan  belum  berkembang.  Kalau  diperhatikan  seorang  anak  dan  seorang
ilmuwan  menyelidiki  sesuatu  disekitarnya,  umpama  seekor  kupu-kupu,  maka
keduanya didorong oleh hasrat ingin tahu yang besar, serta pada dasarnya keduanya
menggunakan  ketrampilan  proses  yang  sama,  yakni  kemungkinan  keduanya
mengamati,  menghitung,  mengukur,  dsb.  Perbedaannya  hanyalah  bahwa  para
ilmuwan menggunakan ketrampilan proses itu dengan lebih intensif dan berkualitas.

Para  ilmuwan bekerja dengan  landasan  teoritis,  lebih  terarah dan sistimatis, seperti:
ilmuwan  itu  merumuskan  masalah,  membuat  hipotesis,  melakukan
penelitian/eksperimen,  serta mengumpulkan, mengolah,  dan menginterpretasi  data,
dsb.  Intensitas dan kualitas penguasaan ketrampilan proses  itulah  yang menghantar
para ilmuwan menghasilkan penemuan-penemuan besar dalam ilmu pengetahuan.
       Pembelajaran  di  SD-MI  seyogianya  secara  dini  menumbuhkan  dan
mengembangkan ketrampilan proses seperti yang dikuasai para  ilmuwan  itu dengan
menerapkan  PKP  dalam  pembelajaranya.  Dengan  penerapan  PKP  dalam
pembelajaran, murid  dengan memproseskan perolehannya akan mampu menemukan
sendiri  fakta,  konsep,  dan  atau  prinsip  (pengembangan  pengetahuan-pemahaman
dalam ranah kognitif), dan seiring dengan itu, pembelajaran itu secara berangsur tapi
berlanjut  akan  mengembangkan  sikap  dan  nilai  pada  siswa  yang  relevan  seperti
cermat, teliti, jujur, dsb. Dengan kata lain, pembelajaran yang semula menggunakan
berbagai  ketrampilan  proses  (fisik,  social,  dan  atau  intelektual  dalam  ranah
psikomotorik), akan menghantar murid pada suatu pengetahuan-pemahaman  (dalam
ranah  kognitif),  serta  seiring  dengan  itu  menumbuhan  pula  sikap  dan  nilai  yang
relevan  (dalam  ranah  afektif).  “Seluruh  irama  gerak  atau  tindakan  dalam  proses
belajar-mengajar seperti ini akan menciptakan kondisi cara belajar siswa aktif. Inilah
sebenarnya  yang dimaksudkan dengan pendekatan proses”  (Conny Semiawan, dkk,
1985:  18)..    Pendekatan  proses  itu  akan  mengembangkan  kreativitas  murid,  yang
pada  gilirannya,  akan menjadi  landasan untuk pegembangan kepribadiannya  secara
keseluruhan.
          Terdapat beberapa manfaat yang dapat dicapai dengan menerapkan PKP dalam
pembelajaran di SD-MI (Funk, 1985; dari Moedjiono dan Moh. Dimyati, 1992/1993:
14)  sebagai berikut:
1.  Dengan  penerapan  PKP  dalam  pembelajaran,  murid  akan  memperoleh
pengertian yang tepat tentang hakekat ilmu pengetahuan;
2.  Dengan  penerapan  PKP  dalam  pembelajaran  berarti murid  bekerja  dengan
ilmu  pengetahuan,  tidak  sekadar  memperoleh  informasi  tentang  ilmu
pengetahuan itu.
3.   Dengan penerapan PKP dalam pembelajaran, murid  secara  serentak belajar
tentang proses dan produk ilmu pengetahuan.
Penerapan  PKP  dalam  pembelajaran  akan  menempatkan  murid  sebagai
„ilmuwan‟  dalam  menggeluti  ilmu  pengetahuan  itu,  dengan  kata  lain,  murid
berperan sebagai „produsen‟ bukan sekadar penerima ilmu pengetahuan itu.        

A.  Jenis-Jenis Ketrampilan Proses

             Terdapat  berbagai  ketrampilan  proses  yang  perlu  diterapkan  dalam
pembelajaran  yang  menggunakan  Pendekatan  Ketrampilan  Proses  itu    (Conny
Semiawan,  dkk,  1985:19-34;  Moedjiono  dan  Moh.  Dimyati,  1992/1993:  15-19)
sebagai berikut:

1. Observasi atau Pengamatan
         Sebagai  ketrampilan  ilmiah  yang  mendasar,  mengobservasi  atau  mengamati
adalah penggunaan semua alat  indra  (untuk melihat, mendengar, meraba, mencium,
dan atau mengecap) dengan seksama untuk memilah-milahkan sesuatu yang penting
dari yang kurang/tidak penting. Murid dalam kehidupannya sehari-hari pasti banyak
melihat  benda,  binatang,  tumbuhan,  dan  atau  orang  disekitarnya,  atau  mendengar
kicauan burung, bunyi klakson kendaraan,  dll, atau merasakan hembusan angin, dsb.
Tetapi  penglihatan,  pendengaran,  perabaan,  dll  itu  hanya  sepintas  dan  kurang
saksama,  sehingga  kegiatan  itu  bukan  observasi  atau  pengamatan.  Prasyarat  utama

dalam  observasi    adalah  pemusatan  perhatian,  ketelitian,  dan  kecermatan      dalam
melihat, mendengar, dsb sehingga dapat memilahkan yang penting dari yang lainnya.
Murid  seharusnya  dilatih  melalui  pembelajaran  untuk  melakukan  observasi  atau
pengamatan  dengan  cermat  dan  terarah,  dan  tidak  sekadar  melihat/mendengar
sesuatu itu sepintas lalu.
  
2. Penghitungan
           Menghitung  merupakan  ketrampilan  mendasar  yang  banyak  sekali
dipergunakan  para  ilmuwan  dalam  bekerja    Oleh  karena  itu,  menghitung  harus
dilatihkan    melalui  pembelajaran  di  SD-MI,  bukan  hanya  dalam  pembelajaran
matematika  tetapi  juga  pembelajaran  lainnya,  seperti    dalam  pembelajaran  ilmu
pengetahuan alam (menghitung jumlah daun, kaki belalang, dsb), pembelajaran ilmu
pengetahuan  social  (menghitung  jumlah anggota keluarga, penduduk  satu wilayah),
pembelajaran  Bahasa  Indonesia  (menghitung  jumlah  kata  dalam  setiap  kalimat,
jumlah  kalimat  dalam  satu  alinea,  dsb),  dan  lain-lain.  Hasil  perhitungan  itu  dapat
dilaporkan  dengan  membuat  tabel,  grafik,  dan  atau  histogram,  Tingkat  kesulitan
penghitungan  itu  harus  disesuaikan  dengan  tingkat  perkembangan  dan  kemampuan
murid, di kelas-kelas awal dengan penghitungan  sederhana, sedangkan untuk kelas-
kelas lanjut dengan penghitungan dan cara pelaporan yang lebih rumit.

3. Pengukuran
Ketrampilan  pengukuran  adalah  salah  satu  ketrampilan  penting  dan  banyak
dipergunakan  para  ilmuwan  dalam  pekerjaannya;  oleh  karena  itu,  ketrampilan
pengukuran  harus  menjadi  bagian  penting  dalam  pembelajaran  di  SD-MI.
Pengukuran  didasarkan  pada  perbandingan,  seperti membandingkan  panjang,  luas,
volume dari benda, membandingkan kecepatan, suhu, dsb. Melatih murid melakukan
berbagai pengukuran haruslah menjadi  .Bagian penting dalam pembelajaran di SD-
MI.  Pelatihan  pengukuran  itu  dilakukan  secara  bertahap,  pada  awalnya  hanya
membandingkan  panjang,  besar,  berat,  dll  terhadap  benda  di  sekitarnya,  kemudian
mulai diperkenalkan dengan ukuran  seperti meter, gram,  liter, dll yang disesuaikan
dengan tingkat perkembangan dan kemampuan murid.


4. Klasifikasi
 Ketrampilan  klasifikasi  atau  menggolong-golongkan    sesuau  merupakan
pekerjaan  rutin    seorang  ilmuwan,  dan  karena  itu  murid  SD-MI  sejak  dini  harus
diperkenalkan  dengan  ketrampilan  klasifikasi  ini.  Murid  harus  terlatih  melihat

persamaan dan perbedaan sesuatu sebagai dasar klasifikasi itu, baik berdasarkan ciri
khusus,  tujuan,  maupun  untuk  kepentingan  tertentu.  Melalui  pembelajaran,  murid
ditugaskan  melakukan    penggolongan  berbagai  benda  disekitarnya,  umpama
klasifikasi klereng berdasarkan warnanya, kancing baju berdasarkan besarnya, daun-
daunan  bedasarkan  bentuknya,  dsb.  Dengan  demikian,  murid  akan  terlatih
mengamati sesuatu secara cermat, mengenal persamaan dan perbedaan benda-benda
tersebut, serta mampu menggolong-golongkannya sesuai ciri-ciri khususnya masing-
masing. Di kelas awal, cara klasifikasi yang ditugaskan masih sederhana, dan makin
lanjut  kelas  dengan  kemampuan murid  yang  mulai  berkembang,    tugas  klasfikasi
makin  sulit,  baik  isi  tugasnya maupun  cara  pengolahan  hasil  klasifikasi  itu  dalam
pelaporan.

.5. Pengenalan Ruang dan Waktu serta Hubungan Keduanya                                            
   Ketrampilan  berkaitan  dengan  pengenalan  bentuk-bentuk  ruang  (lingkaran,
persegi  empat,  segi  tiga,  kubus,  silinder,  dll),  pengenalan  arah  (bawah,  atas,
belakang, depan, kiri, kanan, dll), pengenalan  waktu (menit, jam, sehari, seminggu,
sebulan dll) serta hubungan yang satu dengan lainnya (arah, jarak, dan waktu, seperti
lamanya  mengelilingi  suatu  lingkaran,  dll)  termasuk  ketrampilan  yang  sering
dipergunakan  ilmuwan    dalam  bekerja.  Oleh  karena  itu,  ketrampilan  ini  perlu
dilatihkan  kepada murid  SD-MI melalui  pembelajaran.,  seperti menetapkan  bentuk
suatu  ruang  atau  benda,    arah  suatu  gerakan,  lamanya  waktu  yang  dipakai  untuk
mengelilingi lapangan olah raga dengan berjalan kaki atau berlari, dsb.

6. Pembuatan Hipotesis
    Pembuatan  hipotesis  merupakan  ketrampilan  yang  sangat  penting  bagi
seorang  ilmuwan. Suatu hipotesis adalah suatu perkiraan  ilmiah  tentang pemecahan
suatu masalah,   penjelasan suatu keadaan, dll, yang   selanjutnya diuji kebenarannya
melalui penelitian, eksperimen, dsb. Murid SD-MI perlu memperoleh  latihan untuk
membuat  hipotesis  yang  kemudian  diuji  dengan  eksperimen  sederhana  melalui
berbagai  pembelajaran  di  sekolah.    Sebagai  contoh:  karena  setiap  pembakaran
memerlukan oksigen  yang ada diudara, maka  lilin yang menyala akan mati apabila
ditutup  rapat;    atau  lilin menyala  yang  penutupnya  kecil  akan  padam  lebih  dahulu
dari pada  lilin menyala yang penutupnya  lebih besar. Karena  tanaman memerlukan
air, maka  tanaman  yang  disiram  teratur  akan  lebih  subur  dari  pada  tanaman  yang
kurang/jarang disiram (dengan catatan: kedua  tanaman  itu ditempatkan pada  tempat
yang tidak kena hujan). Pembuatan dan pengujian hipotesis melalui eksperimen akan
menumbuhkan/mengembangkan  berbagai  ketrampilan  mendasar  seperti  yang diperlukan para  ilmuwan dalam bekerja,  tetapi  juga murid akan menemukan sendiri
pengetahuan-pemahaman  yang  ilmiah,  dan  serentak  dengan  itu,  akan
menumbuhkan/mengembangkan sikap ilmiah.

7. Perencanaan Penelitian/Eksperimen
    Eksperimen atau percobaan dapat dilakukan oleh siapa saja dalam kehidupan
sehari-hari,  tetapi  kebanyakan melakukannya  secara  trial  and  error  saja;  demikian
pula dengan  anak,  sering melakukan percobaan  trial and  error dengan mainannya,
dengan binatang peliharaannya, dan sebagainya.  Berbeda dengan kebanyakan orang,
para  ilmuwan    melakukan  eksperimen  dalam  rangka  penelitian  untuk  menguji
hipotesisnya.  Para  ilmuwan melakukan  penelitian/eksperimen  dilandasi  oleh  dasar
teoritis, serta dilakukan secara sistimatis dan terarah yang dipandu oleh hipotesisnya.
Oleh  karena  itu,  pembelajaran  di  SD-MI  seharusnya  meningkatkan  kemampuan
murid  yang  biasa melakukan  percobaan  secara  trial  and  error  saja menjadi  suatu
eksperimen  yang  dipandu  oleh  suatu  hipotesis  yang    dilandasi  dasar  teoritis,  dan
dilakukan  secara  sistimatis  dan  terarah.  Melalui  pembelajaran,  disamping
eksperimen,    murid  dibiasakan  pula  melakukan  berbagai  penelitian  sederhana,
seperti:  jumlah anak dari  setiap orang  tua murid di kelasnya,    tinggi badan  seluruh
murid di kelasnya, dsb. Dapat pula melakukan penelitian yang lebih rumit, umpama
hubungan  antara  tinggi  badan  dan  berat  seseorang,  hubungan  antara  tinggi  badan
dengan  nomor  sepatu  yang  dipakainya,  dsb.  Perlu  ditekankan  bahwa  setiap
penelitian/eksperimen  harus  didahului  oleh  perencanaan  yang  matang,  sehingga
penelitian/eksperimen  itu  dapat  berlangsung  seperti  yang  diinginkan.  Dengan
perencanaan  itu,  dapat  diketahui  jenis  dan  jumlah  alat  dan  bahan  yang  diperlukan,
faktor atau variabel yang harus diperhatikan/dikendalikan, prosedur kerja yang harus
ditempuh,  cara  mencatat,  mengolah,  dan  menginterpretasi  data  untuk  membuat
kesimpulan,  dsb.  Kesulitan  dan  kerumitan  penelitian/eksperimen  itu  disesuaikan
demgam tingkat perkembangan dan kemampuan murid.

8. Pengendalian Variabel
Pengendalian  variabel  atau  faktor  yang  berpengaruh  dalam
penelitian/eksperimen merupakan  salah  satu  ketrampilan mendasar  yang  dilakukan
para ilmuwan dalam melaksanakan penelitian/eksperimen itu. Pengendalian variabel
meliputi  baik  variabel  bebas  maupun  variabel  tergantung  (variabel  eksperimen).
Pengendalian  variabel,  baik  variabel  bebas  maupun  variabel  tergantung,  sangat
penting  dalam  setiap  eksperimen.      Dengan  demikian,  murid  perlu  segera
diperkenalkan dengan ketrampilan pengendalian variabel itu melalui pembelajaran di SD-MI.  Ketrampilan  pengendalian  variabel  dilatihkan  secara  langsung  sewaktu
murid  melakukan  eksperimen.  Sebagai  contoh  eksperimen  tentang  pentingnya
berbagai  jenis pupuk bagi  tanaman: variabel  tergantung  (variabel yang akan diteliti
adalah pupuk), sedang variabel bebas adalah semua hal yang terkait dengan tanaman,
kecuali  pupuk,  seperti:  bibit  tanaman,  tanah  tempat  menanam,  curah  hujan  atau
penyiraman,  sinar matahari, dsb. Dalam eksperimen, murid berlatih mengendalikan
variabel  bebas agar hal-hal itu sama untuk semua tanaman (baik tanaman percobaan
maupun  tanaman  lain  sebagai  pembanding),  demikian  juga  dengan  variabel
tergantung  (variabel  yang  akan dicobakan)  yakni penggunaan berbagai  jenis pupuk
pada  beberapa  tanaman  yang  berbeda  dan  yang  tidak  dipupuk.  Setelah  beberapa
minggu, keadaan tanaman yang dipupuk dengan pupuk yang berbeda dan yang tidak
dipupuk dibandingkan, sehingga akan dapat disimpulkan tentang (1) pengaruh pupuk
terhadap kesuburan  tanaman, dan  (2)  jenis pupuk yang  lebih menambah kesuburan
tanaman. Dengan  latihan  pengendalian  variabel  dalam  berbagai  eksperimen, murid
akan lebih menguasai ketrampilan pengendalian variabel itu

9. Interpretasi Data
 Ketrampilan  mengintrepretasi  atau  menafsirkan  data  adalah  salah  satu
ketrampilan kunci dalam keberhasilan ilmuwan dalam pekerjaannya. Data yang telah
dikumpulkan  dalam  penelitian/eksperimen  harus  dapat  diinterpretasi/ditafsirkan
dengan cara-cara  sesuai kaidah  ilmiah. Pembelajaran di SD-MI  seyogianya melatih
murid  untuk  menguasai  ketrampilan  interpretasi  data  ini.  Data  yang  telah
dikumpulkan  melalui  berbagai  kegiatan  seperti:  perhitungan,  pengukuran,
eksperimen, dan atau penelitian sederhana, diolah dan disajikan dalam berbagai cara
seperti: tabel, grafik, diagram, dan atau histogram, yang selanjutnya diinterpretasikan
dalam berbagai kesimpulan. Umpamanya, pengukuran  tinggi badan murid-murid di
kelas  sendiri   dan disajikan dalam bentuk  tabel dapat dibuat  tafsiran  seperti;  tinggi
badan  berada  dalam  rentangan  dari  terendah  ke  tertinggi,  ketinggian  berapa  yang
banyak  jumlah muridnya,  bahkan  dapat  dihitung  rata-rata  tinggi  badan murid  satu
kelas  itu,  dsb.  Dengan  pembelajaran  yang  memberi  peluang  untuk  berlatih
menginterpretasi data, murid akan terbiasa membuat kesimpulan yang sesuai dengan
kaidah ilmiah, dan bukannya kesimpulan yang direka-reka saja

gambar, model,  tabel,    grafik,    diagram,  dan  sebagainya  yang  akan memudahkan
orang lain untuk memahami apa yang dikomunikasikan itu. Ketrampilan komunikasi
ini  mutlak  dikuasai  oleh  para  ilmuwan,  agar  gagasan,  penemuan,  dan  sejenisnya
dapat  tersebar  luas  dan  diketahui  orang  lain.    Murid  di  SD-MI  perlu  dibiasakan
mengkomunikasikan gagasan,   hasil pengamatan, pengukuran, dan atau eksperimen,
dsb  sesuai  kaidah  komunikasi  ilmiah.  Dengan  bimbingan  guru,  murid  harus
melengkapi  laporannya  dengan  penyajian  data  yang  relevan  dengan  laporan  itu,
seperti  gambar,  tabel,  grafik,  dll.  Demikian  juga  laporan  hasil  kerja  tugas  dalam
Lembar Kerja Murid,  hasil diskusi atau kerja kelompok, serta kegiatan pembelajaran
lainnya yang menghasilkan  sesuatu yang perlu dikomunikasikan kepada pihak  lain.
Dengan  latihan  ini,  murid  secara  berangsur  akan  dapat  menguasai  ketrampilan
komunikasi ini, baik lisan maupun tertulis.
Demikianlah  berbagai  jenis  ketrampilan  proses  yang  selalu  dipakai  oleh  para
ilmuwan  untuk  menghasilkan  temuan-temuan  penting  yang  telah  mengabadikan
namanya dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan. Murid-murid SD-MI secara dini,
bertahap,  tetapi  berlanjut  harus  diberi  peluang  untuk mengusai  ketrampilan  proses
tersebut melalui pembelajaran di sekolah. Pengembangan ketrampilan proses secara
dini harus telah dimulai di kelas-kelas awal dengan memilih ketrampilan yang sesuai
dengan  perkembangan  dan  kemampuan  murid-murid  yang  bersangkutan,  seperti
ketrampilan mengobservasi, perhitungan, klasifikasi, komunikasi, dsb. Untuk kelas-
kelas  lanjut  harus    dilatihkan  berbagai  ketrampilan  proses  lainnya  yang  lebih  sulit
dan rumit; hal itulah yang dimaksudkan dengan latihan melalui pembelajaran secara
bertahap tetapi berlanjut. Pengembangan berbagai ketrampilan proses tersebut adalah
hasil  akumulasi  dari  diterapakannya PKP  itu melalui  berbagai  pembelajaran  dalam
berbagai bidang studi .

A.  Penerapan Ketrampilan Proses Dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Di SD-MI

            Setiap pembelajaran  selalu berlangsung dalam 3  (tiga)  tahapan utama  yakni
perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian. Kajian  tentang penerapan PKP itu dibatasi
hanya  pada  tahap  perencanaan  saja,  dengan  catatan:  Anda  dipersilahkan
mempraktekkannya bagi   yang berkesempatan dan mau melaksanakan pembelajaran
sesuai  dengan  gagasan  yang  dikaji  pada  tahap  perencanaan  ini.  Anda  dapat
mengadakan  penyesuaian situasional (penyesuaian sesuai dengan situasi dan kondisi
obyektif di  sekolah/kelas  tempat pelaksanaan pembelajaran  itu). Selanjutnya, kalau
pembelajaran  itu  sementara  dilaksanakan  dan  memerlukan  revisi  dari  rencana semula,  silahkan  mengadakan  penyesuaian  transaksional  (penyesuaian  karena
kebutuhan nyata sementara pembelajaran berlangsung).
           Penyusunan  rencana  pelaksanaan  pembelajaran  harus  didahului  dengan
beberapa  kegiatan  sebelum  mulai  merancang  pembelajaran  itu.  Kegiatan  sebelum
perancangan itu, antara lain diperlukan hal-hal berikut:
1.  Pemahaman yang tepat tentang kurikulum, utamanya silabi, yang menjadi acuan
dalam    pembelajaran    yang  akan  direncanakan  itu:  kaji  dengan  cermat
kompetensi,  indikator, pengalaman belajar, materi pokok, dll. Pilih pengalaman
belajar dan materi pokok  yang  cocok untuk penerapan PKP dalam pelaksanaan
pembelajaran itu.
2.  Pemahaman  yang  tepat  tentang  tingkat  perkembangan  dan  kemampuan  murid
yang  akan mengikuti  pembelajaran  itu,  utamanya  tentang  kemampuan  awalnya
(entering behavior);
3.  Fasilitas  pembelajaran  yang  tersedia/dapat  disediakan  dan  dapat  dipergunakan
dalam  pembalajaran:  sumber  belajar, media  pembelajaran,  alat  dan  bahan  yang
diperlukan;
Selanjutnya,  pilih  ketrampilan  proses  yang  sesuai  dengan  keperluan  pembelajaran
berdasarkan hasil kajian Butir 1, 2, dan 3 tersebut di atas. Setelah langkah persiapan
itu tuntas, mulailah merancang pembelajaran, dan setelah rancangan itu jelas barulah
mulai penyusunan/penulisan rencana pelaksanaan pembelajaran itu. .


 10.    Kesimpulan Sementara (Inferensi)                                                        
Ketrampilan  membuat  kesimpulan  sementara  atau  inferensi  sering
dipergunakan  para  ilmuwan  dalam  suatu  penelitian,  suatu  kesimpulan  yang masih
akan diuji selanjutnya untuk menjadi kesimpulan akhir. Murid dilatih untuk membuat kesimpulan sementara berdasarkan  informasi atau data yang dimilikinya pada suatu
waktu  tertentu,  yang masih  akan diuji kembali dengan diperolehnya  informasi/data
tambahan. Umpamanya:  guru menyebutkan  tiga  ciri  suatu  hewan  (seperti,  berkaki
empat,  lebih  besar  dari  kambing,  biasa  jadi  pacuan),  dan  Murid  menebaknya
(kuda)..Kesimpulan sementara itu diselidiki kebenarannya dengan mencari informasi
atau data tambahan, seperti tidak bertanduk, mudah dijinakkan, dsb..

11. Peramalan
Baik  ilmuwan maupun orang  awam biasa membuat peramalan. Perbedaannya
terletak pada dasar peramalan  itu. Peramalan orang awam biasanya didasarkan pada
pengalamannya,  seperti  kalau mendung  akan  terjadi  hujan,  kalau  panen  padi  gagal
akan  terjadi  harga  beras  naik,  dsb.  Peramalan  para  ilmuwan  biasanya  didasarkan
fakta  atau  data  yang  telah  dikumpulkannya  melalui  obervasi,  pengukuran,
eksperimen,  dll,  yang  memperlihatkan  suatu  kecenderungan  gejala  tertentu.
Pembelajaran  di  SD-MI  harus  memberi  peluang  kepada  murid  untuk    berlatih
membuat  peramalan  yang  didasarkan  pada  informasi  atau  data  yang  telah  tersedia.
Umpama  berdasarkan  catatan  curah  hujan  pada  bulan  tertentu  selama  2-5  tahun,
murid  dapat  membuat  peramalan  banyaknya    curah  hujan  bulan  ybs  tahun  ini.
Demikian  pula  dengan  informasi/data  lainnya  yang  teredia    dapat  dijadikan  dasar
untuk membuat peramalan.

12. Penerapan (Aplikasi)
Para  ilmuwan  pada  umumnya menguasai  ketrampilan  untuk mengaplikasikan
suatu konsep, prinsip, dan atau teori untuk memecahkan suatu masalah, menjelaskan
suatu  peristiwa  baru,  dsb.  Pembelajaran  di  SD-MI  seharusnya  melatih  muridnya
untuk menggunakan ketrampilan penerapan ini, baik dengan langsung melakukannya
maupun  dengan  menunjukkan  bukti  penerapan  itu  disekitarnya.  Beberapa  contoh
seperti  konsep yang menyatakan bahwa udara mempunyai tekanan dapat diterapkan
dengan memompa ban  sepeda agar dapat membawa beban yang  lebih berat,.bahwa
air mengalir  dari  tempat  tinggi  ketempat  rendah  diterapkan  dengan menempatkan
tempat  cadangan  air  diketinggian  agar  air  dapat mengalir  keseluruh  bagian  rumah
(untuk  cadangan  air di  rumah  tinggal)  atau keseluruh bagian kota  (untuk  cadangan
air Perusahaan Air Minum atau PDAM).
13. Komunikasi
Ketrampilan  komunikasi  selalu  diperguanakan  para  ilmuwa  untuk
menyampaikan gagasan, hasil penelitian, penemuan, dll kepada orang lain, baik lisan
maupun  tertulis,  yang  biasanya  dilengkapi  dengan  penyajian  data  dalam  bentuk

gambar, model,  tabel,    grafik,    diagram,  dan  sebagainya  yang  akan memudahkan
orang lain untuk memahami apa yang dikomunikasikan itu. Ketrampilan komunikasi
ini  mutlak  dikuasai  oleh  para  ilmuwan,  agar  gagasan,  penemuan,  dan  sejenisnya
dapat  tersebar  luas  dan  diketahui  orang  lain.    Murid  di  SD-MI  perlu  dibiasakan
mengkomunikasikan gagasan,   hasil pengamatan, pengukuran, dan atau eksperimen,
dsb  sesuai  kaidah  komunikasi  ilmiah.  Dengan  bimbingan  guru,  murid  harus
melengkapi  laporannya  dengan  penyajian  data  yang  relevan  dengan  laporan  itu,
seperti  gambar,  tabel,  grafik,  dll.  Demikian  juga  laporan  hasil  kerja  tugas  dalam
Lembar Kerja Murid,  hasil diskusi atau kerja kelompok, serta kegiatan pembelajaran
lainnya yang menghasilkan  sesuatu yang perlu dikomunikasikan kepada pihak  lain.
Dengan  latihan  ini,  murid  secara  berangsur  akan  dapat  menguasai  ketrampilan
komunikasi ini, baik lisan maupun tertulis.
Demikianlah  berbagai  jenis  ketrampilan  proses  yang  selalu  dipakai  oleh  para
ilmuwan  untuk  menghasilkan  temuan-temuan  penting  yang  telah  mengabadikan
namanya dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan. Murid-murid SD-MI secara dini,
bertahap,  tetapi  berlanjut  harus  diberi  peluang  untuk mengusai  ketrampilan  proses
tersebut melalui pembelajaran di sekolah. Pengembangan ketrampilan proses secara
dini harus telah dimulai di kelas-kelas awal dengan memilih ketrampilan yang sesuai
dengan  perkembangan  dan  kemampuan  murid-murid  yang  bersangkutan,  seperti
ketrampilan mengobservasi, perhitungan, klasifikasi, komunikasi, dsb. Untuk kelas-
kelas  lanjut  harus    dilatihkan  berbagai  ketrampilan  proses  lainnya  yang  lebih  sulit
dan rumit; hal itulah yang dimaksudkan dengan latihan melalui pembelajaran secara
bertahap tetapi berlanjut. Pengembangan berbagai ketrampilan proses tersebut adalah
hasil  akumulasi  dari  diterapakannya PKP  itu melalui  berbagai  pembelajaran  dalam
berbagai bidang studi .

A.  Penerapan Ketrampilan Proses Dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Di SD-MI

            Setiap pembelajaran  selalu berlangsung dalam 3  (tiga)  tahapan utama  yakni
perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian. Kajian  tentang penerapan PKP itu dibatasi
hanya  pada  tahap  perencanaan  saja,  dengan  catatan:  Anda  dipersilahkan
mempraktekkannya bagi   yang berkesempatan dan mau melaksanakan pembelajaran
sesuai  dengan  gagasan  yang  dikaji  pada  tahap  perencanaan  ini.  Anda  dapat
mengadakan  penyesuaian situasional (penyesuaian sesuai dengan situasi dan kondisi
obyektif di  sekolah/kelas  tempat pelaksanaan pembelajaran  itu). Selanjutnya, kalau
pembelajaran  itu  sementara  dilaksanakan  dan  memerlukan  revisi  dari  rencana

semula,  silahkan  mengadakan  penyesuaian  transaksional  (penyesuaian  karena
kebutuhan nyata sementara pembelajaran berlangsung).
           Penyusunan  rencana  pelaksanaan  pembelajaran  harus  didahului  dengan
beberapa  kegiatan  sebelum  mulai  merancang  pembelajaran  itu.  Kegiatan  sebelum
perancangan itu, antara lain diperlukan hal-hal berikut:
1.  Pemahaman yang tepat tentang kurikulum, utamanya silabi, yang menjadi acuan
dalam    pembelajaran    yang  akan  direncanakan  itu:  kaji  dengan  cermat
kompetensi,  indikator, pengalaman belajar, materi pokok, dll. Pilih pengalaman
belajar dan materi pokok  yang  cocok untuk penerapan PKP dalam pelaksanaan
pembelajaran itu.
2.  Pemahaman  yang  tepat  tentang  tingkat  perkembangan  dan  kemampuan  murid
yang  akan mengikuti  pembelajaran  itu,  utamanya  tentang  kemampuan  awalnya
(entering behavior);
3.  Fasilitas  pembelajaran  yang  tersedia/dapat  disediakan  dan  dapat  dipergunakan
dalam  pembalajaran:  sumber  belajar, media  pembelajaran,  alat  dan  bahan  yang
diperlukan;
Selanjutnya,  pilih  ketrampilan  proses  yang  sesuai  dengan  keperluan  pembelajaran
berdasarkan hasil kajian Butir 1, 2, dan 3 tersebut di atas. Setelah langkah persiapan
itu tuntas, mulailah merancang pembelajaran, dan setelah rancangan itu jelas barulah
mulai penyusunan/penulisan rencana pelaksanaan pembelajaran itu. .

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar