1. Metode Kerja Kelompok
a. Pengertian
Sagala (2006) mengatakan bahwa metode kerja kelompok adalah cara
pembelajaran dimana siswa dalam kelas dibagi dalam beberapa kelompok,
dimana setiap kelompok dipandang sebagai satu kesatuan tersendiri untuk mempelajari materi pelajaran yang telah ditetapkan untuk diselesaikan secara
bersama-sama.
Pada umumnya materi pelajaran yang harus dikerjakan secara bersama-sama
dalam kelompok itu diberikan atau disiapkan oleh guru. Materi itu harus
cukup kompleks isinya dan cukup luas ruang lingkupnya sehingga dapat
dibagi-bagi menjadi bagian yang cukup memadai bagi setiap kelompok.
Materi hendaknya membutuhkan bahan dan informasi dari berbagai sumber
untuk pemecahannya. Masalah yang bisa diselesaikan hanya dengan
membaca satu sumber saja tentu tidak cocok untuk ditangani melalui kerja
kelompok. Kelompok dapat dibentuk berdasarkan perbedaan individual
dalam kemampuan belajar, perbedaan bakat dan minat belajar, jenis kegiatan,
materi pelajaran, dan tujuan yang ingin dicapai. Berdasarkan tugas yang
harus diselesaikan, siswa dapat dibagi atas kelompok paralel yaitu setiap
kelompok menyelesaikan tugas yang sama, dan kelompok komplementer
dimana setiap kelompok berbeda-beda tugas yang harus diselesaikan.
b. Tujuan
Metode kerja kelompok yang digunakan dalam suatu strategi pembelajaran
bertujuan untuk :
1) memecahkan masalah pembelajaran melalui proses kelompok
2) mengembangkan kemampuan bekerjasama di dalam kelompok
c. Alasan Penggunaaan Metode Kerja Kelompok
Mengapa guru memilih kerja kelompok sebagai metode pembelajaran? Guru
menggunakan metode kerja kelompok dalam pembelajaran karena:
1) Kerja kelompok dapat mengembangkan perilaku gotong royong dan
demokratis.
2) Kerja kelompok dapat memacu siswa aktif belajar.
3) Kerja kelompok tidak membosankan siswa melakukan kegiatan belajar
diluar kelas bahkan diluar sekolah yang bervariasi, seperti observasi,
wawancara, cari buku di perpustakaan umum, dan sebagainya.
d. Kekuatan dan Keterbatasan Metode Kerja Kelompok
1) Kekuatan Metode Kerja Kelompok
a) membiasakan siswa bekerja sama, musyawarah dan bertanggung
jawab
b) menimbulkan kompetisi yang sehat antar kelompok, sehingga
membangkitkan kemauan belajar yang sungguh-sungguh. c) Guru dipermudah tugasnya karena tugas kerja kelompok cukup
disampaikan kepada para ketua kelompok.
d) Ketua kelompok dilatih menjadi pemimpin yang bertanggung jawab,
dan anggotanya dibiasakan patuh pada aturan yang ada.
2) Kelemahan Metode Kerja Kelompok
a) Sulit membentuk kelompok yang homogen baik segi minat, bakat,
prestasi maupun intelegensi.
b) Pemimpin kelompok sering sukar untuk memberikan pengertian
kepada anggota, menjelaskan, dan pembagian kerja
c) Anggota kadang-kadang tidak mematuhi tugas-tugas yang diberikan
pemimpin kelompok
d) Dalam menyelesaikan tugas, sering menyimpang dari rencana karena
kurang kontrol dari pemimpin kelompok atau guru.
e) Sulit membuat tugas yang sama sulit dan luasnya terutama bagi kerja
kelompok yang komplementer.
e. Cara Mengatasi Kelemahan Metode Kerja Kelompok
Bagaimana cara mengatasi kelemahan Metode Kerja Kelompok? Kelemahan
metode kerja kelompok dapat diatasi dengan:
1) Mengkaji lebih dulu materi pelajaran dengan cermat, lalu buat garis besar
rincian tugasnya untuk setiap kelompok agar bobot tugas tersebut sama
beratnya.
2) Adakan tes sosiometri dan hasilnya digunakan untuk pembentukan
kelompok yang mereka kehendaki.
3) Bimbingan dan pengawasan kepada setiap kelompok harus dilakukan
terus menerus.
4) Jumlah anggota dalam satu kelompok jangan terlalu banyak
5) Motivasi yang diberikan jangan sampai menimbulkan persaingan antar
kelompok yang kurang sehat.
f. Langkah-Langkah Pembelajaran dengan Metode Kerja Kelompok
1) Kegiatan Persiapan
a) Merumuskan tujuan pembelajaran yang akan dicapai
b) Menyiapkan materi pembelajaran dan menjabarkan materi tersebut
kedalam tugas-tugas kelompok.
c) Mengidentifikasi sumber-sumber yang akan menjadi sasaran kegiatan
kerja kelompok. d) Menyusun peraturan pembentukan kelompok, cara kerja, saat
memulai dan mengakhiri, dan tata tertib lainnya.
2) Kegiatan Pelaksanaan
a) Kegiatan Membuka Pelajaran
Melaksanakan apersepsi, yaitu pertanyaan tentang materi
pelajaran sebelumnya.
Memotivasi belajar dengan mengemukakan kasus yang ada
kaitannya dengan materi pelajaran yang akan diajarkan
Mengemukakan tujuan pelajaran dan berbagai kegiatan yang akan
dikerjakan dalam mencapai tujuan pelajaran itu.
b) Kegiatan Inti Pelajaran
Mengemukakan lingkup materi pelajaran yang akan dipelajari
Membentuk kelompok
Mengemukakan tugas setiap kelompok kepada ketua kelompok
atau langsung kepada semua siswa
Mengemukakan peraturan dan tata tertib serta saat memulai dan
mengakhiri kegiatan kerja kelompok.
Mengawasi, memonitor, dan bertindak sebagai fasilitator selama
siswa melakukan kerja kelompok.
Pertemuan klasikal untuk pelaporan hasil kerja kelompok,
pemberian balikan dari kelompok lain atau dari guru.
c) Kegiatan Mengakhiri Pelajaran
Meminta siswa merangkum isi pelajaran yang telah dikaji melalui
kerja kelompok.
Melakukan evaluasi hasil dan proses
Melaksanakan tindak lanjut baik berupa mengajari ulang materi
yang belum dikuasai siswa maupun memberi tugas pengayaan
bagi siswa yang telah menguasai materi tersebut.
2. Metode Karya Wisata
a. Pengertian
Sagala (2006) menyatakan bahwa karya wisata atau studi wisata sebagai
metode pembelajaran adalah siswa dibawah bimbingan guru mengunjungi
tempat-tempat tertentu dengan maksud untuk mempelajari obyek belajar yang
ada di tempat itu.
Lalu, apa perbedaannya dengan tamasya ? Tamasya berbeda dari karya wisata
dalam hal bahwa kepergian orang ke suatu tempat itu dengan maksud untuk
mencari hiburan.
b. Tujuan
Rusyan (dalam Sagala, 2006) menyatakan walaupun karya wisata banyak
unsur non akademisnya, tetapi tujuan pendidikan dapat pula tercapai terutama
mengenai wawasan dan pengalaman tentang dunia luar seperti tempat yang
memiliki situs bersejarah, musium, peternakan, atau pertanian (agro wisata),
dan sebagainya. Tetapi kalau karya wisata itu sengaja disiapkan sebagai
metode pembelajaran maka unsur akademiknya harus menonjol. Tujuan
pembelajaran harus dirumuskan secara jelas, materi pembelajaran yang akan
dipelajari harus ditulis berupa tugas yang harus diperoleh melalui observasi
atau wawancara dengan nara sumber yang ada ditempat wisata itu, dan ketika
akan kembali atau setelah sampai di sekolah guru harus mengevaluasi hasil
belajar yang baru mereka kerjakan melalui karya wisata itu. Dengan demikian
tujuan karya wisata sebagai metode pembelajaran adalah untuk :
1) Mengkaji materi pembelajaran tertentu sebagaimana direncanakan dalam
kurikulum/silabus. Misalnya untuk mempelajari cara berternak sapi perah
dan pengelolahan susunya, maka siswa diajak berkarya wisata ke
peternakan sapi perah.
2) Melengkapi materi pelajaran yang tertulis di buku sehingga pemahaman
siswa menjadi lebih jelas dan konkrit.
3) Memupuk rasa cinta lingkungan, daerah, tanah air, dan penghargaan
terhadap pahlawan serta pemimpin yang berjasa dimasa silam.
c. Alasan Menggunakan Metode Karya Wisata
1) Memvariasikan penggunaan metode pembelajaran agar siswa termotivasi
belajar.
2) Dengan karya wisata siswa berkembang rasa kebersamaanya, tanggung
jawabnya, kerjasamanya, dan toleransinya. 3) Penguasaan materi yang dipelajari secara langsung melalui karya wisata
akan lebih cepat dikuasai dan lama diingat.
4) Karena keunggulan dan tujuan karya wisata sebagai metode pembelajaran
sebagaimana dikemukakan dalam naskah ini.
d. Keunggulan dan Kelemahan Metode Karya Wisata
1) Keunggulan
Apa saja keunggulan metode karya wisata ?
Metode karya wisata mempunyai keunggulan sebagai berikut :
a) Siswa dapat belajar langsung di lapangan sehingga pengetahuan yang
diperoleh nyata, hidup, bermakna, dan komperhensif.
b) Siswa dapat menemukan sendiri jawaban dari masalah atau
pertanyaan tentang materi yang dipelajari dengan melihat, mendengar,
mencoba dan membuktikan sendiri secara langsung.
c) Motivasi dan minat belajar siswa tinggi. Siswa senang belajar melalui
karya wisata.
d) Guru diperingan tugasnya dalam menyampaikan materi pelajaran,
karena materi disampaikan oleh nara sumber atau observasi langsung
oleh siswa sendiri.
e) Siswa aktif belajar melalui observasi, wawancara, percobaan,
menggolong-golongkan, dan sebagainya.
2) Kelemahan
Apakah ada kelemahan metode karya wisata ?
Ada beberapa kelemahan metode karya wisata, antara lain :
a. Memerlukan persiapan yang melibatkan banyak pihak.
b. Memerlukan waktu yang cukup lama, apalagi kalau dilaksanakan
terlalu sering dan jauh dari sekolah, sehingga dapat mengganggu
jadwal pelajaran.
c. Memerlukan biaya yang relatif tinggi.
d. Memerlukan pengawasan yang ketat agar siswa fokus kepada
tugasnya.
e. Laporan hasil karya wisata biasanya diserahkan tidak tepat waktu.
e. Cara Mengatasi Kelemahan Metode Karya Wisata
Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi kelemahan metode
karya wisata antara lain :
1) Rumuskan tujuan secara jelas dan konkrit. 2) Tentukan secara jelas tugas-tugas yang harus dilakukan sewaktu karya
wisata dan sesudah karya wisata.
3) Bentuk panitia pelaksanaan karya wisata yang bertugas menyiapkan
semua hal yang berkaitan dengan pelaksanaan karya wisata.
4) Pilih waktu libur untuk pelaksanaan karya wisata.
5) Rencanakan pembiayaan jauh sebelum karya wisata itu dilaksanakan. Bila
mungkin masukkan rencana pembiayaan itu dalam DUK (Daftar Usulan
Kegiatan) anggaran sekolah.
6) Buat tata tertib pelaksanaan karya wisata secara jelas dan
dikomunikasikan secepatnya kepada siswa.
f. Langkah-langkah Pelaksanaan Metode Karya Wisata dalam
Pembelajaran
1) Kegiatan Persiapan
a) Merumuskan tujuan pembelajaran
b) Menyiapkan materi pelajaran yang sesuai silabus/kurikulum yang ada
c) Melakukan studi awal ke lokasi sasaran karya wisata
d) Menyiapkan skenario pelaksanaan karya wisata
e) Menyiapkan tata tertib pelaksanaan karya wisata
2) Kegiatan Pelaksanaan Karya Wisata
a) Kegiatan Pembukaan
Kegiatan pembukaan ini dilaksanakan di sekolah sebelum berangkat
ke lokasi karya wisata, atau dapat pula dilaksanakan di lokasi karya
wisata sebelum turun ke lapangan. Kegiatan pembukaan ini meliputi :
Mengingatkan kembali pelajaran yang pernah diberikan melalui
pertanyaan apersepsi.
Memotivasi siswa dengan membuat kaitan materi pelajaran yang
akan dipelajari dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi di
masyarakat atau melalui pertanyaan-pertanyaan.
Mengemukakan tujuan pelajaran yang akan dipelajari dan
kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan
pelajaran tersebut selama karya wisata.
Mengemukakan tata tertib selama karya wisata.
b) Kegiatan Inti
Kegiatan inti pelajaran ini dilakukan selama karya wisata : Melakukan observasi terhadap obyek sasaran belajar, lalu
mendiskripsikannya dalam bentuk kalimat, mengambil
gambarnya, dan sebagainya.
Mewawancarai nara sumber dan mencatat informasi yang
disampaikan secara lisan oleh nara sumber.
Mengumpulkan leaflet atau booklet yang ada.
Sesuai dengan skenario yang disiapkan guru, dapat
diselenggarakan seminar atau dikusi dengan nara sumber,
penguasa/pejabat yang relevan.
c) Kegiatan Penutup
Kegiatan mengahiri karya wisata ini dapat dilakukan ketika
masihberada di lokasi wisata atau setelah kembali ke sekolah,
kegiatannya meliputi :
Menyuruh siswa melaporkan hasil karya wisata dan membuat
rangkuman.
Melakukan evaluasi proses dan hasil karya wisata.
Melakukan tindak lanjut berupa tugas yang sifatnya memperkaya
hasil karya wisata. 3. Metode Penemuan (Discovery)
a. Pengantar
Apa yang dimaksud dengan metode penemuan (discovery) ? Sebelum
menjawab pertanyaan tersebut perlu dipahami dengan jelas istilah yang saling
dipertukarkan. Penemuan (discovery) sering dipertukarkan pemakaiannya
dengan penyelidikan (inquiry).
Sund (dalam Kartawisastra, 1980) berpendapat bahwa penemuan adalah
proses mental dimana siswa mengasimilasikan suatu konsep atau prinsip.
Sedangkan inquiry (inkuiri) menurut Sund meliputi juga penemuan. Dengan
kata lain, inkuiri adalah perluasan proses penemuan yang digunakan lebih
mendalam. Artinya proses inkuiri mengandung proses mental yang lebih tinggi tingkatannya, misalnya : merumuskan masalah, merancang
eksperimen, melakukan eksperimen, mengumpulkan data, menganalisis data,
menarik kesimpulan, dan sebagainya. Akhirnya Sund berpendapat bahwa
penggunaan metode penemuan baik untuk siswa kelas rendah, sedangkan
inkuiri baik untuk kelas tinggi.
Dengan demikian penemuan diartikan sebagai prosedur pembelajaran yang
mementingkan pembelajaran perseorangan, manipulasi obyek, melakukan
percobaan, sebelum sampai kepada generalisasi. Metode penemuan
mengutamakan cara belajar siswa aktif (CBSA), berorientasi pada proses,
mengarahkan sendiri, mencari sendiri, dan reflektif.
b. Tujuan
Apa tujuan penggunaan metode penemuan ? Tujuan penggunaan metode
penemuan antara lain :
1) Untuk memperoleh metode pembelajaran yang sesuai dengan materi dan
tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
2) Untuk mengatifkan siswa belajar (CBSA) sesuai dengan materi dan
tujuan pembelajaran.
3) Untuk memvariasikan metode pembelajaran yang digunakan agar siswa
tidak bosan.
4) Agar siswa dapat menemukan sendiri, menyelidiki sendiri, dan
memecahkan sendiri masalah yang dipelajari, sehingga hasilnya setia dan
tahan lama dalam ingatan, dan tidak mudah dilupakan.
c. Alasan Digunakan Metode Penemuan
Mengapa guru memilih metode penemuan dalam pembelajarannya ? Guru
menggunakan metode penemuan karena metode penemuan itu :
1) Memungkinkan untuk mengembangkan cara belajar siswa aktif.
2) Pengetahuan yang ditemukan sendiri melalui metode penemuan akan
betul-betul dikuasai, dan mudah digunakan / ditransfer dalam situasi lain.
3) Siswa dapat menguasai salah satu metode ilmiah yang sangat berguna
dalam kehidupannya.
4) Siswa dibiasakan berpikir analitis dan mencoba memecahkan masalah
yang akan ditransfer dalam kehidupan masyarakat.
d. Kebaikan dan Kelemahan Metode Penemuan
1) Kebaikan Metode Penemuan
a) Siswa belajar bagaimana belajar melalui proses penemuan.
b) Pengetahuan yang diperoleh melalui penemuan sangat kokoh. c) Metode penemuan membangkitkan gairah siswa dalam belajar.
d) Metode penemuan memungkinkan siswa bergerak untuk maju sesuai
dengan kemampuannya sendiri.
e) Metode ini menyebabkan siswa mengarahkan sendiri cara belajarnya
sehingga ia merasa lebih terlibat dan termotivasi sendiri untuk belajar.
f) Metode ini berpusat pada anak, dan guru sebagai teman belajar atau
fasilitator.
2) Kelemahan Metode Penemuan
Apa kelemahan metode penemuan ? Kelemahan metode penemuan antara
lain :
a) Metode ini mempersyaratkan kesiapan mental, dalam arti siswa yang
pandai akan memonopoli penemuan dan siswa yang bodoh akan
frustrasi.
b) Metode ini kurang berhasil untuk kelas besar karena habis waktu guru
untuk membantu siswa dalam kegiatan penemuannya.
c) Dalam pelajaran tertentu (misalnya IPA) fasilitas yang dibutuhkan
untuk mencoba ide-ide mungkin terbatas.
d) Metode ini terlalu mementingkan untuk memperoleh pengertian,
sebaliknya kurang memperhatikan diperolehnya sikap dan
keterampilan.
e) Metode ini kurang memberi kesempatan untuk berpikir kreatif kalau
pengertian-pengertian yang akan ditemukan telah diseleksi oleh guru,
begitu pula proses-prosesnya dibawah pembinaannya.
e. Cara mengatasi Kelemahan Metode Penemuan
1) Bentuklah kelompok-kelompok kecil, yang anggotanya terdiri dari siswa
pandai dan siswa kurang pandai, agar siswa yang pandai bisa
membimbing siswa yang kurang pandai. Dengan cara ini pula kelemahan
kelas besar dalam penggunaan metode ini dapat diatasi.
2) Metode penemuan untuk IPA dapat pula dilakukan di luar kelas sehingga
tidak memerlukan fasilitas atau bahan yang umumnya mahal.
3) Mulailah dengan penemuan terbimbing, kemudian jika siswa sudah
terbiasa dengan metode ini maka gunakanlah metode penemuan bebas,
agar siswa benar-benar dapat berkembang berpikir kreatifnya.
f. Langkah-langkah Pelaksanaan Metode Penemuan
Jika guru menggunakan metode penemuan, apa saja langkah-langkah
pelaksanaannya ? Langkah-langkah pelaksanaan metode penemuan itu
adalah:
1) Kegiatan Persiapan
a) Mengidentifikasi kebutuhan bekajar siswa (need assessment).
b) Merumuskan tujuan pembelajaran.
c) Menyiapkan problem (materi pelajaran) yang akan dipecahkan.
Problem itu dinyatakan dalam bentuk pernyataan atau pertanyaan.
Problem tentang konsep atau prinsip yang akan ditemukan itu perlu
ditulis dengan jelas.
d) Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan.
2) Kegiatan Pelaksanaan Penemuan
a) Kegiatan Pembukaan
Melakukan apersepsi, yaitu mengajukan pertanyaan mengenai
materi pelajaran yang telah diajarkan.
Memotivasi siswa dengan cerita pendek yang ada kaitannya
dengan materi yang diajarkan.
Mengemukakan tujuan pembelajaran dan kegiatan/tugas yang
dilakukan untuk mencapai tujuan pembelajaran itu.
b) Kegiatan Inti
Mengemukakan problema yang akan dicari jawabannya melalui
kegiatan penemuan.
Diskusi pengarahan tentang cara pelaksanaan
penemuan/pemecahan problema yang telah ditetapkan.
Pelaksanaan penemuan berupa kegiatan penyelidikan/percobaan
untuk menemukan konsep atau prinsip yang telah ditetapkan.
Membantu siswa dengan informasi atau data, jika diperlukan
siswa.
Membantu siswa melakukan analisis data hasil temuan, jika
diperlukan.
Merangsang terjadinya interaksi antar siswa dengan siswa.
Memuji siswa yang giat dalam melaksanakan penemuan.
Memberi kesempatan siswa melaporkan hasil penemuannya.
c) Kegiatan Penutup
Meminta siswa membuat rangkuman hasil-hasil penemuannya. Melakukan evaluasi hasil dan proses penemuan.
Melakukan tindak lanjut, yaitu meminta siswa melakukan
penemuan ulang jika ia belum menguasai materi, dan meminta
siswa mengerjakan tugas pengayaan bagi siswa yang telah
melakukan penemuan dengan baik.
Jumat, 11 Februari 2011
Metode Pembelajaran Diskusi, Simulasi dan Pemberian Tugas
1. Metode Diskusi
a. Pengertian
Sanjaya (2006), dan Sumantri dan Permana (1998/1999) menyatakan bahwa
metode diskusi diartikan sebagai siasat untuk menyampaikan bahan pelajaran
yang melibatkan siswa secara aktif untuk membicarakan dan menemukan
alternatif pemecahan suatu topik bahasan yang bersifat problematis. Dalam
percakapan itu para pembicara tidak boleh menyimpang dari pokok
pembicaraan yaitu masalah yang ingin dicarikan alternatif pemecahannya.
Dalam diskusi ini guru berperan sebagai pemimpin diskusi, atau guru dapat
mendelegasikan tugas sebagai pemimpin itu kepada siswa, walaupun
demikian guru masih harus mengawasi pelaksanaan diskusi yang dipimpin
oleh siswa itu. Pendelegasian itu terjadi kalau siswa dalam kelas dibagi
menjadi beberapa kelompok diskusi. Pemimpin Diskusi harus mengorganisir
kelompok yang dipimpinnya agar setiap anggota diskusi dapat berpartisipasi
secara aktif.
b. Tujuan
1) Memecahkan materi pembelajaran yang berupa masalah atau problematik
yang sukar dilakukan oleh siswa secara perorangan.
2) Mengembangkan keberanian siswa mengemukakan pendapat.
3) Mengembangkan sikap toleran terhadap pendapat yang berbeda.
4) Melatih siswa mengembangkan sikap demokratis, keterampilan
berkomunikasi, mengeluarkan pendapat, menafsirkan dan menyimpulkan
pendapat.
5) Melatih dan membentuk kestabilan sosial-emosional.
c. Alasan Penggunaan Metode Diskusi
Mengapa guru memilih menggunakan metode diskusi ? Sumantri dan
Permana (1998/1999) mengemukakan alasan dipilihnya metode diskusi :
1) Topik bahasan bersifat problematis.
2) Merangsang peserta didik untuk terlibat secara aktif dalam perdebatan
ilmiah.
3) Melatih peserta didik untuk berpikir kritis dan terbuka.
4) Mengembangkan suasana demokratis dan melatih peserta didik berjiwa
besar.
5) Peserta didik memiliki pAndangan yang berbeda-beda tentang masalah
yang dijadikan topik diskusi. 6) Peserta didik memiliki pengetahuan dan pendapat-pendapat tentang
masalah yang akan didiskusikan.
7) Masalah yang didiskusikan akan berhubungan dengan persoalan-
persoalan yang lain pula.
d. Kelebihan dan Kelemahan Metode Diskusi
1) Kelebihan Metode Diskusi
Apa saja keunggulan Metode Diskusi? Beberapa keunggulan metode
diskusi untuk pembelajaran adalah:
a) Siswa dapat menguasai materi pelajaran secara bersama-sama.
b) Merangsang siswa untuk lebih kreatif menyumbangkan gagasan dan
ide-ide.
c) Melatih siswa membiasakan diri bertukar pikiran dalam mengatasi
setiap permasalahan.
d) Melatih siswa mengemukakan pendapat dan menghargai pendapat
orang lain.
e) Menyajikan materi yang tidak bisa disajikan oleh metode lain.
2) Kelemahan Metode Diskusi
Sebaliknya, apa saja kelemahan Metode Diskusi ? Beberapa kelemahan
metode diskusi untuk pembelajaran di sekolah adalah :
a) Sering diskusi dikuasai oleh dua atau tiga orang siswa yang pandai
bicara.
b) Pembahasan dalam diskusi cenderung meluas, sehingga hasilnya
kabur.
c) Diskusi memerlukan waktu yang cukup panjang, sehingga tidak
sesuai dengan jadwal pelajaran yang ada.
d) Dalam diskusi sering terjadi perbedaan pendapat yang bersifat
emosional sehingga menimbulkan ketersinggungan antar siswa yang
menyebabkan terganggunya iklim pembelajaran.
e) Kadang-kadang guru tidak menguasai cara menyelenggarakan diskusi
sehingga diskusi cenderung menjadi tanya jawab.
e. Cara Mengatasi Kelemahan Diskusi
Apa yang harus dilakukan untuk mengatasi kelemahan diskusi? Ada
beberapa cara untuk mengatasi kelemahan metode diskusi antara lain:
1) Masalah yang didiskusikan harus cukup sulit dan menarik perhatian siswa
karena berkaitan dengan kehidupan mereka. 2) Guru harus menempatkan dirinya sebagai pemimpin diskusi. Ia harus
membagi-bagi pertanyaan dan memberi petunjuk tentang jalannya
diskusi.
3) Tempat duduk harus diatur melingkar atau berbentuk tapal kuda supaya
peserta diskusi dapat saling berhadapan sehingga terjadi komunikasi yang
lancar.
4) Setiap siswa peserta diskusi harus memahami masalah yang harus
didiskusikan, untuk itu guru sebagai pemimpin diskusi harus terlebih
dahulu menjelaskan masalah yang akan didiskusikan dan garis besar arah
dan tujuan yang ingin dicapai.
f. Langkah-langkah Pelaksanaan Metode Diskusi
Apa saja langkah-langkah pelaksanaan metode diskusi ? Langkah-langkah
pelaksanaan metode diskusi meliputi hal-hal berikut :
1) Kegiatan Persiapan
Merumuskan tujuan yang ingin dicapai dalam diskusi
Mengidentifikasi masalah yang cukup sulit yang berupa problematik
sehingga memerlukan diskusi untuk memecahkannya.
Memilih jenis diskusi yang cocok apakah itu diskusi kelas, diskusi
kelompok kecil, simposium, atau diskusi panel tergantung pada tujuan
yang ingin dicapai misalnya: apabila tujuan diskusi suatu persoalan,
maka dipilih jenis diskusi kelompok kecil, sedang jika tujuannya
untuk mengembangkan gagasan siswa maka simposium dianggao
sebagai jenis diskusi yang tepat.
2) Kegiatan Pelaksanaan Metode Diskusi
a) Kegiatan Pembukaan
Guru menanyakan materi pelajaran yang pernah diajarkan
(apersepsi).
Guru mengemukakan permasalahan yang ada di masyarakat yang
ada kaitannya dengan masalah yang akan didiskusikan.
Guru mengemukakan tujuan diskusi serta tata cara yang harus
diperhatikan dalam diskusi.
b) Kegiatan Inti Pembelajaran
Guru mengemukakan materi pelajaran yang berupa problematik
yang akan didiskusikan, dan menjelaskan secara garis besar
hakekat permasalahan tersebut. Guru berusaha memusatkan perhatian peserta diskusi dengan cara
antara lain : mengingatkan arah diskusi yang sebenarnya,
mengakui kebenaran gagasan siswa dengan menggalang bagian
penting yang telah diucapkan siswa, merangkum hasil
pembicaraan pada tahap tertentu sebelum berpindah pada masalah
berikutnya.
Memperjelas uraian pendapat siswa karena ide yang disampaikan
kurang jelas sehingga sukar dimengerti oleh anggota diskusi.
Menganalisis pAndangan siswa karena terjadi perbedaan pendapat
antar anggota diskusi dengan jalan meneliti apakah alasan siswa
tersebut mempunyai dasar yang kuat, memperjelas hal-hal yang
disepakati dan yang tidak disepakati.
Meningkatkan uraian pendapat siswa dengan jalan mengajukan
pertanyaan kunci yang menantang siswa untuk berpikir, memberi
waktu untuk berpikir, memberi komentar positif terhadap
pendapat siswa, mendengarkan dengan penuh perhatian, dan sikap
yang bersahabat.
Menyebarkan kesempatan berpartisipasi agar pembicaraan tidak
didominasi oleh beberapa orang siswa yang enggan berpartisipasi,
memberi giliran pada siswa yang pendiam, meminta siswa
mengomentari pendapat temannya, dan menengahi pendapat yang
saling sama kuat.
c) Kegiatan Penutup
Kegiatan ini meliputi :
Meminta siswa atau wakil kelompok melaporkan hasil diskusi
Meminta siswa lain atau kelompok lain mengomentari dan
melengkapi rumusan hasil diskusi.
Melakukan evaluasi hasil belajar dan evaluasi proses diskusi.
Memberi tugas untuk memperdalam hasil diskusi.
2. Metode Simulasi
a. Pengertian
Apa yang dimaksud dengan metode simulasi dalam pembelajaran disekolah ?
Abimanyu dan Purwant (1980), Sumantri dan Permana (l998/l999)
menyatakan bahwa metode pembelajaran digunakan untuk menirukan
keadaan sebenarnya kedalam situasi buatan, misalnya seorang guru
mensimulasikan bagaimana cara melompat tinggi dengan gaya panggung atau
bagaimana seorang penatar P4 mensimulasikan kehidupan masyarakat
Pancasila, dimana setiap peserta penataran ada yang berperan sebagai
lurah/RW/RT dan anggota masyarakat yang kesemuanya berperan secara
sungguh-sungguh seperti yang dialami dalam kehidupan sosial di kelurahan
itu.
Dengan demikian simulasi adalah suatu usaha pembelajaran untuk
memperoleh pemahaman akan hakekat suatu konsep atau prinsip, atau
sesuatu keterampilan tertentu melalui proses kegiatan atau latihan dalam
situasi tiruan. Melalui simulasi itu siswa akan mampu menghadapi kenyataan
yang mungkin terjadi secara lebih efektif dan efisien.
b. Tujuan
Tujuan digunakan metode simulasi baik langsung, maupun tidak langsung
adalah sebagai berikut :
1) Tujuan langsung
a) Untuk melatih keterampilan tertentu baik yang bersifat profesional
maupun kehidupan sehari-hari.
b) Untuk memperoleh pemahaman tentang konsep atau prinsip.
c) Untuk latihan memecahkan masalah.
2) Tujuan tidak langsung
a) Untuk meningkatkan aktifitas belajar dengan melibatkan siswa dalam
mempelajari situasi yang hampir sama dengan kejadian sebenarnya.
b) Untuk meningkatkan motivasi belajar, karena simulasi sangat menarik
dan menyenangkan siswa.
c) Melatih siswa bekerja sama dalam kelompok.
d) Mengembangkan daya kreatif siswa.
e) Melatih siswa untuk memahami dan menghargai pendapat orang lain.
c. Alasan Penggunaan Metode Simulasi
Mengapa metode simulasi diperlukan dalam interaksi pembelajaran di
sekolah ? Ada beberapa alasan tentang digunakannya metode simulasi dalam
pembelajaran :
1) Simulasi dapat menunjang pelaksanaan dalam melatih keterampilan
dasar mengajar yang sangat diperlukan bagi terbentuknya guru-guru yang
profesional.
2) Simulasi merupakan salah satu metode yang memungkinkan siswa aktif
belajar menghayati, memahami dan memperoleh keterampilan tertentu
tanpa memerlukan obyek atau situasi yang sebenarnya yang umumnya
susah didapatkan.
3) Metode simulasi memungkinkan terpadunya teori dan praktek, konten dan
metode, sebab dengan simulasi teori atau konten yang baru diajarkan
dapat segera dipraktekkan, sehingga konsep yang diperoleh dan
keterampilan yang dimiliki menjadi sangat kuat tertanam dalam diri
siswa.
4) Melalui metode simulasi memungkinkan siswa belajar dengan
pemahaman bukan belajar secara mekanis.
5) Dengan metode simulasi dimungkinkan pelibatan alat-alat indra siswa
secara optimal, sehingga pencapaian tujuan pelajaran akan lebih efektif
dan bermakna.
d. Kekuatan dan Kelemahan Metode Simulasi
1) Kekuatan Metode Simulasi
Apa saja kekuatan metode simulasi ?
Ada beberapa keuntungan digunakannya metode simulasi dalam
pembelajaran. Keuntungan-keuntungan itu antara lain :
a) Menciptakan kegairahan siswa untuk belajar.
b) Mengembangkan daya cipta siswa.
c) Siswa dapat menguasai keterampilan atau konsep-konsep tertentu
melalui simulasi.
d) Mengembangkan rasa percaya diri dan perasaan positif.
e) Melalui simulasi kegiatan pembelajaran dapat berlangsung walaupun
tidak dalam situasi dan obyek yang sebenarnya.
f) Melalui simulasi siswa dibantu memahami hal-hal yang asbtrak
melalui kegiatan nyata, walaupun dalam bentuk tiruan.
2) Kelemahan Metode Simulasi
Apa saja kelemahan metode simulasi ?
Kelemahan metode simulasi adalah : a) Pengetahuan dan keterampilan yang disimulasikan tidak selalu
sepenuhnya sama dengan kenyataan di lapangan.
b) Simulasi memerlukan kreatifitas yang tinggi dari guru dan siswa
yang kadang-kadang sukar dipenuhi.
c) Perlu pemahaman siswa tentang materi dan peranannya serta fasilitas
pendukung yang tidak selalu mudah terpenuhi.
d) Simulasi sebagai metode pembelajaran dapat melenceng tujnya
menjadi alat hiburan.
e) Rasa malu, ragu-ragu dan tidak menguasai materi akan menyebabkan
simulasi tidak mencapai tujuan.
f) Sering guru tidak melakukan diskusi balikan setelah selesai
pelaksanaan simulasi, sehingga kurang bermanfaat bagi siswa lainnya.
e. Cara Mengatasi Kelemahan Metode Simulasi
Apa yang dapat dilakukan untuk mengatasi kelemahan metode simulasi ?
Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi kelemahan metode
simulasi adalah :
1) Perlu pengkajian yang cermat tentang pengetahuan dan keterampilan
yang akan disimulasikan agar sesuai dengan kenyataan di lapangan.
2) Guru perlu menyiapkan materi dan skenario simulasi sebelum simulasi
dilaksanakan.
3) Guru perlu menjelaskan kepada siswa bahwa simulasi ini adalah latihan
keterampilan tertentu bukan suatu hiburan karena itu siswa lain yang
tidak terlibat dalam simulasi harus menyimak dengan baik karena dalam
tahap evaluasi mereka akan ditanya pengetahuan dan keterampilan yag
disimulasikan itu.
4) Setelah simulasi berakhir harus dilakukan diskusi balikan yang
melibatkan semua siswa agar siswa yang tidak melakukan simulasi ikut
memahami hasil simulasi itu.
5) Siswa yang akan memegang peranan dalam simulasi perlu latihan yang
memadai sebelum melakukan simulasi agar tidak terjadi keragu-raguan,
rasa malu dan tidak menguasai materi.
f. Langkah-langkah Pelaksanaan Metode Simulasi
Jika Anda akan melakukan pembelajaran dengan menggunakan metode
simulasi, apa saja langkah-langkah yang harus Anda lakukan ?
Langkah-langkah pembelajaran dengan metode simulasi meliputi :
1) Kegiatan Persiapan
Kegiatan persiapan yang perlu dilakukan oleh guru adalah :
a) Merumuskan tujuan pembelajaran yang akan dicapai oleh siswa.
b) Memilih materi dan topik yang akan disimulasikan.
c) Menyiapkan garis besar skenario pelaksanaan simulasi.
d) Guru memberi penjelasan kepada siswa tentang garis besar materi,
tujuan dan situasi yang akan disimulasikan.
e) Guru mengorganisasikan pembentukan kelompok, peranan-peranan
yang akan ada, pengaturan ruangan, pengaturan materi, pengaturan
alat yang akan digunakan dan sebagainya.
f) Menawarkan kepada siswa tentang siapa yang akan memegang peran
dalam simulasi.
g) Guru memberi penjelasan kepada siswa dan para pemegang peran
tentang hal-hal yang harus dilakukan.
h) Guru memberi kesempatan bertanya.
i) Guru memberi kesempatan pada tiap kelompok dan para pemegang
peran untuk menyiapkan diri.
j) Guru menetapkan alokasi waktu yang diperlukan untuk pelaksanaan
simulasi.
2) Kegiatan Pelaksanaan
a) Kegiatan Pembukaan
Menanyakan materi pelajaran yang lalu.
Membuat cerita anecdote yang ada kaitannya dengan pelajaran
yang akan diajarkan
Menyampaikan acuan, yaitu tujuan pelajaran yang akan dilakukan
dengan simulasi.
b) Kegiatan Inti
Setelah segala sesuatunya siap, maka simulasi dimulai
Siswa yang tidak memainkan peran akan bertindak selaku
pengamat/observer. Mereka dibekali panduan observasi untuk
merekam peranan yang dimainkan oleh para pelaku simulasi.
Para pemegang peran melakukan simulasi sesuai dengan skenario
atau pedoman umum yang telah dibuat oleh guru atau yang telah
disiapkan oleh para pemegang peran.
Guru membantu mensupervisi, dan memberi sugesti demi
kelancaran pelaksanaan simulasi. Memberi kesempatan pada para pengamat untuk menyampaikan
kritik, dan laporan hasil pengamatannya
Memberi kesempatan kepada para pemegang peran untuk
memberikan klarifikasi,
c) Kegiatan Menutup Simulasi
Kegiatan ini meliputi usaha-usaha guru untuk :
Guru meminta siswa membuat kesimpulan-kesimpulan dan
rangkuman.
Guru melakukan evaluasi
Jika berdasarkan hasil evaluasi ternyata simulasi yang dilakukan
tidak mencapai tujuan, maka para pemegang peran diminta
mengulangi lagi simulasi dengan memperhatikan masukan dari
para observer, atau guru dapat menunjuk siswa lain untuk
melaksanakan simulasi ulang tersebut.
3. Metode Pemberian Tugas
a. Pengertian
Sagala (2006) mengemukakan bahwa metode pemberian tugas adalah cara
penyajian bahan pelajaran dengan cara memberikan tugas tertentu agar siswa
melakukan kegiatan belajar, dan kemudian hasil pelaksanaan tugas itu
dilaporkan kepada guru.
b. Tujuan
Tujuan penggunaan metode pemberian tugas adalah :
1) Untuk memperdalam bahan ajar yang ada
2) Untuk mengecek penguasaan siswa terhadap bahan yang telah dipelajari
3) Untuk membuat siswa aktif belajar, baik secara individu maupun
kelompok
c. Alasan Penggunaan Metode Pemberian Tugas
Mengapa guru menggunakan metode pemberian tugas ? Alasan penggunaan
metode pemberian tugas adalah karena dengan metode tersebut 1) Siswa diaktifkan baik secara mental maupun fisik dalam menguasai
materi pelajaran
2) Siswa akan lebih mudah menguasai materi pelajarann dan siswa diperluas
pengetahuannya tentang materi pelajaran tersebut
3) Siswa dibiasakan tidak cepat puas dengan apa yang dipelajari dari materi
ajar yang telah ada sehingga dapat dikembangkan sikap ingin tahu dan
haus ilmu pengetahuan
4) Siswa akan termotivasi belajar dan dilatih problem solving
d. Kekuatan dan Kelemahan Metode Pemberian Tugas
1) Kekuatan metode pemberian tugas.
Apa saja kekuatan metode pemberian tugas? Kekuatan atau kelebihan
metode pemberian tugas adalah:
a) Pengetahuan yang dipelajari lebih meresap, tahan lama, dan lebih
otentik.
b) Melatih siswa untuk berani mengambil inisiatif, bertanggung jawab,
dan berdiri sendiri.
c) Tugas yang diberikan guru dapat memperdalam, memperkaya atau
memperluas wawasan siswa tentang apa yang dipelajari.
d) Siswa dilatih kebiasaan mencari dan mengolah informasi sendiri.
e) Metode ini jika dilakukan berbagai variasi dapat menggairahkan siswa
belajar.
2) Keterbatasan metode pemberian tugas.
Apa saja keterbatasan metode pemberian tugas?
Beberapa kelemahan dari metode pemberian tugas dalam pembelajaran
adalah:
a) Bagi siswa yang malas cenderung melakukan kecurangan atau mereka
hanya meniru pekerjaan orang lain.
b) Ada kalanya tugas itu dikerjakan oleh orang lain sehingga siswa tidak
meperoleh hasil belajar apa-apa.
c) Jika tugas yang diberikan siswa terlalu berat dapat menimbulkan
stress pada siswa.
d) Ada kalanya guru memberi tugas tanpa menyebutkan sumbernya,
akibatnya siswa sulit untuk menyelesaikannya.
e. Cara Mengatasi Kelemahan Metode Pemberian Tugas
Apa saja usaha yang harus dilakukan guru untuk mengatasi kelemahan
metode pemberian tugas? Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk
mengatasi kelemahan metode pemberian tugas antara lain:
1) Tugas yang diberikan pada siswa hendaknya jelas, sehingga mereka tidak
mengalami kesulitan dalam mengerjakannya.
2) Beri waktu yang cukup untuk menyelesaikan tugas yang diberikan.
3) Tugas yang diberikan harus diawasi secara sistematis agar siswa belajar
dengan sungguh-sungguh.
4) Tugas yang telah dikerjakan dan telah diserahkan pada guru harus
dikoreksi dan diberi catatan-catatan perbaikan dan kemudian
dikembalikan pada siswa.
5) Tugas yang diberikan hendaknya menarik minat siswa dan mendorong
siswa untuk menyelesaikannya.
f. Langkah-langkah Pengajaran Dengan Metode Pemberian Tugas
Apa saja langkah-langkah pengajaran dengan metode pemberian tugas?
Langkah-langkah pembelajaran dengan menggunakan metode pemberian
tugas meliputi:
1) Kegiatan Persiapan
a) Merumuskan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai
b) Menyiapkan pokok-pokok materi pembelajaran untuk mencapai
tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
c) Menyiapkan tugas-tugas kegiatan yang akan diberikan pada siswa.
2) Kegiatan Pelaksanaan
a) Kegiatan pembukaan
Mengajukan pertanyaan apersepsi untuk mengingatkan siswa
terhadap materi yang telah diajarkan.
Memotivasi siswa dengan mengemukakan cerita yang ada di
masyarakat yang ada kaitannya dengan materi yang akan
diajarkan.
Mengemukakan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
b) Kegiatan inti pelajaran
Guru menerangkan secara garis besar materi pelajaran yang akan
diajarkan.
Guru menjelaskan rincian tugas dan cara mengerjakannya Siswa mengerjakan tugas sesuai dengan petunjuk atau cara
penyelesaian tugas yang diberikan oleh guru termasuk antaranya
adalah menggunakan lembar kegiatan siswa.
Jika tugas itu direncanakan untuk diselesaikan selama jam
pelajaran yang ada, maka guru meminta siswa melaporkan hasil
penyelesaian tugasnya.
Guru memeriksa hasil penyelesaian tugas siswa.
Jika tugas itu direncanakan untuk diselesaikan di rumah, maka
siswa diberitahu kapan hasil penyelesaian tugas itu harus
diserahkan pada guru untuk diperiksa oleh guru.
c) Kegiatan mengakhiri pelajaran
Guru menyuruh siswa merangkum materi yang diajarkan melalui
kegiatan pemberian tugas itu.
Guru melakukan evaluasi
Guru melakukan tindak lanjut yang kemungkinannya dapat berupa
memberikan penjelasan tentang materi yang belum dikuasai siswa
atau memberi tugas tambahan untuk memperdalam atau
menambah penguasaan siswa terhadap materi yang diajarkan.
a. Pengertian
Sanjaya (2006), dan Sumantri dan Permana (1998/1999) menyatakan bahwa
metode diskusi diartikan sebagai siasat untuk menyampaikan bahan pelajaran
yang melibatkan siswa secara aktif untuk membicarakan dan menemukan
alternatif pemecahan suatu topik bahasan yang bersifat problematis. Dalam
percakapan itu para pembicara tidak boleh menyimpang dari pokok
pembicaraan yaitu masalah yang ingin dicarikan alternatif pemecahannya.
Dalam diskusi ini guru berperan sebagai pemimpin diskusi, atau guru dapat
mendelegasikan tugas sebagai pemimpin itu kepada siswa, walaupun
demikian guru masih harus mengawasi pelaksanaan diskusi yang dipimpin
oleh siswa itu. Pendelegasian itu terjadi kalau siswa dalam kelas dibagi
menjadi beberapa kelompok diskusi. Pemimpin Diskusi harus mengorganisir
kelompok yang dipimpinnya agar setiap anggota diskusi dapat berpartisipasi
secara aktif.
b. Tujuan
1) Memecahkan materi pembelajaran yang berupa masalah atau problematik
yang sukar dilakukan oleh siswa secara perorangan.
2) Mengembangkan keberanian siswa mengemukakan pendapat.
3) Mengembangkan sikap toleran terhadap pendapat yang berbeda.
4) Melatih siswa mengembangkan sikap demokratis, keterampilan
berkomunikasi, mengeluarkan pendapat, menafsirkan dan menyimpulkan
pendapat.
5) Melatih dan membentuk kestabilan sosial-emosional.
c. Alasan Penggunaan Metode Diskusi
Mengapa guru memilih menggunakan metode diskusi ? Sumantri dan
Permana (1998/1999) mengemukakan alasan dipilihnya metode diskusi :
1) Topik bahasan bersifat problematis.
2) Merangsang peserta didik untuk terlibat secara aktif dalam perdebatan
ilmiah.
3) Melatih peserta didik untuk berpikir kritis dan terbuka.
4) Mengembangkan suasana demokratis dan melatih peserta didik berjiwa
besar.
5) Peserta didik memiliki pAndangan yang berbeda-beda tentang masalah
yang dijadikan topik diskusi. 6) Peserta didik memiliki pengetahuan dan pendapat-pendapat tentang
masalah yang akan didiskusikan.
7) Masalah yang didiskusikan akan berhubungan dengan persoalan-
persoalan yang lain pula.
d. Kelebihan dan Kelemahan Metode Diskusi
1) Kelebihan Metode Diskusi
Apa saja keunggulan Metode Diskusi? Beberapa keunggulan metode
diskusi untuk pembelajaran adalah:
a) Siswa dapat menguasai materi pelajaran secara bersama-sama.
b) Merangsang siswa untuk lebih kreatif menyumbangkan gagasan dan
ide-ide.
c) Melatih siswa membiasakan diri bertukar pikiran dalam mengatasi
setiap permasalahan.
d) Melatih siswa mengemukakan pendapat dan menghargai pendapat
orang lain.
e) Menyajikan materi yang tidak bisa disajikan oleh metode lain.
2) Kelemahan Metode Diskusi
Sebaliknya, apa saja kelemahan Metode Diskusi ? Beberapa kelemahan
metode diskusi untuk pembelajaran di sekolah adalah :
a) Sering diskusi dikuasai oleh dua atau tiga orang siswa yang pandai
bicara.
b) Pembahasan dalam diskusi cenderung meluas, sehingga hasilnya
kabur.
c) Diskusi memerlukan waktu yang cukup panjang, sehingga tidak
sesuai dengan jadwal pelajaran yang ada.
d) Dalam diskusi sering terjadi perbedaan pendapat yang bersifat
emosional sehingga menimbulkan ketersinggungan antar siswa yang
menyebabkan terganggunya iklim pembelajaran.
e) Kadang-kadang guru tidak menguasai cara menyelenggarakan diskusi
sehingga diskusi cenderung menjadi tanya jawab.
e. Cara Mengatasi Kelemahan Diskusi
Apa yang harus dilakukan untuk mengatasi kelemahan diskusi? Ada
beberapa cara untuk mengatasi kelemahan metode diskusi antara lain:
1) Masalah yang didiskusikan harus cukup sulit dan menarik perhatian siswa
karena berkaitan dengan kehidupan mereka. 2) Guru harus menempatkan dirinya sebagai pemimpin diskusi. Ia harus
membagi-bagi pertanyaan dan memberi petunjuk tentang jalannya
diskusi.
3) Tempat duduk harus diatur melingkar atau berbentuk tapal kuda supaya
peserta diskusi dapat saling berhadapan sehingga terjadi komunikasi yang
lancar.
4) Setiap siswa peserta diskusi harus memahami masalah yang harus
didiskusikan, untuk itu guru sebagai pemimpin diskusi harus terlebih
dahulu menjelaskan masalah yang akan didiskusikan dan garis besar arah
dan tujuan yang ingin dicapai.
f. Langkah-langkah Pelaksanaan Metode Diskusi
Apa saja langkah-langkah pelaksanaan metode diskusi ? Langkah-langkah
pelaksanaan metode diskusi meliputi hal-hal berikut :
1) Kegiatan Persiapan
Merumuskan tujuan yang ingin dicapai dalam diskusi
Mengidentifikasi masalah yang cukup sulit yang berupa problematik
sehingga memerlukan diskusi untuk memecahkannya.
Memilih jenis diskusi yang cocok apakah itu diskusi kelas, diskusi
kelompok kecil, simposium, atau diskusi panel tergantung pada tujuan
yang ingin dicapai misalnya: apabila tujuan diskusi suatu persoalan,
maka dipilih jenis diskusi kelompok kecil, sedang jika tujuannya
untuk mengembangkan gagasan siswa maka simposium dianggao
sebagai jenis diskusi yang tepat.
2) Kegiatan Pelaksanaan Metode Diskusi
a) Kegiatan Pembukaan
Guru menanyakan materi pelajaran yang pernah diajarkan
(apersepsi).
Guru mengemukakan permasalahan yang ada di masyarakat yang
ada kaitannya dengan masalah yang akan didiskusikan.
Guru mengemukakan tujuan diskusi serta tata cara yang harus
diperhatikan dalam diskusi.
b) Kegiatan Inti Pembelajaran
Guru mengemukakan materi pelajaran yang berupa problematik
yang akan didiskusikan, dan menjelaskan secara garis besar
hakekat permasalahan tersebut. Guru berusaha memusatkan perhatian peserta diskusi dengan cara
antara lain : mengingatkan arah diskusi yang sebenarnya,
mengakui kebenaran gagasan siswa dengan menggalang bagian
penting yang telah diucapkan siswa, merangkum hasil
pembicaraan pada tahap tertentu sebelum berpindah pada masalah
berikutnya.
Memperjelas uraian pendapat siswa karena ide yang disampaikan
kurang jelas sehingga sukar dimengerti oleh anggota diskusi.
Menganalisis pAndangan siswa karena terjadi perbedaan pendapat
antar anggota diskusi dengan jalan meneliti apakah alasan siswa
tersebut mempunyai dasar yang kuat, memperjelas hal-hal yang
disepakati dan yang tidak disepakati.
Meningkatkan uraian pendapat siswa dengan jalan mengajukan
pertanyaan kunci yang menantang siswa untuk berpikir, memberi
waktu untuk berpikir, memberi komentar positif terhadap
pendapat siswa, mendengarkan dengan penuh perhatian, dan sikap
yang bersahabat.
Menyebarkan kesempatan berpartisipasi agar pembicaraan tidak
didominasi oleh beberapa orang siswa yang enggan berpartisipasi,
memberi giliran pada siswa yang pendiam, meminta siswa
mengomentari pendapat temannya, dan menengahi pendapat yang
saling sama kuat.
c) Kegiatan Penutup
Kegiatan ini meliputi :
Meminta siswa atau wakil kelompok melaporkan hasil diskusi
Meminta siswa lain atau kelompok lain mengomentari dan
melengkapi rumusan hasil diskusi.
Melakukan evaluasi hasil belajar dan evaluasi proses diskusi.
Memberi tugas untuk memperdalam hasil diskusi.
2. Metode Simulasi
a. Pengertian
Apa yang dimaksud dengan metode simulasi dalam pembelajaran disekolah ?
Abimanyu dan Purwant (1980), Sumantri dan Permana (l998/l999)
menyatakan bahwa metode pembelajaran digunakan untuk menirukan
keadaan sebenarnya kedalam situasi buatan, misalnya seorang guru
mensimulasikan bagaimana cara melompat tinggi dengan gaya panggung atau
bagaimana seorang penatar P4 mensimulasikan kehidupan masyarakat
Pancasila, dimana setiap peserta penataran ada yang berperan sebagai
lurah/RW/RT dan anggota masyarakat yang kesemuanya berperan secara
sungguh-sungguh seperti yang dialami dalam kehidupan sosial di kelurahan
itu.
Dengan demikian simulasi adalah suatu usaha pembelajaran untuk
memperoleh pemahaman akan hakekat suatu konsep atau prinsip, atau
sesuatu keterampilan tertentu melalui proses kegiatan atau latihan dalam
situasi tiruan. Melalui simulasi itu siswa akan mampu menghadapi kenyataan
yang mungkin terjadi secara lebih efektif dan efisien.
b. Tujuan
Tujuan digunakan metode simulasi baik langsung, maupun tidak langsung
adalah sebagai berikut :
1) Tujuan langsung
a) Untuk melatih keterampilan tertentu baik yang bersifat profesional
maupun kehidupan sehari-hari.
b) Untuk memperoleh pemahaman tentang konsep atau prinsip.
c) Untuk latihan memecahkan masalah.
2) Tujuan tidak langsung
a) Untuk meningkatkan aktifitas belajar dengan melibatkan siswa dalam
mempelajari situasi yang hampir sama dengan kejadian sebenarnya.
b) Untuk meningkatkan motivasi belajar, karena simulasi sangat menarik
dan menyenangkan siswa.
c) Melatih siswa bekerja sama dalam kelompok.
d) Mengembangkan daya kreatif siswa.
e) Melatih siswa untuk memahami dan menghargai pendapat orang lain.
c. Alasan Penggunaan Metode Simulasi
Mengapa metode simulasi diperlukan dalam interaksi pembelajaran di
sekolah ? Ada beberapa alasan tentang digunakannya metode simulasi dalam
pembelajaran :
1) Simulasi dapat menunjang pelaksanaan dalam melatih keterampilan
dasar mengajar yang sangat diperlukan bagi terbentuknya guru-guru yang
profesional.
2) Simulasi merupakan salah satu metode yang memungkinkan siswa aktif
belajar menghayati, memahami dan memperoleh keterampilan tertentu
tanpa memerlukan obyek atau situasi yang sebenarnya yang umumnya
susah didapatkan.
3) Metode simulasi memungkinkan terpadunya teori dan praktek, konten dan
metode, sebab dengan simulasi teori atau konten yang baru diajarkan
dapat segera dipraktekkan, sehingga konsep yang diperoleh dan
keterampilan yang dimiliki menjadi sangat kuat tertanam dalam diri
siswa.
4) Melalui metode simulasi memungkinkan siswa belajar dengan
pemahaman bukan belajar secara mekanis.
5) Dengan metode simulasi dimungkinkan pelibatan alat-alat indra siswa
secara optimal, sehingga pencapaian tujuan pelajaran akan lebih efektif
dan bermakna.
d. Kekuatan dan Kelemahan Metode Simulasi
1) Kekuatan Metode Simulasi
Apa saja kekuatan metode simulasi ?
Ada beberapa keuntungan digunakannya metode simulasi dalam
pembelajaran. Keuntungan-keuntungan itu antara lain :
a) Menciptakan kegairahan siswa untuk belajar.
b) Mengembangkan daya cipta siswa.
c) Siswa dapat menguasai keterampilan atau konsep-konsep tertentu
melalui simulasi.
d) Mengembangkan rasa percaya diri dan perasaan positif.
e) Melalui simulasi kegiatan pembelajaran dapat berlangsung walaupun
tidak dalam situasi dan obyek yang sebenarnya.
f) Melalui simulasi siswa dibantu memahami hal-hal yang asbtrak
melalui kegiatan nyata, walaupun dalam bentuk tiruan.
2) Kelemahan Metode Simulasi
Apa saja kelemahan metode simulasi ?
Kelemahan metode simulasi adalah : a) Pengetahuan dan keterampilan yang disimulasikan tidak selalu
sepenuhnya sama dengan kenyataan di lapangan.
b) Simulasi memerlukan kreatifitas yang tinggi dari guru dan siswa
yang kadang-kadang sukar dipenuhi.
c) Perlu pemahaman siswa tentang materi dan peranannya serta fasilitas
pendukung yang tidak selalu mudah terpenuhi.
d) Simulasi sebagai metode pembelajaran dapat melenceng tujnya
menjadi alat hiburan.
e) Rasa malu, ragu-ragu dan tidak menguasai materi akan menyebabkan
simulasi tidak mencapai tujuan.
f) Sering guru tidak melakukan diskusi balikan setelah selesai
pelaksanaan simulasi, sehingga kurang bermanfaat bagi siswa lainnya.
e. Cara Mengatasi Kelemahan Metode Simulasi
Apa yang dapat dilakukan untuk mengatasi kelemahan metode simulasi ?
Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi kelemahan metode
simulasi adalah :
1) Perlu pengkajian yang cermat tentang pengetahuan dan keterampilan
yang akan disimulasikan agar sesuai dengan kenyataan di lapangan.
2) Guru perlu menyiapkan materi dan skenario simulasi sebelum simulasi
dilaksanakan.
3) Guru perlu menjelaskan kepada siswa bahwa simulasi ini adalah latihan
keterampilan tertentu bukan suatu hiburan karena itu siswa lain yang
tidak terlibat dalam simulasi harus menyimak dengan baik karena dalam
tahap evaluasi mereka akan ditanya pengetahuan dan keterampilan yag
disimulasikan itu.
4) Setelah simulasi berakhir harus dilakukan diskusi balikan yang
melibatkan semua siswa agar siswa yang tidak melakukan simulasi ikut
memahami hasil simulasi itu.
5) Siswa yang akan memegang peranan dalam simulasi perlu latihan yang
memadai sebelum melakukan simulasi agar tidak terjadi keragu-raguan,
rasa malu dan tidak menguasai materi.
f. Langkah-langkah Pelaksanaan Metode Simulasi
Jika Anda akan melakukan pembelajaran dengan menggunakan metode
simulasi, apa saja langkah-langkah yang harus Anda lakukan ?
Langkah-langkah pembelajaran dengan metode simulasi meliputi :
1) Kegiatan Persiapan
Kegiatan persiapan yang perlu dilakukan oleh guru adalah :
a) Merumuskan tujuan pembelajaran yang akan dicapai oleh siswa.
b) Memilih materi dan topik yang akan disimulasikan.
c) Menyiapkan garis besar skenario pelaksanaan simulasi.
d) Guru memberi penjelasan kepada siswa tentang garis besar materi,
tujuan dan situasi yang akan disimulasikan.
e) Guru mengorganisasikan pembentukan kelompok, peranan-peranan
yang akan ada, pengaturan ruangan, pengaturan materi, pengaturan
alat yang akan digunakan dan sebagainya.
f) Menawarkan kepada siswa tentang siapa yang akan memegang peran
dalam simulasi.
g) Guru memberi penjelasan kepada siswa dan para pemegang peran
tentang hal-hal yang harus dilakukan.
h) Guru memberi kesempatan bertanya.
i) Guru memberi kesempatan pada tiap kelompok dan para pemegang
peran untuk menyiapkan diri.
j) Guru menetapkan alokasi waktu yang diperlukan untuk pelaksanaan
simulasi.
2) Kegiatan Pelaksanaan
a) Kegiatan Pembukaan
Menanyakan materi pelajaran yang lalu.
Membuat cerita anecdote yang ada kaitannya dengan pelajaran
yang akan diajarkan
Menyampaikan acuan, yaitu tujuan pelajaran yang akan dilakukan
dengan simulasi.
b) Kegiatan Inti
Setelah segala sesuatunya siap, maka simulasi dimulai
Siswa yang tidak memainkan peran akan bertindak selaku
pengamat/observer. Mereka dibekali panduan observasi untuk
merekam peranan yang dimainkan oleh para pelaku simulasi.
Para pemegang peran melakukan simulasi sesuai dengan skenario
atau pedoman umum yang telah dibuat oleh guru atau yang telah
disiapkan oleh para pemegang peran.
Guru membantu mensupervisi, dan memberi sugesti demi
kelancaran pelaksanaan simulasi. Memberi kesempatan pada para pengamat untuk menyampaikan
kritik, dan laporan hasil pengamatannya
Memberi kesempatan kepada para pemegang peran untuk
memberikan klarifikasi,
c) Kegiatan Menutup Simulasi
Kegiatan ini meliputi usaha-usaha guru untuk :
Guru meminta siswa membuat kesimpulan-kesimpulan dan
rangkuman.
Guru melakukan evaluasi
Jika berdasarkan hasil evaluasi ternyata simulasi yang dilakukan
tidak mencapai tujuan, maka para pemegang peran diminta
mengulangi lagi simulasi dengan memperhatikan masukan dari
para observer, atau guru dapat menunjuk siswa lain untuk
melaksanakan simulasi ulang tersebut.
3. Metode Pemberian Tugas
a. Pengertian
Sagala (2006) mengemukakan bahwa metode pemberian tugas adalah cara
penyajian bahan pelajaran dengan cara memberikan tugas tertentu agar siswa
melakukan kegiatan belajar, dan kemudian hasil pelaksanaan tugas itu
dilaporkan kepada guru.
b. Tujuan
Tujuan penggunaan metode pemberian tugas adalah :
1) Untuk memperdalam bahan ajar yang ada
2) Untuk mengecek penguasaan siswa terhadap bahan yang telah dipelajari
3) Untuk membuat siswa aktif belajar, baik secara individu maupun
kelompok
c. Alasan Penggunaan Metode Pemberian Tugas
Mengapa guru menggunakan metode pemberian tugas ? Alasan penggunaan
metode pemberian tugas adalah karena dengan metode tersebut 1) Siswa diaktifkan baik secara mental maupun fisik dalam menguasai
materi pelajaran
2) Siswa akan lebih mudah menguasai materi pelajarann dan siswa diperluas
pengetahuannya tentang materi pelajaran tersebut
3) Siswa dibiasakan tidak cepat puas dengan apa yang dipelajari dari materi
ajar yang telah ada sehingga dapat dikembangkan sikap ingin tahu dan
haus ilmu pengetahuan
4) Siswa akan termotivasi belajar dan dilatih problem solving
d. Kekuatan dan Kelemahan Metode Pemberian Tugas
1) Kekuatan metode pemberian tugas.
Apa saja kekuatan metode pemberian tugas? Kekuatan atau kelebihan
metode pemberian tugas adalah:
a) Pengetahuan yang dipelajari lebih meresap, tahan lama, dan lebih
otentik.
b) Melatih siswa untuk berani mengambil inisiatif, bertanggung jawab,
dan berdiri sendiri.
c) Tugas yang diberikan guru dapat memperdalam, memperkaya atau
memperluas wawasan siswa tentang apa yang dipelajari.
d) Siswa dilatih kebiasaan mencari dan mengolah informasi sendiri.
e) Metode ini jika dilakukan berbagai variasi dapat menggairahkan siswa
belajar.
2) Keterbatasan metode pemberian tugas.
Apa saja keterbatasan metode pemberian tugas?
Beberapa kelemahan dari metode pemberian tugas dalam pembelajaran
adalah:
a) Bagi siswa yang malas cenderung melakukan kecurangan atau mereka
hanya meniru pekerjaan orang lain.
b) Ada kalanya tugas itu dikerjakan oleh orang lain sehingga siswa tidak
meperoleh hasil belajar apa-apa.
c) Jika tugas yang diberikan siswa terlalu berat dapat menimbulkan
stress pada siswa.
d) Ada kalanya guru memberi tugas tanpa menyebutkan sumbernya,
akibatnya siswa sulit untuk menyelesaikannya.
e. Cara Mengatasi Kelemahan Metode Pemberian Tugas
Apa saja usaha yang harus dilakukan guru untuk mengatasi kelemahan
metode pemberian tugas? Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk
mengatasi kelemahan metode pemberian tugas antara lain:
1) Tugas yang diberikan pada siswa hendaknya jelas, sehingga mereka tidak
mengalami kesulitan dalam mengerjakannya.
2) Beri waktu yang cukup untuk menyelesaikan tugas yang diberikan.
3) Tugas yang diberikan harus diawasi secara sistematis agar siswa belajar
dengan sungguh-sungguh.
4) Tugas yang telah dikerjakan dan telah diserahkan pada guru harus
dikoreksi dan diberi catatan-catatan perbaikan dan kemudian
dikembalikan pada siswa.
5) Tugas yang diberikan hendaknya menarik minat siswa dan mendorong
siswa untuk menyelesaikannya.
f. Langkah-langkah Pengajaran Dengan Metode Pemberian Tugas
Apa saja langkah-langkah pengajaran dengan metode pemberian tugas?
Langkah-langkah pembelajaran dengan menggunakan metode pemberian
tugas meliputi:
1) Kegiatan Persiapan
a) Merumuskan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai
b) Menyiapkan pokok-pokok materi pembelajaran untuk mencapai
tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
c) Menyiapkan tugas-tugas kegiatan yang akan diberikan pada siswa.
2) Kegiatan Pelaksanaan
a) Kegiatan pembukaan
Mengajukan pertanyaan apersepsi untuk mengingatkan siswa
terhadap materi yang telah diajarkan.
Memotivasi siswa dengan mengemukakan cerita yang ada di
masyarakat yang ada kaitannya dengan materi yang akan
diajarkan.
Mengemukakan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
b) Kegiatan inti pelajaran
Guru menerangkan secara garis besar materi pelajaran yang akan
diajarkan.
Guru menjelaskan rincian tugas dan cara mengerjakannya Siswa mengerjakan tugas sesuai dengan petunjuk atau cara
penyelesaian tugas yang diberikan oleh guru termasuk antaranya
adalah menggunakan lembar kegiatan siswa.
Jika tugas itu direncanakan untuk diselesaikan selama jam
pelajaran yang ada, maka guru meminta siswa melaporkan hasil
penyelesaian tugasnya.
Guru memeriksa hasil penyelesaian tugas siswa.
Jika tugas itu direncanakan untuk diselesaikan di rumah, maka
siswa diberitahu kapan hasil penyelesaian tugas itu harus
diserahkan pada guru untuk diperiksa oleh guru.
c) Kegiatan mengakhiri pelajaran
Guru menyuruh siswa merangkum materi yang diajarkan melalui
kegiatan pemberian tugas itu.
Guru melakukan evaluasi
Guru melakukan tindak lanjut yang kemungkinannya dapat berupa
memberikan penjelasan tentang materi yang belum dikuasai siswa
atau memberi tugas tambahan untuk memperdalam atau
menambah penguasaan siswa terhadap materi yang diajarkan.
Metode Pembelajaran Ceramah, Tanya Jawab, dan Demonstrasi
1. Metode Ceramah
a. Pengertian
Sumantri dan Permana (l998/l999) menyatakan bahwa metode ceramah
adalah cara mengajar yang paling popular dan banyak dilakukan oleh guru.
Hal ini karena metode ceramah mudah disajikan dan tidak banyak
memerlukan media. Metode ceramah adalah penyajian pelajaran oleh guru
dengan cara memberikan penjelasan secara lisan kepada siswa. Penggunaan
metode ceramah sangat tergantung pada kemampuan guru. Penguasaan guru
terhadap materi pelajaran, kemampuan berbahasa, intonasi suara, penggunaan
media, dan variasi gaya mengajar lainnya sangat menentukan keberhasilan
metode ini.
b. Tujuan
Tujuan metode ceramah adalah menyampaikan materi pelajaran yang bersifat
informasi, yaitu konsep, pengertian, prinsip-prinsip yang banyak dan luas
serta hasil penemuan-penemuan baru yang belum terpublikasikan secara
meluas. Secara lebih khusus tujuan metode ceramah adalah :
1) Menciptakan lAndasan pemikiran siswa agar dapat belajar melalui bahan
tertulis hasil ceramah guru.
2) Menyajikan garis-garis besar isi pelajaran dan permasalahan perting
yang terdapat dalam isi pelajaran.
3) Merangsang siswa untuk belajar mandiri dan menumbuhkan rasa ingin
tahu melalui pengayaan belajar.
4) Memperkenalkan hal-hal baru dan memberikan penjelasan secara
gamblang teori dan prakteknya.
5) Sebagai langkah awal untuk metode yang lain dalam upaya menjelaskan
prosedur yang harus ditempuh siswa. Misalnya sebelum eksperimen siswa
diberi penjelasan tentang apa-apa yang harus dilakukan oleh siswa.
c. Alasan Penggunaan Metode Ceramah
Mengapa kita harus menggunakan metode ceramah? Metode ceramah
digunakan guru dalam pembelajaran dengan alasan-alasan sebagai berikut :
1) Siswa benar-benar memerlukan penjelasan guru karena bahan baru atau
langkanya sumber pustaka, dan untuk menghindari kesalahpahaman.
2) Karena tidak ada buku sumber pelajaran yang tersedia.
3) Menghadapi siswa yang banyak jumlahnya, dan bila menggunakan
metode lain sukar diterapkan.
4) Menghemat waktu, biaya, dan peralatan. d. Kekuatan dan Keterbatasan Metode Ceramah
1) Kekuatan Metode Ceramah
Apa saja kekuatan dari metode ceramah untuk pembelajaran di SD?
Setidaknya ada lima keunggulan metode ceramah sehingga guru
memilihnya sebagai metode pembelajaran. Kekuatan metode ceramah itu
antara lain :
a) Murah dalam arti efisien dilihat dari segi waktu, biaya dan
tersedianya guru.
b) Mudah dalam arti materi dapat disesuaikan dengan terbatasnya waktu,
karakteristik siswa, materi pelajaran, dan tersedianya alat pelajaran.
c) Meningkatkan daya dengar siswa dan menumbuhkan minat belajar
dari sumber lain.
d) Memperoleh penguatan, dalam arti guru memperoleh penghargaan,
kepuasan dan sikap percaya diri dari siswa yang diajar jika siswa
memperhatikannya dan kelihatan senang karena mengajarnya guru
baik.
e) Ceramah dapat memberikan wawasan yang luas karena guru dapat
menambah dan mengkaitkan dengan sumber dan materi lain dalam
kehidupan sehari-hari.
2) Kelemahan Metode Ceramah
a) Siswa dapat menjadi jenuh terutama kalau guru tidak pandai
menjelaskan.
b) Dapat menimbulkan verbalisme pada siswa.
c) Materi ceramah terbatas pada yang diingat guru.
d) Bagi siswa yag keterampilan mendengarkannya kurang akan
dirugikan.
e) Siswa dijejali dengan konsep yang belum tentu dapat diingat terus.
f) Informasi yang disampaikan mudah usang dan ketinggalan zaman.
g) Tidak merangsang berkembangnya kreatifitas siswa.
h) Terjadi interaksi satu arah yaitu dari guru kepada siswa.
e. Cara Mengatasi Kelemahan Metode Ceramah
1) Selang-selingilah ceramah dengan pertanyaan-pertanyaan.
2) Gunakan alat peraga baik langsung maupun tiruan, serta lakukan
demonstrasi untuk meragakan konsep yang Anda kemukakan.
3) Ciptakan interaksi yang bervariasi antara guru-siswa, siswa-guru, siswa-
siswa. 4) Lakukan gaya mengajar yang bervariasi supaya siswa tidak bosan
mendengarkan ceramah Anda.
f. Langkah-langkah Pelaksanaan Metode Ceramah
Jika Anda melaksanakan metode ceramah, langkah-langkah apa saja yang
harus Anda lakukan? Langkah-langkah yang harus dilakukan meliputi
kegiatan persiapan, kegiatan pelaksanaan dan kegiatan mengakhiri ceramah.
1) Kegiatan Persiapan
a) Merumuskan tujuan yang ingin dicapai. Tujuan harus dirumuskan
dengan jelas sehingga jelas pula apa yang harus dikuasai siswa setelah
proses pembelajaran selesai.
b) Menentukan pokok-pokok materi yang akan diceramahkan.
Keberhasilan ceramah sangat tergantung pada penguasaan guru
terhadap materi yang akan diceramahkan. Pokok-pokok materi itu
harus sesuai dengan tujuan pembelajaran yang harus dicapai.
Disamping itu diperlukan pula ilustrasi-ilustrasi atau contoh-contoh
yang relevan untuk memperjelas informasi yang disampaikan.
c) Mempersiapkan alat bantu. Alat bantu ini dapat mempermudah
pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan. Disamping itu alat
bantu juga dapat membantu meningkatkan kualitas ceramah.
2) Kegiatan Pelaksanaan
Ada tiga kegiatan yang perlu dilakukan oleh guru yaitu :
a) Kegiatan pembukaan
Dalam kegiatan pembukaan ini, guru paling tidak harus melakukan :
Apersepsi yaitu menanyakan kembali pelajaran yang lalu.
Motivasi yaitu suatu anekdot yang berusaha mengaitkan peristiwa
dalam kehidupan yang berkaitan dengan materi yang akan
diajarkan.
Memberi acuan yaitu menyampaikan tujuan pengajaran atau
pokok-pokok materi yang akan diajarkan.
b) Kegiatan inti pelajaran
Yaitu kegiatan penyampaian materi pembelajaran melalui informasi
lisan. Agar ceramah guru berkualitas maka guru harus dapat menarik
perhatian siswa agar tetap terarah pada materi yang sedang
disampaikan. Untuk menjaga perhatian siswa, guru perlu melakukan
hal-hal berikut:
Menjaga kontak pAndang dengan siswa secara terus menerus.
Gunakan bahasa yang komunikatif agar mudah dimengerti siswa. Sajikan materi secara sistematis tidak meloncat-loncat sehingga
tidak membingungkan siswa.
Tanggapi respon siswa dengan segera dan secara antusias.
Jagalah suasana kelas agar tetap kondusif dan menggairahkan
untuk belajar.
Selang-selingilah ceramah Anda dengan pertanyaan-
pertanyaan/tanya jawab.
c) Kegiatan mengakhiri ceramah
Ceramah harus diakhiri melalui prosedur tertentu agar materi yang
barus diterima tidak dilupakan. Prosedur itu adalah :
Membimbing siswa membuat rangkuman atas materi yang baru
disampaikan.
Melakukan evaluasi formatif.
Melakukan tindak lanjut, yaitu mengajarkan kembali materi yang
belum dikuasai siswa atau memberi tugas tambahan jika siswa
telah menguasai materi berdasarkan hasil evaluasi formatif. 2. Metode Tanya Jawab
a. Pengertian
Apa yang dimaksud metode tanya jawab dalam pembelajaran di sekolah?
Metode tanya jawab adalah cara penyampaian suatu pelajaran melalui
interaksi dua arah dari guru kepada siswa atau dari siswa kepada guru agar
diperoleh jawaban kepastian materi melalui jawaban lisan guru atau siswa.
Dalam metode tanya jawab, guru dan siswa sama-sama aktif. Siswa dituntut
untuk aktif agar mereka tidak tergantung pada keaktifan guru. Rasa ingin tahu
anak usia SD harus ditumbuh-suburkan agar ia menjadi manusia yang kreatif.
Untuk itu guru harus menguasai keterampilan bertanya dan juga harus mempunyai semangat yang tinggi didalam menciptakan situasi yang kondusif
bagi terlaksananya tanya jawab yang mendidik.
b. Tujuan
Adapun tujuan metode tanya jawab adalah :
1) Untuk mengetahui penguasaan siswa terhadap materi pelajaran.
2) Mendorong siswa berani mengajukan pertanyaan kepada guru tentang
masalah yang belum dipahami
3) Menimbulkan kompetisi belajar yang sehat, dimana siswa yang aktif dan
dapat menjawab pertanyaan guru atau siswa lain dengan baik akan lebih
percaya diri dan akan terus berusaha untuk lebih baik lagi, dan siswa
yang belum aktif atau tidak dapat menjawab pertanyaan guru atau siswa
lainnya dapat mempersiapkan diri lebih baik lagi dalam kesempatan lain.
4) Melatih siswa untuk berpikir dan berbicara secara sistematis dan sistemik
berdasarkan pemikiran yang orisinal.
5) Dengan metode tanya jawab siswa diarahkan agar mengerti, memahami
dan berinteraksi secara aktif dalam pembelajaran sehingga tujuan dapat
dicapai dengan baik.
c. Alasan Menggunakan Metode Tanya Jawab
Mengapa guru menggunakan metode tanya jawab dalam pembelajaran ?
Alasan guru menggunakan metode tanya jawab adalah untuk :
1) Menimbulkan rasa ingin tahu siswa terhadap permasalahan yang sedang
dibicarakan sehingga timbul partisipasi aktif dan aktifitas mental yang
tinggi pada siswa.
2) Menimbulkan pola fikir reflektif, sistematis, kreatif`dan kritis.
3) Mewujudkan cara belajar siswa aktif.
4) Melatih dan memberanikan siswa untuk belajar mengekspresikan
kemampuan lisan.
5) Memberi kesempatan siswa menggunakan pengetahuan yang telah
dimilikinya.
d. Kekuatan dan Keterbatasan Metode Tanya Jawab
1) Kekuatan Metode tanya jawab
Keunggulan Metode tanya jawab meliputi sebagai berikut
a) Dapat menarik dan memusatkan perhatian siswa terhadap pelajaran.
b) Mengetahui kedudukan atau kualitas siswa dalam belajar di kelas.
c) Dapat merangsang siswa menggunakan daya pikir dan nalarnya.
d) Menimbulkan keberanian dalam mengemukakan jawaban. 2) Keterbatasan Metode tanya jawab
Keterbatasan metode tanya jawab adalah :
a) Pada kelas yang jumlah siswanya besar pertanyaan dapat disebarkan
ke seluruh siswa sehingga siswa tidak memiliki kesempatan yang
sama untuk menjawab atau pun bertanya.
b) Siswa yang tidak aktif tidak memperhatikan, bahkan tidak terlibat
secara mental.
c) Sering guru tidak memiliki keterampilan bertanya yang memadai
sehingga tujuan pelajaran tidak tercapai.
d) Menimbulkan rasa rendah diri pada siswa yang tidak memiliki
keberanian menjawab atau bertanya.
e) Dapat membuang-buang waktu bila siswa tidak responsif terhadap
pertanyaan.
e. Cara Mengatasi Kelemahan Metode Tanya Jawab
Bagaimana cara mengatasi kelemahan metode tanya jawab? Beberapa tips
untuk mengatasi kelemahan metode tanya jawab :
1) Jumlah siswa dalam satu kelas tidak boleh lebih dari 40 orang siswa, agar
pertanyaan guru dapat dijawab oleh sebagian besar siswa.
2) Siswa yang tidak aktif harus diminta mengulangi jawaban siswa yang
benar, jika dia dapat mengulangi jawaban temannya tadi dengan benar,
maka dia harus diberi penguatan positif agar ia tertarik dan ikut aktif.
3) Guru harus terampil dalam mengemukakan pertanyaan.
4) Pertanyaan-pertanyaan harus disusun mulai dari yang mudah sampai
dengan yang sukar agar siswa yang kurang pintar dapat pula menjawab
pertanyaan.
f. Langkah-langkah Pelaksanaan Metode Tanya Jawab
Bagaimana cara melaksanakan metode tanya jawab dengan baik? Metode
tanya jawab ini dapat dilakukan dengan langkah-langkah pelaksanaan sebagai
berikut :
1) Kegiatan Persiapan
a) Rumuskan tujuan yang harus dicapai oleh siswa setelah pembelajaran
berakhir
b) Siapkan materi pembelajaran sesuai dengan tujuan yang telah
dirumuskan. c) Siapkan pertanyaan-pertanyaan yang akan digunakan sesuai dengan
ranah kognitif, afektif, atau psikomotorik (tergantung materi dan
tujuan pelajaran).
2) Kegiatan Pelaksanaan
a) Kegiatan Pembukaan
Seperti halnya metode ceramah, sebelum kegiatan inti pelajaran, guru
melaksanakan kegiatan membuka pelajaran yang meliputi :
Mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk memotivasi siswa yaitu
pertanyaan-pertanyaan yang ada kaitannya dengan materi yang
akan diajar.
Mengajukan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
b) Kegiatan Inti Pelajaran
Kegiatan ini dilakukan melalui metode tanya jawab dengan
memperhatikan hal-hal berikut:
Ajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai materi pelajaran seperti
yang telah dipersiapkan sebelumnya.
Gunakan keterampilan-keterampilan bertanya dasar dan lanjut
seperti memberi acuan, pemusatan, menggilir, menyebarkan,
memberi waktu berpikir, memberi tuntunan, mengajukan
pertanyaan melacak dan sebagainya.
Jangan lupa memberi penguatan yang dapat menjawab pertanyaan
guru dan menghindari pemberian penguatan negatif bagi siswa
yang tidak dapat menjawab pertanyaan atau yang jawabannya
salah.
Beri tuntunan bagi siswa yang tidak bisa menjawab pertanyaan
guru atau bagi siswa yang jawabannya salah. Jika siswa tidak
dapat menjawab pertanyaan alihkan ke beberapa siswa lain sampai
diperoleh jawaban yang benar. Siswa yang menjawab salah
diminta mengulangi jawaban yang benar dan diberi penguatan
yang benar. Jika tidak ada satupun siswa yang menjawab dengan
benar, maka guru harus menjawab dan memberi penjelasan.
Jika ada siswa yang bertanya lemparkan pertanyaan itu pada siswa
lain untuk menjawabnya, jangan terburu-terburu guru sendiri yang
menjawab pertanyaan itu.
Pertanyaan guru yang sahih (analisis, sintesis dan evaluasi) beri
kesempatan siswa mendiskusikan dengan teman sebangkunya
untuk memperoleh jawaban yang benar. Setiap pokok bahasan yang selesai dipertanyakan guru meminta
siswa untuk membuat kesimpulannya
c) Kegiatan Mengakhiri Tanya Jawab
Apa yang harus dilakukan guru dalam mengakhiri pembelajaran
dengan metode tanya jawab ini? Adapun yang harus dilakukan guru
adalah:
Meminta siswa merangkum isi pelajaran yang dilaksanakan
melalui tanya jawab itu. Guru membimbing siswa membuat
rangkuman itu melalui tuntunan atau pertanyaan-pertanyaan
pelacak untuk memperoleh rangkuman yang diinginkan.
Guru melakukan evaluasi dengan mengajukan pertanyaan-
pertanyaan untuk mengetahui tingkat penguasaan siswa terhadap
materi yang diajarkan.
Guru memberi tugas untuk mempelajari materi pelajaran di rumah
untuk makin menguasai materi tersebut. 3. Metode Demonstrasi
a. Pengertian
Sanjaya (2006), dan Sumantri dan Permana (1998/1999) mengemukakan
bahwa demonstrasi adalah cara penyajian pelajaran dengan memperagakan
dan mempertunjukkan pada siswa tentang suatu proses, situasi atau benda
tertentu yang sedang dipelajari baik dalam bentuk sebenarnya maupun dalam
bentuk tiruan yang dipertunjukkan oleh guru atau sumber belajar lain yang
ahli dalam topik bahasan yang harus didemonstrasikan.
Metode Demonstrasi biasanya berkenaan dengan tindakan-tindakan atau
prosedur yang dilakukan misalnya : proses mengerjakan sesuatu, proses
menggunakan sesuatu, membandingkan suatu cara dengan cara lain, atau
untuk mengetahui/melihat kebenaran sesuatu. b. Tujuan
Apa tujuan digunakannya metode demonstrasi ? Metode demonstrasi
digunakan dengan tujuan :
1) Mengajarkan suatu proses atau prosedur yang harus dikuasai oleh siswa.
2) Mengkongkritkan informasi atau penjelasan kepada siswa.
3) Mengembangkan kemampuan pengamatan kepada para siswa secara
bersama-sama.
c. Alasan Penggunaan Metode Demonstrasi
Kapan guru menggunakan metode demonstrasi ? Guru menggunakan metode
demonstrasi apabila :
1) Tidak semua topik dapat dijelaskan secara gamblang dan konkrit melalui
penjelasan atau diskusi.
2) Karena tujuan dan sifat materi pelajaran yang menuntut dilakukan
peragaan berupa demonstrasi.
3) Tipe belajar siswa yang berbeda-beda, ada yang kuat visual, tetapi lemah
dalam auditif dan motorik, ataupun sebaliknya.
4) Memudahkan mengajarkan suatu proses atau cara kerja.
5) Sesuai dengan langkah perkembangan kognitif siswa yang masih dalam
fase operasional konkrit.
d. Kekuatan dan Keterbatasan Metode Demonstrasi
1) Kekuatan Metode Demonstrasi
Apa Kelebihan Metode Demonstrasi dibanding dengan metode yang lain?
Kelebihan metode demonstrasi dibanding dengan metode yang lain
adalah:
a) Pelajaran menjadi lebih jelas dan lebih konkrit sehingga tidak terjadi
verbalisme.
b) Siswa akan lebih mudah memahami materi pelajaran yang
didemontrasikan itu.
c) Proses pembelajaran akan sangat menarik, sebab siswa tak hanya
mendengar tetapi juga melihat peristiwa yang terjadi.
d) Siswa akan lebih aktif mengamati dan tertarik untuk mencobanya
sendiri.
e) Menyajikan materi yang tidak bisa disajikan oleh metode lain.
2) Kelemahan Metode Demonstrasi
Apa Kelemahan Metode Demonstrasi ? Beberapa kelemahan metode
demonstrasi antara lain: a) Tidak semua guru dapat melakukan demonstrasi dengan baik.
b) Terbatasnya sumber belajar, alat pelajaran, media pembelajaran,
situasi yang sering tidak mudah diatur dan terbatasnya waktu.
c) Demonstrasi memerlukan waktu yang lebih banyak dibanding dengan
metode ceramah dan tanya jawab.
d) Metode demonstrasi memerlukan persiapan dan perancangan yang
matang.
e. Cara Mengatasi Keterbatasan Metode Demonstrasi
Upaya-upaya apa yang dapat dilakukan untuk mengatasi kelemahan metode
demonstrasi? Kelemahan metode demonstrasi dapat diatasi melalui berbagai
cara berikut:
1) Guru harus terampil melakukan demonstrasi.
2) Melengkapi sumber, alat dan media pembelajaran yang diperlukan untuk
demonstrasi.
3) Mengatur waktu sebaik mungkin.
4) Membuat rancangan dan persiapan demonstrasi sebaik mungkin.
f. Langkah-langkah Pelaksanaan Metode Demonstrasi
Apa saja langkah-langkah pelaksanaan metode demonstrasi? Langkah-
langkah pelaksanaan metode demonstrasi meliputi hal-hal berikut :
1) Kegiatan Persiapan
Merumuskan tujuan pembelajaran yang harus dicapai oleh siswa
Menyusun materi yang akan diajarkan untuk mencapai tujuan yang
telah dirumuskan.
Menyiapkan garis besar langkah-langkah demonstrasi yang akan
dilakukan untuk mempermudah penguasaan materi yang telah
disiapkan.
Melakukan latihan pendemonstrasian termasuk cara penggunaan
peralatan yang diperlukan.
2) Kegiatan Pelaksanaan Metode Demonstrasi
a) Kegiatan Pembukaan
Sebelum kegiatan demonstrasi, ada beberapa hal yang harus dilakukan
dalam pembukaan pelajaran :
Aturlah tempat duduk yang memungkinkan setiap siswa dapat
memperhatikan apa yang didemonstrasikan guru.
Tanyakan pelajaran sebelumnya. Timbulkan motivasi siswa dengan mengemukakan anekdot atau
kasus di masyarakat yang ada kaitannya dengan pelajaran yang
akan dibahas.
Kemukakan tujuan apa yang harus dicapai oleh siswa dan juga
tugas-tugas apa yang harus dilakukan disamping dalam
demonstrasi nanti.
b) Kegiatan Inti Pembelajaran
Mulailah melakukan demonstrasi sesuai yang telah direncanakan
dan dipersiapkan oleh guru.
Pusatkan perhatian siswa kepada hal-hal penting yang harus
dikuasai dari demonstrasi yang dilakukan oleh guru sehingga
semua siswa mengikuti jalannya demonstrasi dengan sebaik-
baiknya.
Ciptakan suasana kondusif dan hindari suasana yang
menegangkan.
Berikan kesempatan kepada siswa untuk aktif dan kritis mengikuti
proses demonstrasi termasuk memberi kesempatan bertanya dan
komentar-komentar.
c) Kegiatan Mengakhiri Pembelajaran
Jika demonstrasi telah selesai, yang dilakukan guru selanjutnya
adalah:
Meminta siswa merangkum atau menyimpulkan pokok-pokok
atau langkah-langkah kegiatan demonstrasi.
Memberi kesempatan pada siswa untuk bertanya mengenai hal-hal
yang belum dipahami.
Melakukan evaluasi, baik evaluasi hasil belajar maupun evaluasi
bersama tentang jalannya proses demonstrasi.
Tindak lanjut baik berupa tugas-tugas berikutnya maupun tugas-
tugas untuk mendalami materi yang baru diajarkan.
a. Pengertian
Sumantri dan Permana (l998/l999) menyatakan bahwa metode ceramah
adalah cara mengajar yang paling popular dan banyak dilakukan oleh guru.
Hal ini karena metode ceramah mudah disajikan dan tidak banyak
memerlukan media. Metode ceramah adalah penyajian pelajaran oleh guru
dengan cara memberikan penjelasan secara lisan kepada siswa. Penggunaan
metode ceramah sangat tergantung pada kemampuan guru. Penguasaan guru
terhadap materi pelajaran, kemampuan berbahasa, intonasi suara, penggunaan
media, dan variasi gaya mengajar lainnya sangat menentukan keberhasilan
metode ini.
b. Tujuan
Tujuan metode ceramah adalah menyampaikan materi pelajaran yang bersifat
informasi, yaitu konsep, pengertian, prinsip-prinsip yang banyak dan luas
serta hasil penemuan-penemuan baru yang belum terpublikasikan secara
meluas. Secara lebih khusus tujuan metode ceramah adalah :
1) Menciptakan lAndasan pemikiran siswa agar dapat belajar melalui bahan
tertulis hasil ceramah guru.
2) Menyajikan garis-garis besar isi pelajaran dan permasalahan perting
yang terdapat dalam isi pelajaran.
3) Merangsang siswa untuk belajar mandiri dan menumbuhkan rasa ingin
tahu melalui pengayaan belajar.
4) Memperkenalkan hal-hal baru dan memberikan penjelasan secara
gamblang teori dan prakteknya.
5) Sebagai langkah awal untuk metode yang lain dalam upaya menjelaskan
prosedur yang harus ditempuh siswa. Misalnya sebelum eksperimen siswa
diberi penjelasan tentang apa-apa yang harus dilakukan oleh siswa.
c. Alasan Penggunaan Metode Ceramah
Mengapa kita harus menggunakan metode ceramah? Metode ceramah
digunakan guru dalam pembelajaran dengan alasan-alasan sebagai berikut :
1) Siswa benar-benar memerlukan penjelasan guru karena bahan baru atau
langkanya sumber pustaka, dan untuk menghindari kesalahpahaman.
2) Karena tidak ada buku sumber pelajaran yang tersedia.
3) Menghadapi siswa yang banyak jumlahnya, dan bila menggunakan
metode lain sukar diterapkan.
4) Menghemat waktu, biaya, dan peralatan. d. Kekuatan dan Keterbatasan Metode Ceramah
1) Kekuatan Metode Ceramah
Apa saja kekuatan dari metode ceramah untuk pembelajaran di SD?
Setidaknya ada lima keunggulan metode ceramah sehingga guru
memilihnya sebagai metode pembelajaran. Kekuatan metode ceramah itu
antara lain :
a) Murah dalam arti efisien dilihat dari segi waktu, biaya dan
tersedianya guru.
b) Mudah dalam arti materi dapat disesuaikan dengan terbatasnya waktu,
karakteristik siswa, materi pelajaran, dan tersedianya alat pelajaran.
c) Meningkatkan daya dengar siswa dan menumbuhkan minat belajar
dari sumber lain.
d) Memperoleh penguatan, dalam arti guru memperoleh penghargaan,
kepuasan dan sikap percaya diri dari siswa yang diajar jika siswa
memperhatikannya dan kelihatan senang karena mengajarnya guru
baik.
e) Ceramah dapat memberikan wawasan yang luas karena guru dapat
menambah dan mengkaitkan dengan sumber dan materi lain dalam
kehidupan sehari-hari.
2) Kelemahan Metode Ceramah
a) Siswa dapat menjadi jenuh terutama kalau guru tidak pandai
menjelaskan.
b) Dapat menimbulkan verbalisme pada siswa.
c) Materi ceramah terbatas pada yang diingat guru.
d) Bagi siswa yag keterampilan mendengarkannya kurang akan
dirugikan.
e) Siswa dijejali dengan konsep yang belum tentu dapat diingat terus.
f) Informasi yang disampaikan mudah usang dan ketinggalan zaman.
g) Tidak merangsang berkembangnya kreatifitas siswa.
h) Terjadi interaksi satu arah yaitu dari guru kepada siswa.
e. Cara Mengatasi Kelemahan Metode Ceramah
1) Selang-selingilah ceramah dengan pertanyaan-pertanyaan.
2) Gunakan alat peraga baik langsung maupun tiruan, serta lakukan
demonstrasi untuk meragakan konsep yang Anda kemukakan.
3) Ciptakan interaksi yang bervariasi antara guru-siswa, siswa-guru, siswa-
siswa. 4) Lakukan gaya mengajar yang bervariasi supaya siswa tidak bosan
mendengarkan ceramah Anda.
f. Langkah-langkah Pelaksanaan Metode Ceramah
Jika Anda melaksanakan metode ceramah, langkah-langkah apa saja yang
harus Anda lakukan? Langkah-langkah yang harus dilakukan meliputi
kegiatan persiapan, kegiatan pelaksanaan dan kegiatan mengakhiri ceramah.
1) Kegiatan Persiapan
a) Merumuskan tujuan yang ingin dicapai. Tujuan harus dirumuskan
dengan jelas sehingga jelas pula apa yang harus dikuasai siswa setelah
proses pembelajaran selesai.
b) Menentukan pokok-pokok materi yang akan diceramahkan.
Keberhasilan ceramah sangat tergantung pada penguasaan guru
terhadap materi yang akan diceramahkan. Pokok-pokok materi itu
harus sesuai dengan tujuan pembelajaran yang harus dicapai.
Disamping itu diperlukan pula ilustrasi-ilustrasi atau contoh-contoh
yang relevan untuk memperjelas informasi yang disampaikan.
c) Mempersiapkan alat bantu. Alat bantu ini dapat mempermudah
pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan. Disamping itu alat
bantu juga dapat membantu meningkatkan kualitas ceramah.
2) Kegiatan Pelaksanaan
Ada tiga kegiatan yang perlu dilakukan oleh guru yaitu :
a) Kegiatan pembukaan
Dalam kegiatan pembukaan ini, guru paling tidak harus melakukan :
Apersepsi yaitu menanyakan kembali pelajaran yang lalu.
Motivasi yaitu suatu anekdot yang berusaha mengaitkan peristiwa
dalam kehidupan yang berkaitan dengan materi yang akan
diajarkan.
Memberi acuan yaitu menyampaikan tujuan pengajaran atau
pokok-pokok materi yang akan diajarkan.
b) Kegiatan inti pelajaran
Yaitu kegiatan penyampaian materi pembelajaran melalui informasi
lisan. Agar ceramah guru berkualitas maka guru harus dapat menarik
perhatian siswa agar tetap terarah pada materi yang sedang
disampaikan. Untuk menjaga perhatian siswa, guru perlu melakukan
hal-hal berikut:
Menjaga kontak pAndang dengan siswa secara terus menerus.
Gunakan bahasa yang komunikatif agar mudah dimengerti siswa. Sajikan materi secara sistematis tidak meloncat-loncat sehingga
tidak membingungkan siswa.
Tanggapi respon siswa dengan segera dan secara antusias.
Jagalah suasana kelas agar tetap kondusif dan menggairahkan
untuk belajar.
Selang-selingilah ceramah Anda dengan pertanyaan-
pertanyaan/tanya jawab.
c) Kegiatan mengakhiri ceramah
Ceramah harus diakhiri melalui prosedur tertentu agar materi yang
barus diterima tidak dilupakan. Prosedur itu adalah :
Membimbing siswa membuat rangkuman atas materi yang baru
disampaikan.
Melakukan evaluasi formatif.
Melakukan tindak lanjut, yaitu mengajarkan kembali materi yang
belum dikuasai siswa atau memberi tugas tambahan jika siswa
telah menguasai materi berdasarkan hasil evaluasi formatif. 2. Metode Tanya Jawab
a. Pengertian
Apa yang dimaksud metode tanya jawab dalam pembelajaran di sekolah?
Metode tanya jawab adalah cara penyampaian suatu pelajaran melalui
interaksi dua arah dari guru kepada siswa atau dari siswa kepada guru agar
diperoleh jawaban kepastian materi melalui jawaban lisan guru atau siswa.
Dalam metode tanya jawab, guru dan siswa sama-sama aktif. Siswa dituntut
untuk aktif agar mereka tidak tergantung pada keaktifan guru. Rasa ingin tahu
anak usia SD harus ditumbuh-suburkan agar ia menjadi manusia yang kreatif.
Untuk itu guru harus menguasai keterampilan bertanya dan juga harus mempunyai semangat yang tinggi didalam menciptakan situasi yang kondusif
bagi terlaksananya tanya jawab yang mendidik.
b. Tujuan
Adapun tujuan metode tanya jawab adalah :
1) Untuk mengetahui penguasaan siswa terhadap materi pelajaran.
2) Mendorong siswa berani mengajukan pertanyaan kepada guru tentang
masalah yang belum dipahami
3) Menimbulkan kompetisi belajar yang sehat, dimana siswa yang aktif dan
dapat menjawab pertanyaan guru atau siswa lain dengan baik akan lebih
percaya diri dan akan terus berusaha untuk lebih baik lagi, dan siswa
yang belum aktif atau tidak dapat menjawab pertanyaan guru atau siswa
lainnya dapat mempersiapkan diri lebih baik lagi dalam kesempatan lain.
4) Melatih siswa untuk berpikir dan berbicara secara sistematis dan sistemik
berdasarkan pemikiran yang orisinal.
5) Dengan metode tanya jawab siswa diarahkan agar mengerti, memahami
dan berinteraksi secara aktif dalam pembelajaran sehingga tujuan dapat
dicapai dengan baik.
c. Alasan Menggunakan Metode Tanya Jawab
Mengapa guru menggunakan metode tanya jawab dalam pembelajaran ?
Alasan guru menggunakan metode tanya jawab adalah untuk :
1) Menimbulkan rasa ingin tahu siswa terhadap permasalahan yang sedang
dibicarakan sehingga timbul partisipasi aktif dan aktifitas mental yang
tinggi pada siswa.
2) Menimbulkan pola fikir reflektif, sistematis, kreatif`dan kritis.
3) Mewujudkan cara belajar siswa aktif.
4) Melatih dan memberanikan siswa untuk belajar mengekspresikan
kemampuan lisan.
5) Memberi kesempatan siswa menggunakan pengetahuan yang telah
dimilikinya.
d. Kekuatan dan Keterbatasan Metode Tanya Jawab
1) Kekuatan Metode tanya jawab
Keunggulan Metode tanya jawab meliputi sebagai berikut
a) Dapat menarik dan memusatkan perhatian siswa terhadap pelajaran.
b) Mengetahui kedudukan atau kualitas siswa dalam belajar di kelas.
c) Dapat merangsang siswa menggunakan daya pikir dan nalarnya.
d) Menimbulkan keberanian dalam mengemukakan jawaban. 2) Keterbatasan Metode tanya jawab
Keterbatasan metode tanya jawab adalah :
a) Pada kelas yang jumlah siswanya besar pertanyaan dapat disebarkan
ke seluruh siswa sehingga siswa tidak memiliki kesempatan yang
sama untuk menjawab atau pun bertanya.
b) Siswa yang tidak aktif tidak memperhatikan, bahkan tidak terlibat
secara mental.
c) Sering guru tidak memiliki keterampilan bertanya yang memadai
sehingga tujuan pelajaran tidak tercapai.
d) Menimbulkan rasa rendah diri pada siswa yang tidak memiliki
keberanian menjawab atau bertanya.
e) Dapat membuang-buang waktu bila siswa tidak responsif terhadap
pertanyaan.
e. Cara Mengatasi Kelemahan Metode Tanya Jawab
Bagaimana cara mengatasi kelemahan metode tanya jawab? Beberapa tips
untuk mengatasi kelemahan metode tanya jawab :
1) Jumlah siswa dalam satu kelas tidak boleh lebih dari 40 orang siswa, agar
pertanyaan guru dapat dijawab oleh sebagian besar siswa.
2) Siswa yang tidak aktif harus diminta mengulangi jawaban siswa yang
benar, jika dia dapat mengulangi jawaban temannya tadi dengan benar,
maka dia harus diberi penguatan positif agar ia tertarik dan ikut aktif.
3) Guru harus terampil dalam mengemukakan pertanyaan.
4) Pertanyaan-pertanyaan harus disusun mulai dari yang mudah sampai
dengan yang sukar agar siswa yang kurang pintar dapat pula menjawab
pertanyaan.
f. Langkah-langkah Pelaksanaan Metode Tanya Jawab
Bagaimana cara melaksanakan metode tanya jawab dengan baik? Metode
tanya jawab ini dapat dilakukan dengan langkah-langkah pelaksanaan sebagai
berikut :
1) Kegiatan Persiapan
a) Rumuskan tujuan yang harus dicapai oleh siswa setelah pembelajaran
berakhir
b) Siapkan materi pembelajaran sesuai dengan tujuan yang telah
dirumuskan. c) Siapkan pertanyaan-pertanyaan yang akan digunakan sesuai dengan
ranah kognitif, afektif, atau psikomotorik (tergantung materi dan
tujuan pelajaran).
2) Kegiatan Pelaksanaan
a) Kegiatan Pembukaan
Seperti halnya metode ceramah, sebelum kegiatan inti pelajaran, guru
melaksanakan kegiatan membuka pelajaran yang meliputi :
Mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk memotivasi siswa yaitu
pertanyaan-pertanyaan yang ada kaitannya dengan materi yang
akan diajar.
Mengajukan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
b) Kegiatan Inti Pelajaran
Kegiatan ini dilakukan melalui metode tanya jawab dengan
memperhatikan hal-hal berikut:
Ajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai materi pelajaran seperti
yang telah dipersiapkan sebelumnya.
Gunakan keterampilan-keterampilan bertanya dasar dan lanjut
seperti memberi acuan, pemusatan, menggilir, menyebarkan,
memberi waktu berpikir, memberi tuntunan, mengajukan
pertanyaan melacak dan sebagainya.
Jangan lupa memberi penguatan yang dapat menjawab pertanyaan
guru dan menghindari pemberian penguatan negatif bagi siswa
yang tidak dapat menjawab pertanyaan atau yang jawabannya
salah.
Beri tuntunan bagi siswa yang tidak bisa menjawab pertanyaan
guru atau bagi siswa yang jawabannya salah. Jika siswa tidak
dapat menjawab pertanyaan alihkan ke beberapa siswa lain sampai
diperoleh jawaban yang benar. Siswa yang menjawab salah
diminta mengulangi jawaban yang benar dan diberi penguatan
yang benar. Jika tidak ada satupun siswa yang menjawab dengan
benar, maka guru harus menjawab dan memberi penjelasan.
Jika ada siswa yang bertanya lemparkan pertanyaan itu pada siswa
lain untuk menjawabnya, jangan terburu-terburu guru sendiri yang
menjawab pertanyaan itu.
Pertanyaan guru yang sahih (analisis, sintesis dan evaluasi) beri
kesempatan siswa mendiskusikan dengan teman sebangkunya
untuk memperoleh jawaban yang benar. Setiap pokok bahasan yang selesai dipertanyakan guru meminta
siswa untuk membuat kesimpulannya
c) Kegiatan Mengakhiri Tanya Jawab
Apa yang harus dilakukan guru dalam mengakhiri pembelajaran
dengan metode tanya jawab ini? Adapun yang harus dilakukan guru
adalah:
Meminta siswa merangkum isi pelajaran yang dilaksanakan
melalui tanya jawab itu. Guru membimbing siswa membuat
rangkuman itu melalui tuntunan atau pertanyaan-pertanyaan
pelacak untuk memperoleh rangkuman yang diinginkan.
Guru melakukan evaluasi dengan mengajukan pertanyaan-
pertanyaan untuk mengetahui tingkat penguasaan siswa terhadap
materi yang diajarkan.
Guru memberi tugas untuk mempelajari materi pelajaran di rumah
untuk makin menguasai materi tersebut. 3. Metode Demonstrasi
a. Pengertian
Sanjaya (2006), dan Sumantri dan Permana (1998/1999) mengemukakan
bahwa demonstrasi adalah cara penyajian pelajaran dengan memperagakan
dan mempertunjukkan pada siswa tentang suatu proses, situasi atau benda
tertentu yang sedang dipelajari baik dalam bentuk sebenarnya maupun dalam
bentuk tiruan yang dipertunjukkan oleh guru atau sumber belajar lain yang
ahli dalam topik bahasan yang harus didemonstrasikan.
Metode Demonstrasi biasanya berkenaan dengan tindakan-tindakan atau
prosedur yang dilakukan misalnya : proses mengerjakan sesuatu, proses
menggunakan sesuatu, membandingkan suatu cara dengan cara lain, atau
untuk mengetahui/melihat kebenaran sesuatu. b. Tujuan
Apa tujuan digunakannya metode demonstrasi ? Metode demonstrasi
digunakan dengan tujuan :
1) Mengajarkan suatu proses atau prosedur yang harus dikuasai oleh siswa.
2) Mengkongkritkan informasi atau penjelasan kepada siswa.
3) Mengembangkan kemampuan pengamatan kepada para siswa secara
bersama-sama.
c. Alasan Penggunaan Metode Demonstrasi
Kapan guru menggunakan metode demonstrasi ? Guru menggunakan metode
demonstrasi apabila :
1) Tidak semua topik dapat dijelaskan secara gamblang dan konkrit melalui
penjelasan atau diskusi.
2) Karena tujuan dan sifat materi pelajaran yang menuntut dilakukan
peragaan berupa demonstrasi.
3) Tipe belajar siswa yang berbeda-beda, ada yang kuat visual, tetapi lemah
dalam auditif dan motorik, ataupun sebaliknya.
4) Memudahkan mengajarkan suatu proses atau cara kerja.
5) Sesuai dengan langkah perkembangan kognitif siswa yang masih dalam
fase operasional konkrit.
d. Kekuatan dan Keterbatasan Metode Demonstrasi
1) Kekuatan Metode Demonstrasi
Apa Kelebihan Metode Demonstrasi dibanding dengan metode yang lain?
Kelebihan metode demonstrasi dibanding dengan metode yang lain
adalah:
a) Pelajaran menjadi lebih jelas dan lebih konkrit sehingga tidak terjadi
verbalisme.
b) Siswa akan lebih mudah memahami materi pelajaran yang
didemontrasikan itu.
c) Proses pembelajaran akan sangat menarik, sebab siswa tak hanya
mendengar tetapi juga melihat peristiwa yang terjadi.
d) Siswa akan lebih aktif mengamati dan tertarik untuk mencobanya
sendiri.
e) Menyajikan materi yang tidak bisa disajikan oleh metode lain.
2) Kelemahan Metode Demonstrasi
Apa Kelemahan Metode Demonstrasi ? Beberapa kelemahan metode
demonstrasi antara lain: a) Tidak semua guru dapat melakukan demonstrasi dengan baik.
b) Terbatasnya sumber belajar, alat pelajaran, media pembelajaran,
situasi yang sering tidak mudah diatur dan terbatasnya waktu.
c) Demonstrasi memerlukan waktu yang lebih banyak dibanding dengan
metode ceramah dan tanya jawab.
d) Metode demonstrasi memerlukan persiapan dan perancangan yang
matang.
e. Cara Mengatasi Keterbatasan Metode Demonstrasi
Upaya-upaya apa yang dapat dilakukan untuk mengatasi kelemahan metode
demonstrasi? Kelemahan metode demonstrasi dapat diatasi melalui berbagai
cara berikut:
1) Guru harus terampil melakukan demonstrasi.
2) Melengkapi sumber, alat dan media pembelajaran yang diperlukan untuk
demonstrasi.
3) Mengatur waktu sebaik mungkin.
4) Membuat rancangan dan persiapan demonstrasi sebaik mungkin.
f. Langkah-langkah Pelaksanaan Metode Demonstrasi
Apa saja langkah-langkah pelaksanaan metode demonstrasi? Langkah-
langkah pelaksanaan metode demonstrasi meliputi hal-hal berikut :
1) Kegiatan Persiapan
Merumuskan tujuan pembelajaran yang harus dicapai oleh siswa
Menyusun materi yang akan diajarkan untuk mencapai tujuan yang
telah dirumuskan.
Menyiapkan garis besar langkah-langkah demonstrasi yang akan
dilakukan untuk mempermudah penguasaan materi yang telah
disiapkan.
Melakukan latihan pendemonstrasian termasuk cara penggunaan
peralatan yang diperlukan.
2) Kegiatan Pelaksanaan Metode Demonstrasi
a) Kegiatan Pembukaan
Sebelum kegiatan demonstrasi, ada beberapa hal yang harus dilakukan
dalam pembukaan pelajaran :
Aturlah tempat duduk yang memungkinkan setiap siswa dapat
memperhatikan apa yang didemonstrasikan guru.
Tanyakan pelajaran sebelumnya. Timbulkan motivasi siswa dengan mengemukakan anekdot atau
kasus di masyarakat yang ada kaitannya dengan pelajaran yang
akan dibahas.
Kemukakan tujuan apa yang harus dicapai oleh siswa dan juga
tugas-tugas apa yang harus dilakukan disamping dalam
demonstrasi nanti.
b) Kegiatan Inti Pembelajaran
Mulailah melakukan demonstrasi sesuai yang telah direncanakan
dan dipersiapkan oleh guru.
Pusatkan perhatian siswa kepada hal-hal penting yang harus
dikuasai dari demonstrasi yang dilakukan oleh guru sehingga
semua siswa mengikuti jalannya demonstrasi dengan sebaik-
baiknya.
Ciptakan suasana kondusif dan hindari suasana yang
menegangkan.
Berikan kesempatan kepada siswa untuk aktif dan kritis mengikuti
proses demonstrasi termasuk memberi kesempatan bertanya dan
komentar-komentar.
c) Kegiatan Mengakhiri Pembelajaran
Jika demonstrasi telah selesai, yang dilakukan guru selanjutnya
adalah:
Meminta siswa merangkum atau menyimpulkan pokok-pokok
atau langkah-langkah kegiatan demonstrasi.
Memberi kesempatan pada siswa untuk bertanya mengenai hal-hal
yang belum dipahami.
Melakukan evaluasi, baik evaluasi hasil belajar maupun evaluasi
bersama tentang jalannya proses demonstrasi.
Tindak lanjut baik berupa tugas-tugas berikutnya maupun tugas-
tugas untuk mendalami materi yang baru diajarkan.
PENDEKATAN KETRAMPILAN PROSES (PKP)
A. Rasional Penerapan PKP Dalam Pembelajaran
Pendekatan Ketrampilan Proses, seperti telah ditegaskan sebelumnya,
adalah pendekatan yang menekankan penggunaan ketrampilan memproseskan
perolehan dalam pembelajaran yang dikembangkan sebagai konsep terlaksana untuk
menerapkan Pendekatan CBSA. Oleh karena itu, alasan dikembangkannya PKP ini
tidak berbeda secara prinsip dengan rasional Pendekatan CBSA. Rasional penerapan
PKP dalam pembelajaran (Conny Semiawan, dkk,1985: 14-16; Moedjiono dan Moh.
Dimyati, 1992/1993: 12-14) sebagai berikut:
1. Percepatan perkembangan ilmu pengetahuan menyebabkan bahan ajar, yang
bersumber dari ilmu pengetahuan itu makin banyak (makin luas dan atau
mendalam) sehingga tidak mungkin lagi guru mengajarkan semua fakta dan
konsep itu kepada muridnya dalam pembelajaran di sekolah. Kalau guru tetap
berusaha mengajarkan semua fakta dan konsep itu, maka guru biasanya
memilih cara praktis dengan metode ceramah. Akibatnya, murid mengetahui
banyak fakta dan konsep yang diajarkan itu, tetapi murid tidak dilatih untuk
menemukan dan atau mengembangkan fakta, konsep, dan atau prinsip,
dengan kata lain, tidak dilatih untuk mengembangkan ilmu pengetahuan.
2. Perkembangan kognitif murid SD-MI yang masih berada pada tahap operasi
konkrit sehingga masih memerlukan contoh nyata untuk dapat memahami
konsep yang abstrak dan rumit, utamanya dengan memperaktekkan sendiiri
upaya menemukan konsep itu. Hal itu sesuai dengan salah satu prinsip PKP
yakni perkembangan kognitif sesungguhnya dilandasi oleh gerakan dan
perbuatan, seperti pendapat Jean Piaget “….. mengetahui sesuatu obyek tak
lain daripada memperlakukannya”; esensi pengetahuan adalah aktivitas, baik
fisik dan terutama mental. Tugas guru adalah menyiapkan suatu lingkungan
belajar yang menggiring murid untuk bertanya, mengamati, mengadakan
percobaan, dll untuk menemukan fakta, konsep, dan atau prinsip. Murid
mulai belajar menjadi seorang „ilmuwan‟.
3. Penemuan ilmu pengetahuan hanyalah suatu kebenaran relatif yang masih
tetap terbuka untuk dikaji dan diuji kembali. Hal tersebut menuntut suatu
sikap ilmiah dari para ilmuwan yakni mampu dan mau mengkaji dan menguji
kembali sesuatu yang telah dianggap benar. Sikap ilmiah itu seharusnya
mulai ditanamkan pada setiap murid SD-MI. Dari sisi lain, murid mulai
dibiasakan untuk mempertanyakan dan mencari kemungkinan-kemungkinan
lain, dengan kata lain, murid dibiasakan untuk berpikir dan bertindak kreatif.
4. Setiap pembelajaran harus tetap berusaha untuk mengembangkan kepribadian
murid secara holistik. Meskipun suatu pembelajaran berada dikawasan ranah
kognitif, tetapi pembelajaran itu tidak boleh dilepaskan dari ranah afektif dan
atau psikomotorik. PKP yang menekankan pengembangan ketrampilan
memproseskan perolehan (kawasan psikomotorik: ketrapilan fisik/intelekual)
akan berperan sebagai wahana penyatukait antara pengembangan konsep
(ranah kognitif) dan pengembangan sikap dan nilai (ranah afektif).
Demikianlah beberapa alasan yang mendorong dikembangkannya PKP sebagai
konsep terlaksananya penerapkan Pendekatan CBSA, namun bukanlah pengaktifan
murid yang “…..tanpa isi, tanpa pesan, tanpa rancangan, dan tanpa arah.
……..[Tetapi] yang dipraktekkan adalah cara belajar siswa aktif yang
mengembangkan ketrampilan proses perolehan.” (Conny Semiawan, dkk, 1985: 16).
Pembelajaran aktif dan bermakna itu menuntut aktivitas murid yang bukan hanya
bersifat fisik, melainkan yang utama adalah keterlibatan mental (intelektual dan atau
emosionl). Pembelajaran yang bermakna itu akan menumbuhkan prakarsa dan
kreativitas murid dalam pembelajaran, serta akan mendorong perkembangan mental
yang kadarnya tinggi dalam 2 (dua) komponen penting yakni (1) berpikir kritis
dalam mencari kebenaran fakta, konsep, prinsip, dan atau teori, dan (2) kreativitas
dalam mencari kebermaknaan (Siler, 1990, dan Lipman, 1991, dari Conny R.Semiawan, 1993:17-19). Seperti diketahui, proses berpikir dapat dibedakan dalam
2 (dua) fungsi utama, yakni (1) berpikir kritis, rasional logis, konvergen (memusat)
sebagai fungsi utama dari belahan otak kiri, dan (2) berpikir kreatif, divergen
(memencar) sebagai fungsi utama dari otak kanan. Kedua sisi fungsi berpikir itu
saling melengkapi dan merupakan satu kesatuan, dan keduanya seharusnya
dikembangkan secara seimbang, serasi dan selaras dalam pembelajaran di SD-MI.
Dalam pengamatan tentang pembelajaran di SD-MI, diperoleh kesan bahwa berpikir
kreatif belum cukup dikembangkan.
B. Pengertian Pendekatan Ketrampilan Proses (PKP)
Pendekatan Ketrampilan Proses (PKP) adalah pendekatan pembelajaran yang
mengutamakan penerapan berbagai ketrampilan memproseskan perolehan dalam
pembelajaran itu “Ketrampilan memproseskan perolehan adalah suatu konsep
terlaksana yang dapat membantu kita untuk menerapkan Cara Belajar Siswa Aktif
(CBSA) …” (Conny Semiawan, 1985: 3). Penerapan PKP dalam pembelajaran
memberi penekanan agar dalam pembelajaran itu para murid dilatihkan ketrampilan-
ketrampilan mendasar yang biasa dipergunakan para ilmuwan dalam menghasilkan
penemuan-penemuan besar dalam ilmu pengetahuan, seperti: mengamati,
menghitung, mengukur, mengklasifikasi, dll. Ketrampilan mendasar itu yang telah
menghasilkan penemuan besar dalam ilmu pengetahuan, seperti: „pemutarbalikan‟
Copernicus yang mengemukakan bahwa bukan matahari yang mengedari bumi
(seperti anggapan umum pada saat itu) tetapi terbalik: bumi yang mengedari
matahari, atau penemuan ketidaksadaran (Id/Das unbewuzte) oleh Sigmund Freud
dengan aliran Psikoanalisa, atau penemuan gagasan koperasi oleh Muhammad Hatta
(Bung Hatta), dsb Penemuan-penemuan besar itu dilakukan karena para ilmuwan
tersebut menguasai berbagai ketrampilan mendasar (fisik dan atau mental),
meskipun penguasaan fakta, konsep, prinsip dan atau teori dalam bidangnya
mungkin masih terbatas.
Ketrampilan-ketrampilan mendasar yang dikuasai para ilmuwan itu pada
prinsipnya terdapat juga dalam diri anak, hanya masih potensial dan atau masih
sederhana dan belum berkembang. Kalau diperhatikan seorang anak dan seorang
ilmuwan menyelidiki sesuatu disekitarnya, umpama seekor kupu-kupu, maka
keduanya didorong oleh hasrat ingin tahu yang besar, serta pada dasarnya keduanya
menggunakan ketrampilan proses yang sama, yakni kemungkinan keduanya
mengamati, menghitung, mengukur, dsb. Perbedaannya hanyalah bahwa para
ilmuwan menggunakan ketrampilan proses itu dengan lebih intensif dan berkualitas.
Para ilmuwan bekerja dengan landasan teoritis, lebih terarah dan sistimatis, seperti:
ilmuwan itu merumuskan masalah, membuat hipotesis, melakukan
penelitian/eksperimen, serta mengumpulkan, mengolah, dan menginterpretasi data,
dsb. Intensitas dan kualitas penguasaan ketrampilan proses itulah yang menghantar
para ilmuwan menghasilkan penemuan-penemuan besar dalam ilmu pengetahuan.
Pembelajaran di SD-MI seyogianya secara dini menumbuhkan dan
mengembangkan ketrampilan proses seperti yang dikuasai para ilmuwan itu dengan
menerapkan PKP dalam pembelajaranya. Dengan penerapan PKP dalam
pembelajaran, murid dengan memproseskan perolehannya akan mampu menemukan
sendiri fakta, konsep, dan atau prinsip (pengembangan pengetahuan-pemahaman
dalam ranah kognitif), dan seiring dengan itu, pembelajaran itu secara berangsur tapi
berlanjut akan mengembangkan sikap dan nilai pada siswa yang relevan seperti
cermat, teliti, jujur, dsb. Dengan kata lain, pembelajaran yang semula menggunakan
berbagai ketrampilan proses (fisik, social, dan atau intelektual dalam ranah
psikomotorik), akan menghantar murid pada suatu pengetahuan-pemahaman (dalam
ranah kognitif), serta seiring dengan itu menumbuhan pula sikap dan nilai yang
relevan (dalam ranah afektif). “Seluruh irama gerak atau tindakan dalam proses
belajar-mengajar seperti ini akan menciptakan kondisi cara belajar siswa aktif. Inilah
sebenarnya yang dimaksudkan dengan pendekatan proses” (Conny Semiawan, dkk,
1985: 18).. Pendekatan proses itu akan mengembangkan kreativitas murid, yang
pada gilirannya, akan menjadi landasan untuk pegembangan kepribadiannya secara
keseluruhan.
Terdapat beberapa manfaat yang dapat dicapai dengan menerapkan PKP dalam
pembelajaran di SD-MI (Funk, 1985; dari Moedjiono dan Moh. Dimyati, 1992/1993:
14) sebagai berikut:
1. Dengan penerapan PKP dalam pembelajaran, murid akan memperoleh
pengertian yang tepat tentang hakekat ilmu pengetahuan;
2. Dengan penerapan PKP dalam pembelajaran berarti murid bekerja dengan
ilmu pengetahuan, tidak sekadar memperoleh informasi tentang ilmu
pengetahuan itu.
3. Dengan penerapan PKP dalam pembelajaran, murid secara serentak belajar
tentang proses dan produk ilmu pengetahuan.
Penerapan PKP dalam pembelajaran akan menempatkan murid sebagai
„ilmuwan‟ dalam menggeluti ilmu pengetahuan itu, dengan kata lain, murid
berperan sebagai „produsen‟ bukan sekadar penerima ilmu pengetahuan itu.
A. Jenis-Jenis Ketrampilan Proses
Terdapat berbagai ketrampilan proses yang perlu diterapkan dalam
pembelajaran yang menggunakan Pendekatan Ketrampilan Proses itu (Conny
Semiawan, dkk, 1985:19-34; Moedjiono dan Moh. Dimyati, 1992/1993: 15-19)
sebagai berikut:
1. Observasi atau Pengamatan
Sebagai ketrampilan ilmiah yang mendasar, mengobservasi atau mengamati
adalah penggunaan semua alat indra (untuk melihat, mendengar, meraba, mencium,
dan atau mengecap) dengan seksama untuk memilah-milahkan sesuatu yang penting
dari yang kurang/tidak penting. Murid dalam kehidupannya sehari-hari pasti banyak
melihat benda, binatang, tumbuhan, dan atau orang disekitarnya, atau mendengar
kicauan burung, bunyi klakson kendaraan, dll, atau merasakan hembusan angin, dsb.
Tetapi penglihatan, pendengaran, perabaan, dll itu hanya sepintas dan kurang
saksama, sehingga kegiatan itu bukan observasi atau pengamatan. Prasyarat utama
dalam observasi adalah pemusatan perhatian, ketelitian, dan kecermatan dalam
melihat, mendengar, dsb sehingga dapat memilahkan yang penting dari yang lainnya.
Murid seharusnya dilatih melalui pembelajaran untuk melakukan observasi atau
pengamatan dengan cermat dan terarah, dan tidak sekadar melihat/mendengar
sesuatu itu sepintas lalu.
2. Penghitungan
Menghitung merupakan ketrampilan mendasar yang banyak sekali
dipergunakan para ilmuwan dalam bekerja Oleh karena itu, menghitung harus
dilatihkan melalui pembelajaran di SD-MI, bukan hanya dalam pembelajaran
matematika tetapi juga pembelajaran lainnya, seperti dalam pembelajaran ilmu
pengetahuan alam (menghitung jumlah daun, kaki belalang, dsb), pembelajaran ilmu
pengetahuan social (menghitung jumlah anggota keluarga, penduduk satu wilayah),
pembelajaran Bahasa Indonesia (menghitung jumlah kata dalam setiap kalimat,
jumlah kalimat dalam satu alinea, dsb), dan lain-lain. Hasil perhitungan itu dapat
dilaporkan dengan membuat tabel, grafik, dan atau histogram, Tingkat kesulitan
penghitungan itu harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan dan kemampuan
murid, di kelas-kelas awal dengan penghitungan sederhana, sedangkan untuk kelas-
kelas lanjut dengan penghitungan dan cara pelaporan yang lebih rumit.
3. Pengukuran
Ketrampilan pengukuran adalah salah satu ketrampilan penting dan banyak
dipergunakan para ilmuwan dalam pekerjaannya; oleh karena itu, ketrampilan
pengukuran harus menjadi bagian penting dalam pembelajaran di SD-MI.
Pengukuran didasarkan pada perbandingan, seperti membandingkan panjang, luas,
volume dari benda, membandingkan kecepatan, suhu, dsb. Melatih murid melakukan
berbagai pengukuran haruslah menjadi .Bagian penting dalam pembelajaran di SD-
MI. Pelatihan pengukuran itu dilakukan secara bertahap, pada awalnya hanya
membandingkan panjang, besar, berat, dll terhadap benda di sekitarnya, kemudian
mulai diperkenalkan dengan ukuran seperti meter, gram, liter, dll yang disesuaikan
dengan tingkat perkembangan dan kemampuan murid.
4. Klasifikasi
Ketrampilan klasifikasi atau menggolong-golongkan sesuau merupakan
pekerjaan rutin seorang ilmuwan, dan karena itu murid SD-MI sejak dini harus
diperkenalkan dengan ketrampilan klasifikasi ini. Murid harus terlatih melihat
persamaan dan perbedaan sesuatu sebagai dasar klasifikasi itu, baik berdasarkan ciri
khusus, tujuan, maupun untuk kepentingan tertentu. Melalui pembelajaran, murid
ditugaskan melakukan penggolongan berbagai benda disekitarnya, umpama
klasifikasi klereng berdasarkan warnanya, kancing baju berdasarkan besarnya, daun-
daunan bedasarkan bentuknya, dsb. Dengan demikian, murid akan terlatih
mengamati sesuatu secara cermat, mengenal persamaan dan perbedaan benda-benda
tersebut, serta mampu menggolong-golongkannya sesuai ciri-ciri khususnya masing-
masing. Di kelas awal, cara klasifikasi yang ditugaskan masih sederhana, dan makin
lanjut kelas dengan kemampuan murid yang mulai berkembang, tugas klasfikasi
makin sulit, baik isi tugasnya maupun cara pengolahan hasil klasifikasi itu dalam
pelaporan.
.5. Pengenalan Ruang dan Waktu serta Hubungan Keduanya
Ketrampilan berkaitan dengan pengenalan bentuk-bentuk ruang (lingkaran,
persegi empat, segi tiga, kubus, silinder, dll), pengenalan arah (bawah, atas,
belakang, depan, kiri, kanan, dll), pengenalan waktu (menit, jam, sehari, seminggu,
sebulan dll) serta hubungan yang satu dengan lainnya (arah, jarak, dan waktu, seperti
lamanya mengelilingi suatu lingkaran, dll) termasuk ketrampilan yang sering
dipergunakan ilmuwan dalam bekerja. Oleh karena itu, ketrampilan ini perlu
dilatihkan kepada murid SD-MI melalui pembelajaran., seperti menetapkan bentuk
suatu ruang atau benda, arah suatu gerakan, lamanya waktu yang dipakai untuk
mengelilingi lapangan olah raga dengan berjalan kaki atau berlari, dsb.
6. Pembuatan Hipotesis
Pembuatan hipotesis merupakan ketrampilan yang sangat penting bagi
seorang ilmuwan. Suatu hipotesis adalah suatu perkiraan ilmiah tentang pemecahan
suatu masalah, penjelasan suatu keadaan, dll, yang selanjutnya diuji kebenarannya
melalui penelitian, eksperimen, dsb. Murid SD-MI perlu memperoleh latihan untuk
membuat hipotesis yang kemudian diuji dengan eksperimen sederhana melalui
berbagai pembelajaran di sekolah. Sebagai contoh: karena setiap pembakaran
memerlukan oksigen yang ada diudara, maka lilin yang menyala akan mati apabila
ditutup rapat; atau lilin menyala yang penutupnya kecil akan padam lebih dahulu
dari pada lilin menyala yang penutupnya lebih besar. Karena tanaman memerlukan
air, maka tanaman yang disiram teratur akan lebih subur dari pada tanaman yang
kurang/jarang disiram (dengan catatan: kedua tanaman itu ditempatkan pada tempat
yang tidak kena hujan). Pembuatan dan pengujian hipotesis melalui eksperimen akan
menumbuhkan/mengembangkan berbagai ketrampilan mendasar seperti yang diperlukan para ilmuwan dalam bekerja, tetapi juga murid akan menemukan sendiri
pengetahuan-pemahaman yang ilmiah, dan serentak dengan itu, akan
menumbuhkan/mengembangkan sikap ilmiah.
7. Perencanaan Penelitian/Eksperimen
Eksperimen atau percobaan dapat dilakukan oleh siapa saja dalam kehidupan
sehari-hari, tetapi kebanyakan melakukannya secara trial and error saja; demikian
pula dengan anak, sering melakukan percobaan trial and error dengan mainannya,
dengan binatang peliharaannya, dan sebagainya. Berbeda dengan kebanyakan orang,
para ilmuwan melakukan eksperimen dalam rangka penelitian untuk menguji
hipotesisnya. Para ilmuwan melakukan penelitian/eksperimen dilandasi oleh dasar
teoritis, serta dilakukan secara sistimatis dan terarah yang dipandu oleh hipotesisnya.
Oleh karena itu, pembelajaran di SD-MI seharusnya meningkatkan kemampuan
murid yang biasa melakukan percobaan secara trial and error saja menjadi suatu
eksperimen yang dipandu oleh suatu hipotesis yang dilandasi dasar teoritis, dan
dilakukan secara sistimatis dan terarah. Melalui pembelajaran, disamping
eksperimen, murid dibiasakan pula melakukan berbagai penelitian sederhana,
seperti: jumlah anak dari setiap orang tua murid di kelasnya, tinggi badan seluruh
murid di kelasnya, dsb. Dapat pula melakukan penelitian yang lebih rumit, umpama
hubungan antara tinggi badan dan berat seseorang, hubungan antara tinggi badan
dengan nomor sepatu yang dipakainya, dsb. Perlu ditekankan bahwa setiap
penelitian/eksperimen harus didahului oleh perencanaan yang matang, sehingga
penelitian/eksperimen itu dapat berlangsung seperti yang diinginkan. Dengan
perencanaan itu, dapat diketahui jenis dan jumlah alat dan bahan yang diperlukan,
faktor atau variabel yang harus diperhatikan/dikendalikan, prosedur kerja yang harus
ditempuh, cara mencatat, mengolah, dan menginterpretasi data untuk membuat
kesimpulan, dsb. Kesulitan dan kerumitan penelitian/eksperimen itu disesuaikan
demgam tingkat perkembangan dan kemampuan murid.
8. Pengendalian Variabel
Pengendalian variabel atau faktor yang berpengaruh dalam
penelitian/eksperimen merupakan salah satu ketrampilan mendasar yang dilakukan
para ilmuwan dalam melaksanakan penelitian/eksperimen itu. Pengendalian variabel
meliputi baik variabel bebas maupun variabel tergantung (variabel eksperimen).
Pengendalian variabel, baik variabel bebas maupun variabel tergantung, sangat
penting dalam setiap eksperimen. Dengan demikian, murid perlu segera
diperkenalkan dengan ketrampilan pengendalian variabel itu melalui pembelajaran di SD-MI. Ketrampilan pengendalian variabel dilatihkan secara langsung sewaktu
murid melakukan eksperimen. Sebagai contoh eksperimen tentang pentingnya
berbagai jenis pupuk bagi tanaman: variabel tergantung (variabel yang akan diteliti
adalah pupuk), sedang variabel bebas adalah semua hal yang terkait dengan tanaman,
kecuali pupuk, seperti: bibit tanaman, tanah tempat menanam, curah hujan atau
penyiraman, sinar matahari, dsb. Dalam eksperimen, murid berlatih mengendalikan
variabel bebas agar hal-hal itu sama untuk semua tanaman (baik tanaman percobaan
maupun tanaman lain sebagai pembanding), demikian juga dengan variabel
tergantung (variabel yang akan dicobakan) yakni penggunaan berbagai jenis pupuk
pada beberapa tanaman yang berbeda dan yang tidak dipupuk. Setelah beberapa
minggu, keadaan tanaman yang dipupuk dengan pupuk yang berbeda dan yang tidak
dipupuk dibandingkan, sehingga akan dapat disimpulkan tentang (1) pengaruh pupuk
terhadap kesuburan tanaman, dan (2) jenis pupuk yang lebih menambah kesuburan
tanaman. Dengan latihan pengendalian variabel dalam berbagai eksperimen, murid
akan lebih menguasai ketrampilan pengendalian variabel itu
9. Interpretasi Data
Ketrampilan mengintrepretasi atau menafsirkan data adalah salah satu
ketrampilan kunci dalam keberhasilan ilmuwan dalam pekerjaannya. Data yang telah
dikumpulkan dalam penelitian/eksperimen harus dapat diinterpretasi/ditafsirkan
dengan cara-cara sesuai kaidah ilmiah. Pembelajaran di SD-MI seyogianya melatih
murid untuk menguasai ketrampilan interpretasi data ini. Data yang telah
dikumpulkan melalui berbagai kegiatan seperti: perhitungan, pengukuran,
eksperimen, dan atau penelitian sederhana, diolah dan disajikan dalam berbagai cara
seperti: tabel, grafik, diagram, dan atau histogram, yang selanjutnya diinterpretasikan
dalam berbagai kesimpulan. Umpamanya, pengukuran tinggi badan murid-murid di
kelas sendiri dan disajikan dalam bentuk tabel dapat dibuat tafsiran seperti; tinggi
badan berada dalam rentangan dari terendah ke tertinggi, ketinggian berapa yang
banyak jumlah muridnya, bahkan dapat dihitung rata-rata tinggi badan murid satu
kelas itu, dsb. Dengan pembelajaran yang memberi peluang untuk berlatih
menginterpretasi data, murid akan terbiasa membuat kesimpulan yang sesuai dengan
kaidah ilmiah, dan bukannya kesimpulan yang direka-reka saja
gambar, model, tabel, grafik, diagram, dan sebagainya yang akan memudahkan
orang lain untuk memahami apa yang dikomunikasikan itu. Ketrampilan komunikasi
ini mutlak dikuasai oleh para ilmuwan, agar gagasan, penemuan, dan sejenisnya
dapat tersebar luas dan diketahui orang lain. Murid di SD-MI perlu dibiasakan
mengkomunikasikan gagasan, hasil pengamatan, pengukuran, dan atau eksperimen,
dsb sesuai kaidah komunikasi ilmiah. Dengan bimbingan guru, murid harus
melengkapi laporannya dengan penyajian data yang relevan dengan laporan itu,
seperti gambar, tabel, grafik, dll. Demikian juga laporan hasil kerja tugas dalam
Lembar Kerja Murid, hasil diskusi atau kerja kelompok, serta kegiatan pembelajaran
lainnya yang menghasilkan sesuatu yang perlu dikomunikasikan kepada pihak lain.
Dengan latihan ini, murid secara berangsur akan dapat menguasai ketrampilan
komunikasi ini, baik lisan maupun tertulis.
Demikianlah berbagai jenis ketrampilan proses yang selalu dipakai oleh para
ilmuwan untuk menghasilkan temuan-temuan penting yang telah mengabadikan
namanya dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan. Murid-murid SD-MI secara dini,
bertahap, tetapi berlanjut harus diberi peluang untuk mengusai ketrampilan proses
tersebut melalui pembelajaran di sekolah. Pengembangan ketrampilan proses secara
dini harus telah dimulai di kelas-kelas awal dengan memilih ketrampilan yang sesuai
dengan perkembangan dan kemampuan murid-murid yang bersangkutan, seperti
ketrampilan mengobservasi, perhitungan, klasifikasi, komunikasi, dsb. Untuk kelas-
kelas lanjut harus dilatihkan berbagai ketrampilan proses lainnya yang lebih sulit
dan rumit; hal itulah yang dimaksudkan dengan latihan melalui pembelajaran secara
bertahap tetapi berlanjut. Pengembangan berbagai ketrampilan proses tersebut adalah
hasil akumulasi dari diterapakannya PKP itu melalui berbagai pembelajaran dalam
berbagai bidang studi .
A. Penerapan Ketrampilan Proses Dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Di SD-MI
Setiap pembelajaran selalu berlangsung dalam 3 (tiga) tahapan utama yakni
perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian. Kajian tentang penerapan PKP itu dibatasi
hanya pada tahap perencanaan saja, dengan catatan: Anda dipersilahkan
mempraktekkannya bagi yang berkesempatan dan mau melaksanakan pembelajaran
sesuai dengan gagasan yang dikaji pada tahap perencanaan ini. Anda dapat
mengadakan penyesuaian situasional (penyesuaian sesuai dengan situasi dan kondisi
obyektif di sekolah/kelas tempat pelaksanaan pembelajaran itu). Selanjutnya, kalau
pembelajaran itu sementara dilaksanakan dan memerlukan revisi dari rencana semula, silahkan mengadakan penyesuaian transaksional (penyesuaian karena
kebutuhan nyata sementara pembelajaran berlangsung).
Penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran harus didahului dengan
beberapa kegiatan sebelum mulai merancang pembelajaran itu. Kegiatan sebelum
perancangan itu, antara lain diperlukan hal-hal berikut:
1. Pemahaman yang tepat tentang kurikulum, utamanya silabi, yang menjadi acuan
dalam pembelajaran yang akan direncanakan itu: kaji dengan cermat
kompetensi, indikator, pengalaman belajar, materi pokok, dll. Pilih pengalaman
belajar dan materi pokok yang cocok untuk penerapan PKP dalam pelaksanaan
pembelajaran itu.
2. Pemahaman yang tepat tentang tingkat perkembangan dan kemampuan murid
yang akan mengikuti pembelajaran itu, utamanya tentang kemampuan awalnya
(entering behavior);
3. Fasilitas pembelajaran yang tersedia/dapat disediakan dan dapat dipergunakan
dalam pembalajaran: sumber belajar, media pembelajaran, alat dan bahan yang
diperlukan;
Selanjutnya, pilih ketrampilan proses yang sesuai dengan keperluan pembelajaran
berdasarkan hasil kajian Butir 1, 2, dan 3 tersebut di atas. Setelah langkah persiapan
itu tuntas, mulailah merancang pembelajaran, dan setelah rancangan itu jelas barulah
mulai penyusunan/penulisan rencana pelaksanaan pembelajaran itu. .
10. Kesimpulan Sementara (Inferensi)
Ketrampilan membuat kesimpulan sementara atau inferensi sering
dipergunakan para ilmuwan dalam suatu penelitian, suatu kesimpulan yang masih
akan diuji selanjutnya untuk menjadi kesimpulan akhir. Murid dilatih untuk membuat kesimpulan sementara berdasarkan informasi atau data yang dimilikinya pada suatu
waktu tertentu, yang masih akan diuji kembali dengan diperolehnya informasi/data
tambahan. Umpamanya: guru menyebutkan tiga ciri suatu hewan (seperti, berkaki
empat, lebih besar dari kambing, biasa jadi pacuan), dan Murid menebaknya
(kuda)..Kesimpulan sementara itu diselidiki kebenarannya dengan mencari informasi
atau data tambahan, seperti tidak bertanduk, mudah dijinakkan, dsb..
11. Peramalan
Baik ilmuwan maupun orang awam biasa membuat peramalan. Perbedaannya
terletak pada dasar peramalan itu. Peramalan orang awam biasanya didasarkan pada
pengalamannya, seperti kalau mendung akan terjadi hujan, kalau panen padi gagal
akan terjadi harga beras naik, dsb. Peramalan para ilmuwan biasanya didasarkan
fakta atau data yang telah dikumpulkannya melalui obervasi, pengukuran,
eksperimen, dll, yang memperlihatkan suatu kecenderungan gejala tertentu.
Pembelajaran di SD-MI harus memberi peluang kepada murid untuk berlatih
membuat peramalan yang didasarkan pada informasi atau data yang telah tersedia.
Umpama berdasarkan catatan curah hujan pada bulan tertentu selama 2-5 tahun,
murid dapat membuat peramalan banyaknya curah hujan bulan ybs tahun ini.
Demikian pula dengan informasi/data lainnya yang teredia dapat dijadikan dasar
untuk membuat peramalan.
12. Penerapan (Aplikasi)
Para ilmuwan pada umumnya menguasai ketrampilan untuk mengaplikasikan
suatu konsep, prinsip, dan atau teori untuk memecahkan suatu masalah, menjelaskan
suatu peristiwa baru, dsb. Pembelajaran di SD-MI seharusnya melatih muridnya
untuk menggunakan ketrampilan penerapan ini, baik dengan langsung melakukannya
maupun dengan menunjukkan bukti penerapan itu disekitarnya. Beberapa contoh
seperti konsep yang menyatakan bahwa udara mempunyai tekanan dapat diterapkan
dengan memompa ban sepeda agar dapat membawa beban yang lebih berat,.bahwa
air mengalir dari tempat tinggi ketempat rendah diterapkan dengan menempatkan
tempat cadangan air diketinggian agar air dapat mengalir keseluruh bagian rumah
(untuk cadangan air di rumah tinggal) atau keseluruh bagian kota (untuk cadangan
air Perusahaan Air Minum atau PDAM).
13. Komunikasi
Ketrampilan komunikasi selalu diperguanakan para ilmuwa untuk
menyampaikan gagasan, hasil penelitian, penemuan, dll kepada orang lain, baik lisan
maupun tertulis, yang biasanya dilengkapi dengan penyajian data dalam bentuk
gambar, model, tabel, grafik, diagram, dan sebagainya yang akan memudahkan
orang lain untuk memahami apa yang dikomunikasikan itu. Ketrampilan komunikasi
ini mutlak dikuasai oleh para ilmuwan, agar gagasan, penemuan, dan sejenisnya
dapat tersebar luas dan diketahui orang lain. Murid di SD-MI perlu dibiasakan
mengkomunikasikan gagasan, hasil pengamatan, pengukuran, dan atau eksperimen,
dsb sesuai kaidah komunikasi ilmiah. Dengan bimbingan guru, murid harus
melengkapi laporannya dengan penyajian data yang relevan dengan laporan itu,
seperti gambar, tabel, grafik, dll. Demikian juga laporan hasil kerja tugas dalam
Lembar Kerja Murid, hasil diskusi atau kerja kelompok, serta kegiatan pembelajaran
lainnya yang menghasilkan sesuatu yang perlu dikomunikasikan kepada pihak lain.
Dengan latihan ini, murid secara berangsur akan dapat menguasai ketrampilan
komunikasi ini, baik lisan maupun tertulis.
Demikianlah berbagai jenis ketrampilan proses yang selalu dipakai oleh para
ilmuwan untuk menghasilkan temuan-temuan penting yang telah mengabadikan
namanya dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan. Murid-murid SD-MI secara dini,
bertahap, tetapi berlanjut harus diberi peluang untuk mengusai ketrampilan proses
tersebut melalui pembelajaran di sekolah. Pengembangan ketrampilan proses secara
dini harus telah dimulai di kelas-kelas awal dengan memilih ketrampilan yang sesuai
dengan perkembangan dan kemampuan murid-murid yang bersangkutan, seperti
ketrampilan mengobservasi, perhitungan, klasifikasi, komunikasi, dsb. Untuk kelas-
kelas lanjut harus dilatihkan berbagai ketrampilan proses lainnya yang lebih sulit
dan rumit; hal itulah yang dimaksudkan dengan latihan melalui pembelajaran secara
bertahap tetapi berlanjut. Pengembangan berbagai ketrampilan proses tersebut adalah
hasil akumulasi dari diterapakannya PKP itu melalui berbagai pembelajaran dalam
berbagai bidang studi .
A. Penerapan Ketrampilan Proses Dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Di SD-MI
Setiap pembelajaran selalu berlangsung dalam 3 (tiga) tahapan utama yakni
perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian. Kajian tentang penerapan PKP itu dibatasi
hanya pada tahap perencanaan saja, dengan catatan: Anda dipersilahkan
mempraktekkannya bagi yang berkesempatan dan mau melaksanakan pembelajaran
sesuai dengan gagasan yang dikaji pada tahap perencanaan ini. Anda dapat
mengadakan penyesuaian situasional (penyesuaian sesuai dengan situasi dan kondisi
obyektif di sekolah/kelas tempat pelaksanaan pembelajaran itu). Selanjutnya, kalau
pembelajaran itu sementara dilaksanakan dan memerlukan revisi dari rencana
semula, silahkan mengadakan penyesuaian transaksional (penyesuaian karena
kebutuhan nyata sementara pembelajaran berlangsung).
Penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran harus didahului dengan
beberapa kegiatan sebelum mulai merancang pembelajaran itu. Kegiatan sebelum
perancangan itu, antara lain diperlukan hal-hal berikut:
1. Pemahaman yang tepat tentang kurikulum, utamanya silabi, yang menjadi acuan
dalam pembelajaran yang akan direncanakan itu: kaji dengan cermat
kompetensi, indikator, pengalaman belajar, materi pokok, dll. Pilih pengalaman
belajar dan materi pokok yang cocok untuk penerapan PKP dalam pelaksanaan
pembelajaran itu.
2. Pemahaman yang tepat tentang tingkat perkembangan dan kemampuan murid
yang akan mengikuti pembelajaran itu, utamanya tentang kemampuan awalnya
(entering behavior);
3. Fasilitas pembelajaran yang tersedia/dapat disediakan dan dapat dipergunakan
dalam pembalajaran: sumber belajar, media pembelajaran, alat dan bahan yang
diperlukan;
Selanjutnya, pilih ketrampilan proses yang sesuai dengan keperluan pembelajaran
berdasarkan hasil kajian Butir 1, 2, dan 3 tersebut di atas. Setelah langkah persiapan
itu tuntas, mulailah merancang pembelajaran, dan setelah rancangan itu jelas barulah
mulai penyusunan/penulisan rencana pelaksanaan pembelajaran itu. .
Pendekatan Ketrampilan Proses, seperti telah ditegaskan sebelumnya,
adalah pendekatan yang menekankan penggunaan ketrampilan memproseskan
perolehan dalam pembelajaran yang dikembangkan sebagai konsep terlaksana untuk
menerapkan Pendekatan CBSA. Oleh karena itu, alasan dikembangkannya PKP ini
tidak berbeda secara prinsip dengan rasional Pendekatan CBSA. Rasional penerapan
PKP dalam pembelajaran (Conny Semiawan, dkk,1985: 14-16; Moedjiono dan Moh.
Dimyati, 1992/1993: 12-14) sebagai berikut:
1. Percepatan perkembangan ilmu pengetahuan menyebabkan bahan ajar, yang
bersumber dari ilmu pengetahuan itu makin banyak (makin luas dan atau
mendalam) sehingga tidak mungkin lagi guru mengajarkan semua fakta dan
konsep itu kepada muridnya dalam pembelajaran di sekolah. Kalau guru tetap
berusaha mengajarkan semua fakta dan konsep itu, maka guru biasanya
memilih cara praktis dengan metode ceramah. Akibatnya, murid mengetahui
banyak fakta dan konsep yang diajarkan itu, tetapi murid tidak dilatih untuk
menemukan dan atau mengembangkan fakta, konsep, dan atau prinsip,
dengan kata lain, tidak dilatih untuk mengembangkan ilmu pengetahuan.
2. Perkembangan kognitif murid SD-MI yang masih berada pada tahap operasi
konkrit sehingga masih memerlukan contoh nyata untuk dapat memahami
konsep yang abstrak dan rumit, utamanya dengan memperaktekkan sendiiri
upaya menemukan konsep itu. Hal itu sesuai dengan salah satu prinsip PKP
yakni perkembangan kognitif sesungguhnya dilandasi oleh gerakan dan
perbuatan, seperti pendapat Jean Piaget “….. mengetahui sesuatu obyek tak
lain daripada memperlakukannya”; esensi pengetahuan adalah aktivitas, baik
fisik dan terutama mental. Tugas guru adalah menyiapkan suatu lingkungan
belajar yang menggiring murid untuk bertanya, mengamati, mengadakan
percobaan, dll untuk menemukan fakta, konsep, dan atau prinsip. Murid
mulai belajar menjadi seorang „ilmuwan‟.
3. Penemuan ilmu pengetahuan hanyalah suatu kebenaran relatif yang masih
tetap terbuka untuk dikaji dan diuji kembali. Hal tersebut menuntut suatu
sikap ilmiah dari para ilmuwan yakni mampu dan mau mengkaji dan menguji
kembali sesuatu yang telah dianggap benar. Sikap ilmiah itu seharusnya
mulai ditanamkan pada setiap murid SD-MI. Dari sisi lain, murid mulai
dibiasakan untuk mempertanyakan dan mencari kemungkinan-kemungkinan
lain, dengan kata lain, murid dibiasakan untuk berpikir dan bertindak kreatif.
4. Setiap pembelajaran harus tetap berusaha untuk mengembangkan kepribadian
murid secara holistik. Meskipun suatu pembelajaran berada dikawasan ranah
kognitif, tetapi pembelajaran itu tidak boleh dilepaskan dari ranah afektif dan
atau psikomotorik. PKP yang menekankan pengembangan ketrampilan
memproseskan perolehan (kawasan psikomotorik: ketrapilan fisik/intelekual)
akan berperan sebagai wahana penyatukait antara pengembangan konsep
(ranah kognitif) dan pengembangan sikap dan nilai (ranah afektif).
Demikianlah beberapa alasan yang mendorong dikembangkannya PKP sebagai
konsep terlaksananya penerapkan Pendekatan CBSA, namun bukanlah pengaktifan
murid yang “…..tanpa isi, tanpa pesan, tanpa rancangan, dan tanpa arah.
……..[Tetapi] yang dipraktekkan adalah cara belajar siswa aktif yang
mengembangkan ketrampilan proses perolehan.” (Conny Semiawan, dkk, 1985: 16).
Pembelajaran aktif dan bermakna itu menuntut aktivitas murid yang bukan hanya
bersifat fisik, melainkan yang utama adalah keterlibatan mental (intelektual dan atau
emosionl). Pembelajaran yang bermakna itu akan menumbuhkan prakarsa dan
kreativitas murid dalam pembelajaran, serta akan mendorong perkembangan mental
yang kadarnya tinggi dalam 2 (dua) komponen penting yakni (1) berpikir kritis
dalam mencari kebenaran fakta, konsep, prinsip, dan atau teori, dan (2) kreativitas
dalam mencari kebermaknaan (Siler, 1990, dan Lipman, 1991, dari Conny R.Semiawan, 1993:17-19). Seperti diketahui, proses berpikir dapat dibedakan dalam
2 (dua) fungsi utama, yakni (1) berpikir kritis, rasional logis, konvergen (memusat)
sebagai fungsi utama dari belahan otak kiri, dan (2) berpikir kreatif, divergen
(memencar) sebagai fungsi utama dari otak kanan. Kedua sisi fungsi berpikir itu
saling melengkapi dan merupakan satu kesatuan, dan keduanya seharusnya
dikembangkan secara seimbang, serasi dan selaras dalam pembelajaran di SD-MI.
Dalam pengamatan tentang pembelajaran di SD-MI, diperoleh kesan bahwa berpikir
kreatif belum cukup dikembangkan.
B. Pengertian Pendekatan Ketrampilan Proses (PKP)
Pendekatan Ketrampilan Proses (PKP) adalah pendekatan pembelajaran yang
mengutamakan penerapan berbagai ketrampilan memproseskan perolehan dalam
pembelajaran itu “Ketrampilan memproseskan perolehan adalah suatu konsep
terlaksana yang dapat membantu kita untuk menerapkan Cara Belajar Siswa Aktif
(CBSA) …” (Conny Semiawan, 1985: 3). Penerapan PKP dalam pembelajaran
memberi penekanan agar dalam pembelajaran itu para murid dilatihkan ketrampilan-
ketrampilan mendasar yang biasa dipergunakan para ilmuwan dalam menghasilkan
penemuan-penemuan besar dalam ilmu pengetahuan, seperti: mengamati,
menghitung, mengukur, mengklasifikasi, dll. Ketrampilan mendasar itu yang telah
menghasilkan penemuan besar dalam ilmu pengetahuan, seperti: „pemutarbalikan‟
Copernicus yang mengemukakan bahwa bukan matahari yang mengedari bumi
(seperti anggapan umum pada saat itu) tetapi terbalik: bumi yang mengedari
matahari, atau penemuan ketidaksadaran (Id/Das unbewuzte) oleh Sigmund Freud
dengan aliran Psikoanalisa, atau penemuan gagasan koperasi oleh Muhammad Hatta
(Bung Hatta), dsb Penemuan-penemuan besar itu dilakukan karena para ilmuwan
tersebut menguasai berbagai ketrampilan mendasar (fisik dan atau mental),
meskipun penguasaan fakta, konsep, prinsip dan atau teori dalam bidangnya
mungkin masih terbatas.
Ketrampilan-ketrampilan mendasar yang dikuasai para ilmuwan itu pada
prinsipnya terdapat juga dalam diri anak, hanya masih potensial dan atau masih
sederhana dan belum berkembang. Kalau diperhatikan seorang anak dan seorang
ilmuwan menyelidiki sesuatu disekitarnya, umpama seekor kupu-kupu, maka
keduanya didorong oleh hasrat ingin tahu yang besar, serta pada dasarnya keduanya
menggunakan ketrampilan proses yang sama, yakni kemungkinan keduanya
mengamati, menghitung, mengukur, dsb. Perbedaannya hanyalah bahwa para
ilmuwan menggunakan ketrampilan proses itu dengan lebih intensif dan berkualitas.
Para ilmuwan bekerja dengan landasan teoritis, lebih terarah dan sistimatis, seperti:
ilmuwan itu merumuskan masalah, membuat hipotesis, melakukan
penelitian/eksperimen, serta mengumpulkan, mengolah, dan menginterpretasi data,
dsb. Intensitas dan kualitas penguasaan ketrampilan proses itulah yang menghantar
para ilmuwan menghasilkan penemuan-penemuan besar dalam ilmu pengetahuan.
Pembelajaran di SD-MI seyogianya secara dini menumbuhkan dan
mengembangkan ketrampilan proses seperti yang dikuasai para ilmuwan itu dengan
menerapkan PKP dalam pembelajaranya. Dengan penerapan PKP dalam
pembelajaran, murid dengan memproseskan perolehannya akan mampu menemukan
sendiri fakta, konsep, dan atau prinsip (pengembangan pengetahuan-pemahaman
dalam ranah kognitif), dan seiring dengan itu, pembelajaran itu secara berangsur tapi
berlanjut akan mengembangkan sikap dan nilai pada siswa yang relevan seperti
cermat, teliti, jujur, dsb. Dengan kata lain, pembelajaran yang semula menggunakan
berbagai ketrampilan proses (fisik, social, dan atau intelektual dalam ranah
psikomotorik), akan menghantar murid pada suatu pengetahuan-pemahaman (dalam
ranah kognitif), serta seiring dengan itu menumbuhan pula sikap dan nilai yang
relevan (dalam ranah afektif). “Seluruh irama gerak atau tindakan dalam proses
belajar-mengajar seperti ini akan menciptakan kondisi cara belajar siswa aktif. Inilah
sebenarnya yang dimaksudkan dengan pendekatan proses” (Conny Semiawan, dkk,
1985: 18).. Pendekatan proses itu akan mengembangkan kreativitas murid, yang
pada gilirannya, akan menjadi landasan untuk pegembangan kepribadiannya secara
keseluruhan.
Terdapat beberapa manfaat yang dapat dicapai dengan menerapkan PKP dalam
pembelajaran di SD-MI (Funk, 1985; dari Moedjiono dan Moh. Dimyati, 1992/1993:
14) sebagai berikut:
1. Dengan penerapan PKP dalam pembelajaran, murid akan memperoleh
pengertian yang tepat tentang hakekat ilmu pengetahuan;
2. Dengan penerapan PKP dalam pembelajaran berarti murid bekerja dengan
ilmu pengetahuan, tidak sekadar memperoleh informasi tentang ilmu
pengetahuan itu.
3. Dengan penerapan PKP dalam pembelajaran, murid secara serentak belajar
tentang proses dan produk ilmu pengetahuan.
Penerapan PKP dalam pembelajaran akan menempatkan murid sebagai
„ilmuwan‟ dalam menggeluti ilmu pengetahuan itu, dengan kata lain, murid
berperan sebagai „produsen‟ bukan sekadar penerima ilmu pengetahuan itu.
A. Jenis-Jenis Ketrampilan Proses
Terdapat berbagai ketrampilan proses yang perlu diterapkan dalam
pembelajaran yang menggunakan Pendekatan Ketrampilan Proses itu (Conny
Semiawan, dkk, 1985:19-34; Moedjiono dan Moh. Dimyati, 1992/1993: 15-19)
sebagai berikut:
1. Observasi atau Pengamatan
Sebagai ketrampilan ilmiah yang mendasar, mengobservasi atau mengamati
adalah penggunaan semua alat indra (untuk melihat, mendengar, meraba, mencium,
dan atau mengecap) dengan seksama untuk memilah-milahkan sesuatu yang penting
dari yang kurang/tidak penting. Murid dalam kehidupannya sehari-hari pasti banyak
melihat benda, binatang, tumbuhan, dan atau orang disekitarnya, atau mendengar
kicauan burung, bunyi klakson kendaraan, dll, atau merasakan hembusan angin, dsb.
Tetapi penglihatan, pendengaran, perabaan, dll itu hanya sepintas dan kurang
saksama, sehingga kegiatan itu bukan observasi atau pengamatan. Prasyarat utama
dalam observasi adalah pemusatan perhatian, ketelitian, dan kecermatan dalam
melihat, mendengar, dsb sehingga dapat memilahkan yang penting dari yang lainnya.
Murid seharusnya dilatih melalui pembelajaran untuk melakukan observasi atau
pengamatan dengan cermat dan terarah, dan tidak sekadar melihat/mendengar
sesuatu itu sepintas lalu.
2. Penghitungan
Menghitung merupakan ketrampilan mendasar yang banyak sekali
dipergunakan para ilmuwan dalam bekerja Oleh karena itu, menghitung harus
dilatihkan melalui pembelajaran di SD-MI, bukan hanya dalam pembelajaran
matematika tetapi juga pembelajaran lainnya, seperti dalam pembelajaran ilmu
pengetahuan alam (menghitung jumlah daun, kaki belalang, dsb), pembelajaran ilmu
pengetahuan social (menghitung jumlah anggota keluarga, penduduk satu wilayah),
pembelajaran Bahasa Indonesia (menghitung jumlah kata dalam setiap kalimat,
jumlah kalimat dalam satu alinea, dsb), dan lain-lain. Hasil perhitungan itu dapat
dilaporkan dengan membuat tabel, grafik, dan atau histogram, Tingkat kesulitan
penghitungan itu harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan dan kemampuan
murid, di kelas-kelas awal dengan penghitungan sederhana, sedangkan untuk kelas-
kelas lanjut dengan penghitungan dan cara pelaporan yang lebih rumit.
3. Pengukuran
Ketrampilan pengukuran adalah salah satu ketrampilan penting dan banyak
dipergunakan para ilmuwan dalam pekerjaannya; oleh karena itu, ketrampilan
pengukuran harus menjadi bagian penting dalam pembelajaran di SD-MI.
Pengukuran didasarkan pada perbandingan, seperti membandingkan panjang, luas,
volume dari benda, membandingkan kecepatan, suhu, dsb. Melatih murid melakukan
berbagai pengukuran haruslah menjadi .Bagian penting dalam pembelajaran di SD-
MI. Pelatihan pengukuran itu dilakukan secara bertahap, pada awalnya hanya
membandingkan panjang, besar, berat, dll terhadap benda di sekitarnya, kemudian
mulai diperkenalkan dengan ukuran seperti meter, gram, liter, dll yang disesuaikan
dengan tingkat perkembangan dan kemampuan murid.
4. Klasifikasi
Ketrampilan klasifikasi atau menggolong-golongkan sesuau merupakan
pekerjaan rutin seorang ilmuwan, dan karena itu murid SD-MI sejak dini harus
diperkenalkan dengan ketrampilan klasifikasi ini. Murid harus terlatih melihat
persamaan dan perbedaan sesuatu sebagai dasar klasifikasi itu, baik berdasarkan ciri
khusus, tujuan, maupun untuk kepentingan tertentu. Melalui pembelajaran, murid
ditugaskan melakukan penggolongan berbagai benda disekitarnya, umpama
klasifikasi klereng berdasarkan warnanya, kancing baju berdasarkan besarnya, daun-
daunan bedasarkan bentuknya, dsb. Dengan demikian, murid akan terlatih
mengamati sesuatu secara cermat, mengenal persamaan dan perbedaan benda-benda
tersebut, serta mampu menggolong-golongkannya sesuai ciri-ciri khususnya masing-
masing. Di kelas awal, cara klasifikasi yang ditugaskan masih sederhana, dan makin
lanjut kelas dengan kemampuan murid yang mulai berkembang, tugas klasfikasi
makin sulit, baik isi tugasnya maupun cara pengolahan hasil klasifikasi itu dalam
pelaporan.
.5. Pengenalan Ruang dan Waktu serta Hubungan Keduanya
Ketrampilan berkaitan dengan pengenalan bentuk-bentuk ruang (lingkaran,
persegi empat, segi tiga, kubus, silinder, dll), pengenalan arah (bawah, atas,
belakang, depan, kiri, kanan, dll), pengenalan waktu (menit, jam, sehari, seminggu,
sebulan dll) serta hubungan yang satu dengan lainnya (arah, jarak, dan waktu, seperti
lamanya mengelilingi suatu lingkaran, dll) termasuk ketrampilan yang sering
dipergunakan ilmuwan dalam bekerja. Oleh karena itu, ketrampilan ini perlu
dilatihkan kepada murid SD-MI melalui pembelajaran., seperti menetapkan bentuk
suatu ruang atau benda, arah suatu gerakan, lamanya waktu yang dipakai untuk
mengelilingi lapangan olah raga dengan berjalan kaki atau berlari, dsb.
6. Pembuatan Hipotesis
Pembuatan hipotesis merupakan ketrampilan yang sangat penting bagi
seorang ilmuwan. Suatu hipotesis adalah suatu perkiraan ilmiah tentang pemecahan
suatu masalah, penjelasan suatu keadaan, dll, yang selanjutnya diuji kebenarannya
melalui penelitian, eksperimen, dsb. Murid SD-MI perlu memperoleh latihan untuk
membuat hipotesis yang kemudian diuji dengan eksperimen sederhana melalui
berbagai pembelajaran di sekolah. Sebagai contoh: karena setiap pembakaran
memerlukan oksigen yang ada diudara, maka lilin yang menyala akan mati apabila
ditutup rapat; atau lilin menyala yang penutupnya kecil akan padam lebih dahulu
dari pada lilin menyala yang penutupnya lebih besar. Karena tanaman memerlukan
air, maka tanaman yang disiram teratur akan lebih subur dari pada tanaman yang
kurang/jarang disiram (dengan catatan: kedua tanaman itu ditempatkan pada tempat
yang tidak kena hujan). Pembuatan dan pengujian hipotesis melalui eksperimen akan
menumbuhkan/mengembangkan berbagai ketrampilan mendasar seperti yang diperlukan para ilmuwan dalam bekerja, tetapi juga murid akan menemukan sendiri
pengetahuan-pemahaman yang ilmiah, dan serentak dengan itu, akan
menumbuhkan/mengembangkan sikap ilmiah.
7. Perencanaan Penelitian/Eksperimen
Eksperimen atau percobaan dapat dilakukan oleh siapa saja dalam kehidupan
sehari-hari, tetapi kebanyakan melakukannya secara trial and error saja; demikian
pula dengan anak, sering melakukan percobaan trial and error dengan mainannya,
dengan binatang peliharaannya, dan sebagainya. Berbeda dengan kebanyakan orang,
para ilmuwan melakukan eksperimen dalam rangka penelitian untuk menguji
hipotesisnya. Para ilmuwan melakukan penelitian/eksperimen dilandasi oleh dasar
teoritis, serta dilakukan secara sistimatis dan terarah yang dipandu oleh hipotesisnya.
Oleh karena itu, pembelajaran di SD-MI seharusnya meningkatkan kemampuan
murid yang biasa melakukan percobaan secara trial and error saja menjadi suatu
eksperimen yang dipandu oleh suatu hipotesis yang dilandasi dasar teoritis, dan
dilakukan secara sistimatis dan terarah. Melalui pembelajaran, disamping
eksperimen, murid dibiasakan pula melakukan berbagai penelitian sederhana,
seperti: jumlah anak dari setiap orang tua murid di kelasnya, tinggi badan seluruh
murid di kelasnya, dsb. Dapat pula melakukan penelitian yang lebih rumit, umpama
hubungan antara tinggi badan dan berat seseorang, hubungan antara tinggi badan
dengan nomor sepatu yang dipakainya, dsb. Perlu ditekankan bahwa setiap
penelitian/eksperimen harus didahului oleh perencanaan yang matang, sehingga
penelitian/eksperimen itu dapat berlangsung seperti yang diinginkan. Dengan
perencanaan itu, dapat diketahui jenis dan jumlah alat dan bahan yang diperlukan,
faktor atau variabel yang harus diperhatikan/dikendalikan, prosedur kerja yang harus
ditempuh, cara mencatat, mengolah, dan menginterpretasi data untuk membuat
kesimpulan, dsb. Kesulitan dan kerumitan penelitian/eksperimen itu disesuaikan
demgam tingkat perkembangan dan kemampuan murid.
8. Pengendalian Variabel
Pengendalian variabel atau faktor yang berpengaruh dalam
penelitian/eksperimen merupakan salah satu ketrampilan mendasar yang dilakukan
para ilmuwan dalam melaksanakan penelitian/eksperimen itu. Pengendalian variabel
meliputi baik variabel bebas maupun variabel tergantung (variabel eksperimen).
Pengendalian variabel, baik variabel bebas maupun variabel tergantung, sangat
penting dalam setiap eksperimen. Dengan demikian, murid perlu segera
diperkenalkan dengan ketrampilan pengendalian variabel itu melalui pembelajaran di SD-MI. Ketrampilan pengendalian variabel dilatihkan secara langsung sewaktu
murid melakukan eksperimen. Sebagai contoh eksperimen tentang pentingnya
berbagai jenis pupuk bagi tanaman: variabel tergantung (variabel yang akan diteliti
adalah pupuk), sedang variabel bebas adalah semua hal yang terkait dengan tanaman,
kecuali pupuk, seperti: bibit tanaman, tanah tempat menanam, curah hujan atau
penyiraman, sinar matahari, dsb. Dalam eksperimen, murid berlatih mengendalikan
variabel bebas agar hal-hal itu sama untuk semua tanaman (baik tanaman percobaan
maupun tanaman lain sebagai pembanding), demikian juga dengan variabel
tergantung (variabel yang akan dicobakan) yakni penggunaan berbagai jenis pupuk
pada beberapa tanaman yang berbeda dan yang tidak dipupuk. Setelah beberapa
minggu, keadaan tanaman yang dipupuk dengan pupuk yang berbeda dan yang tidak
dipupuk dibandingkan, sehingga akan dapat disimpulkan tentang (1) pengaruh pupuk
terhadap kesuburan tanaman, dan (2) jenis pupuk yang lebih menambah kesuburan
tanaman. Dengan latihan pengendalian variabel dalam berbagai eksperimen, murid
akan lebih menguasai ketrampilan pengendalian variabel itu
9. Interpretasi Data
Ketrampilan mengintrepretasi atau menafsirkan data adalah salah satu
ketrampilan kunci dalam keberhasilan ilmuwan dalam pekerjaannya. Data yang telah
dikumpulkan dalam penelitian/eksperimen harus dapat diinterpretasi/ditafsirkan
dengan cara-cara sesuai kaidah ilmiah. Pembelajaran di SD-MI seyogianya melatih
murid untuk menguasai ketrampilan interpretasi data ini. Data yang telah
dikumpulkan melalui berbagai kegiatan seperti: perhitungan, pengukuran,
eksperimen, dan atau penelitian sederhana, diolah dan disajikan dalam berbagai cara
seperti: tabel, grafik, diagram, dan atau histogram, yang selanjutnya diinterpretasikan
dalam berbagai kesimpulan. Umpamanya, pengukuran tinggi badan murid-murid di
kelas sendiri dan disajikan dalam bentuk tabel dapat dibuat tafsiran seperti; tinggi
badan berada dalam rentangan dari terendah ke tertinggi, ketinggian berapa yang
banyak jumlah muridnya, bahkan dapat dihitung rata-rata tinggi badan murid satu
kelas itu, dsb. Dengan pembelajaran yang memberi peluang untuk berlatih
menginterpretasi data, murid akan terbiasa membuat kesimpulan yang sesuai dengan
kaidah ilmiah, dan bukannya kesimpulan yang direka-reka saja
gambar, model, tabel, grafik, diagram, dan sebagainya yang akan memudahkan
orang lain untuk memahami apa yang dikomunikasikan itu. Ketrampilan komunikasi
ini mutlak dikuasai oleh para ilmuwan, agar gagasan, penemuan, dan sejenisnya
dapat tersebar luas dan diketahui orang lain. Murid di SD-MI perlu dibiasakan
mengkomunikasikan gagasan, hasil pengamatan, pengukuran, dan atau eksperimen,
dsb sesuai kaidah komunikasi ilmiah. Dengan bimbingan guru, murid harus
melengkapi laporannya dengan penyajian data yang relevan dengan laporan itu,
seperti gambar, tabel, grafik, dll. Demikian juga laporan hasil kerja tugas dalam
Lembar Kerja Murid, hasil diskusi atau kerja kelompok, serta kegiatan pembelajaran
lainnya yang menghasilkan sesuatu yang perlu dikomunikasikan kepada pihak lain.
Dengan latihan ini, murid secara berangsur akan dapat menguasai ketrampilan
komunikasi ini, baik lisan maupun tertulis.
Demikianlah berbagai jenis ketrampilan proses yang selalu dipakai oleh para
ilmuwan untuk menghasilkan temuan-temuan penting yang telah mengabadikan
namanya dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan. Murid-murid SD-MI secara dini,
bertahap, tetapi berlanjut harus diberi peluang untuk mengusai ketrampilan proses
tersebut melalui pembelajaran di sekolah. Pengembangan ketrampilan proses secara
dini harus telah dimulai di kelas-kelas awal dengan memilih ketrampilan yang sesuai
dengan perkembangan dan kemampuan murid-murid yang bersangkutan, seperti
ketrampilan mengobservasi, perhitungan, klasifikasi, komunikasi, dsb. Untuk kelas-
kelas lanjut harus dilatihkan berbagai ketrampilan proses lainnya yang lebih sulit
dan rumit; hal itulah yang dimaksudkan dengan latihan melalui pembelajaran secara
bertahap tetapi berlanjut. Pengembangan berbagai ketrampilan proses tersebut adalah
hasil akumulasi dari diterapakannya PKP itu melalui berbagai pembelajaran dalam
berbagai bidang studi .
A. Penerapan Ketrampilan Proses Dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Di SD-MI
Setiap pembelajaran selalu berlangsung dalam 3 (tiga) tahapan utama yakni
perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian. Kajian tentang penerapan PKP itu dibatasi
hanya pada tahap perencanaan saja, dengan catatan: Anda dipersilahkan
mempraktekkannya bagi yang berkesempatan dan mau melaksanakan pembelajaran
sesuai dengan gagasan yang dikaji pada tahap perencanaan ini. Anda dapat
mengadakan penyesuaian situasional (penyesuaian sesuai dengan situasi dan kondisi
obyektif di sekolah/kelas tempat pelaksanaan pembelajaran itu). Selanjutnya, kalau
pembelajaran itu sementara dilaksanakan dan memerlukan revisi dari rencana semula, silahkan mengadakan penyesuaian transaksional (penyesuaian karena
kebutuhan nyata sementara pembelajaran berlangsung).
Penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran harus didahului dengan
beberapa kegiatan sebelum mulai merancang pembelajaran itu. Kegiatan sebelum
perancangan itu, antara lain diperlukan hal-hal berikut:
1. Pemahaman yang tepat tentang kurikulum, utamanya silabi, yang menjadi acuan
dalam pembelajaran yang akan direncanakan itu: kaji dengan cermat
kompetensi, indikator, pengalaman belajar, materi pokok, dll. Pilih pengalaman
belajar dan materi pokok yang cocok untuk penerapan PKP dalam pelaksanaan
pembelajaran itu.
2. Pemahaman yang tepat tentang tingkat perkembangan dan kemampuan murid
yang akan mengikuti pembelajaran itu, utamanya tentang kemampuan awalnya
(entering behavior);
3. Fasilitas pembelajaran yang tersedia/dapat disediakan dan dapat dipergunakan
dalam pembalajaran: sumber belajar, media pembelajaran, alat dan bahan yang
diperlukan;
Selanjutnya, pilih ketrampilan proses yang sesuai dengan keperluan pembelajaran
berdasarkan hasil kajian Butir 1, 2, dan 3 tersebut di atas. Setelah langkah persiapan
itu tuntas, mulailah merancang pembelajaran, dan setelah rancangan itu jelas barulah
mulai penyusunan/penulisan rencana pelaksanaan pembelajaran itu. .
10. Kesimpulan Sementara (Inferensi)
Ketrampilan membuat kesimpulan sementara atau inferensi sering
dipergunakan para ilmuwan dalam suatu penelitian, suatu kesimpulan yang masih
akan diuji selanjutnya untuk menjadi kesimpulan akhir. Murid dilatih untuk membuat kesimpulan sementara berdasarkan informasi atau data yang dimilikinya pada suatu
waktu tertentu, yang masih akan diuji kembali dengan diperolehnya informasi/data
tambahan. Umpamanya: guru menyebutkan tiga ciri suatu hewan (seperti, berkaki
empat, lebih besar dari kambing, biasa jadi pacuan), dan Murid menebaknya
(kuda)..Kesimpulan sementara itu diselidiki kebenarannya dengan mencari informasi
atau data tambahan, seperti tidak bertanduk, mudah dijinakkan, dsb..
11. Peramalan
Baik ilmuwan maupun orang awam biasa membuat peramalan. Perbedaannya
terletak pada dasar peramalan itu. Peramalan orang awam biasanya didasarkan pada
pengalamannya, seperti kalau mendung akan terjadi hujan, kalau panen padi gagal
akan terjadi harga beras naik, dsb. Peramalan para ilmuwan biasanya didasarkan
fakta atau data yang telah dikumpulkannya melalui obervasi, pengukuran,
eksperimen, dll, yang memperlihatkan suatu kecenderungan gejala tertentu.
Pembelajaran di SD-MI harus memberi peluang kepada murid untuk berlatih
membuat peramalan yang didasarkan pada informasi atau data yang telah tersedia.
Umpama berdasarkan catatan curah hujan pada bulan tertentu selama 2-5 tahun,
murid dapat membuat peramalan banyaknya curah hujan bulan ybs tahun ini.
Demikian pula dengan informasi/data lainnya yang teredia dapat dijadikan dasar
untuk membuat peramalan.
12. Penerapan (Aplikasi)
Para ilmuwan pada umumnya menguasai ketrampilan untuk mengaplikasikan
suatu konsep, prinsip, dan atau teori untuk memecahkan suatu masalah, menjelaskan
suatu peristiwa baru, dsb. Pembelajaran di SD-MI seharusnya melatih muridnya
untuk menggunakan ketrampilan penerapan ini, baik dengan langsung melakukannya
maupun dengan menunjukkan bukti penerapan itu disekitarnya. Beberapa contoh
seperti konsep yang menyatakan bahwa udara mempunyai tekanan dapat diterapkan
dengan memompa ban sepeda agar dapat membawa beban yang lebih berat,.bahwa
air mengalir dari tempat tinggi ketempat rendah diterapkan dengan menempatkan
tempat cadangan air diketinggian agar air dapat mengalir keseluruh bagian rumah
(untuk cadangan air di rumah tinggal) atau keseluruh bagian kota (untuk cadangan
air Perusahaan Air Minum atau PDAM).
13. Komunikasi
Ketrampilan komunikasi selalu diperguanakan para ilmuwa untuk
menyampaikan gagasan, hasil penelitian, penemuan, dll kepada orang lain, baik lisan
maupun tertulis, yang biasanya dilengkapi dengan penyajian data dalam bentuk
gambar, model, tabel, grafik, diagram, dan sebagainya yang akan memudahkan
orang lain untuk memahami apa yang dikomunikasikan itu. Ketrampilan komunikasi
ini mutlak dikuasai oleh para ilmuwan, agar gagasan, penemuan, dan sejenisnya
dapat tersebar luas dan diketahui orang lain. Murid di SD-MI perlu dibiasakan
mengkomunikasikan gagasan, hasil pengamatan, pengukuran, dan atau eksperimen,
dsb sesuai kaidah komunikasi ilmiah. Dengan bimbingan guru, murid harus
melengkapi laporannya dengan penyajian data yang relevan dengan laporan itu,
seperti gambar, tabel, grafik, dll. Demikian juga laporan hasil kerja tugas dalam
Lembar Kerja Murid, hasil diskusi atau kerja kelompok, serta kegiatan pembelajaran
lainnya yang menghasilkan sesuatu yang perlu dikomunikasikan kepada pihak lain.
Dengan latihan ini, murid secara berangsur akan dapat menguasai ketrampilan
komunikasi ini, baik lisan maupun tertulis.
Demikianlah berbagai jenis ketrampilan proses yang selalu dipakai oleh para
ilmuwan untuk menghasilkan temuan-temuan penting yang telah mengabadikan
namanya dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan. Murid-murid SD-MI secara dini,
bertahap, tetapi berlanjut harus diberi peluang untuk mengusai ketrampilan proses
tersebut melalui pembelajaran di sekolah. Pengembangan ketrampilan proses secara
dini harus telah dimulai di kelas-kelas awal dengan memilih ketrampilan yang sesuai
dengan perkembangan dan kemampuan murid-murid yang bersangkutan, seperti
ketrampilan mengobservasi, perhitungan, klasifikasi, komunikasi, dsb. Untuk kelas-
kelas lanjut harus dilatihkan berbagai ketrampilan proses lainnya yang lebih sulit
dan rumit; hal itulah yang dimaksudkan dengan latihan melalui pembelajaran secara
bertahap tetapi berlanjut. Pengembangan berbagai ketrampilan proses tersebut adalah
hasil akumulasi dari diterapakannya PKP itu melalui berbagai pembelajaran dalam
berbagai bidang studi .
A. Penerapan Ketrampilan Proses Dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Di SD-MI
Setiap pembelajaran selalu berlangsung dalam 3 (tiga) tahapan utama yakni
perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian. Kajian tentang penerapan PKP itu dibatasi
hanya pada tahap perencanaan saja, dengan catatan: Anda dipersilahkan
mempraktekkannya bagi yang berkesempatan dan mau melaksanakan pembelajaran
sesuai dengan gagasan yang dikaji pada tahap perencanaan ini. Anda dapat
mengadakan penyesuaian situasional (penyesuaian sesuai dengan situasi dan kondisi
obyektif di sekolah/kelas tempat pelaksanaan pembelajaran itu). Selanjutnya, kalau
pembelajaran itu sementara dilaksanakan dan memerlukan revisi dari rencana
semula, silahkan mengadakan penyesuaian transaksional (penyesuaian karena
kebutuhan nyata sementara pembelajaran berlangsung).
Penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran harus didahului dengan
beberapa kegiatan sebelum mulai merancang pembelajaran itu. Kegiatan sebelum
perancangan itu, antara lain diperlukan hal-hal berikut:
1. Pemahaman yang tepat tentang kurikulum, utamanya silabi, yang menjadi acuan
dalam pembelajaran yang akan direncanakan itu: kaji dengan cermat
kompetensi, indikator, pengalaman belajar, materi pokok, dll. Pilih pengalaman
belajar dan materi pokok yang cocok untuk penerapan PKP dalam pelaksanaan
pembelajaran itu.
2. Pemahaman yang tepat tentang tingkat perkembangan dan kemampuan murid
yang akan mengikuti pembelajaran itu, utamanya tentang kemampuan awalnya
(entering behavior);
3. Fasilitas pembelajaran yang tersedia/dapat disediakan dan dapat dipergunakan
dalam pembalajaran: sumber belajar, media pembelajaran, alat dan bahan yang
diperlukan;
Selanjutnya, pilih ketrampilan proses yang sesuai dengan keperluan pembelajaran
berdasarkan hasil kajian Butir 1, 2, dan 3 tersebut di atas. Setelah langkah persiapan
itu tuntas, mulailah merancang pembelajaran, dan setelah rancangan itu jelas barulah
mulai penyusunan/penulisan rencana pelaksanaan pembelajaran itu. .
Langganan:
Postingan (Atom)