Jumat, 11 Februari 2011

Metode kerja kelompok, karya wisata dan penemuan

1.  Metode Kerja Kelompok
a.  Pengertian
Sagala  (2006)  mengatakan  bahwa  metode  kerja  kelompok  adalah  cara
pembelajaran  dimana  siswa  dalam  kelas  dibagi  dalam  beberapa  kelompok,
dimana  setiap  kelompok  dipandang  sebagai  satu  kesatuan  tersendiri  untuk mempelajari materi pelajaran yang telah ditetapkan untuk diselesaikan secara
bersama-sama.
Pada umumnya materi pelajaran yang harus dikerjakan secara bersama-sama
dalam  kelompok  itu  diberikan  atau  disiapkan  oleh  guru.  Materi  itu  harus
cukup  kompleks  isinya  dan  cukup  luas  ruang  lingkupnya  sehingga  dapat
dibagi-bagi  menjadi  bagian  yang  cukup  memadai  bagi  setiap  kelompok.
Materi hendaknya membutuhkan bahan dan  informasi dari berbagai  sumber
untuk  pemecahannya.  Masalah  yang  bisa  diselesaikan  hanya  dengan
membaca  satu  sumber  saja  tentu  tidak  cocok  untuk  ditangani melalui  kerja
kelompok.  Kelompok  dapat  dibentuk  berdasarkan  perbedaan  individual
dalam kemampuan belajar, perbedaan bakat dan minat belajar, jenis kegiatan,
materi  pelajaran,  dan  tujuan  yang  ingin  dicapai.  Berdasarkan  tugas  yang
harus  diselesaikan,  siswa  dapat  dibagi  atas  kelompok  paralel  yaitu  setiap
kelompok  menyelesaikan  tugas  yang  sama,  dan  kelompok  komplementer
dimana setiap kelompok berbeda-beda tugas yang harus diselesaikan.
b.  Tujuan
Metode  kerja  kelompok  yang  digunakan  dalam  suatu  strategi  pembelajaran
bertujuan untuk :
1)  memecahkan masalah pembelajaran melalui proses kelompok
2)  mengembangkan kemampuan bekerjasama di dalam kelompok
c.  Alasan Penggunaaan Metode Kerja Kelompok
Mengapa guru memilih kerja kelompok sebagai metode pembelajaran? Guru
menggunakan metode kerja kelompok dalam pembelajaran karena:
1)  Kerja  kelompok  dapat  mengembangkan  perilaku  gotong  royong  dan
demokratis.
2)  Kerja kelompok dapat memacu siswa aktif belajar.
3)  Kerja  kelompok  tidak membosankan  siswa melakukan  kegiatan  belajar
diluar  kelas  bahkan  diluar  sekolah  yang  bervariasi,  seperti  observasi,
wawancara, cari buku di perpustakaan umum, dan sebagainya.
d.  Kekuatan dan Keterbatasan Metode Kerja Kelompok
1)  Kekuatan Metode Kerja Kelompok
a)  membiasakan  siswa  bekerja  sama,  musyawarah  dan  bertanggung
jawab
b)  menimbulkan  kompetisi  yang  sehat  antar  kelompok,  sehingga
membangkitkan kemauan belajar yang sungguh-sungguh. c)  Guru  dipermudah  tugasnya  karena  tugas  kerja  kelompok  cukup
disampaikan kepada para ketua kelompok.
d)  Ketua kelompok dilatih menjadi pemimpin yang bertanggung  jawab,
dan anggotanya dibiasakan patuh pada aturan yang ada.
2)  Kelemahan Metode Kerja Kelompok
a)  Sulit  membentuk  kelompok  yang  homogen  baik  segi  minat,  bakat,
prestasi maupun intelegensi.
b)  Pemimpin  kelompok  sering  sukar  untuk  memberikan  pengertian
kepada anggota, menjelaskan, dan pembagian kerja
c)  Anggota  kadang-kadang  tidak mematuhi  tugas-tugas  yang  diberikan
pemimpin kelompok
d)  Dalam menyelesaikan  tugas, sering menyimpang dari rencana karena
kurang kontrol dari pemimpin kelompok atau guru.
e)  Sulit membuat tugas yang sama sulit dan luasnya terutama bagi kerja
kelompok yang komplementer.
e.  Cara Mengatasi Kelemahan Metode Kerja Kelompok
Bagaimana cara mengatasi kelemahan Metode Kerja Kelompok? Kelemahan
metode kerja kelompok dapat diatasi dengan:
1)  Mengkaji lebih dulu materi pelajaran dengan cermat, lalu buat garis besar
rincian  tugasnya  untuk  setiap  kelompok  agar  bobot  tugas  tersebut  sama
beratnya.
2)  Adakan  tes  sosiometri  dan  hasilnya  digunakan  untuk  pembentukan
kelompok yang mereka kehendaki.
3)  Bimbingan  dan  pengawasan  kepada  setiap  kelompok  harus  dilakukan
terus menerus.
4)  Jumlah anggota dalam satu kelompok jangan terlalu banyak
5)  Motivasi  yang  diberikan  jangan  sampai  menimbulkan  persaingan  antar
kelompok yang kurang sehat.
f.  Langkah-Langkah Pembelajaran dengan Metode Kerja Kelompok
1)  Kegiatan Persiapan
a)  Merumuskan tujuan pembelajaran yang akan dicapai
b)  Menyiapkan  materi  pembelajaran  dan  menjabarkan  materi  tersebut
kedalam tugas-tugas kelompok.
c)  Mengidentifikasi sumber-sumber yang akan menjadi sasaran kegiatan
kerja kelompok. d)  Menyusun  peraturan  pembentukan  kelompok,  cara  kerja,  saat
memulai dan mengakhiri, dan tata tertib lainnya.
2)  Kegiatan Pelaksanaan
a)  Kegiatan Membuka Pelajaran
  Melaksanakan  apersepsi,  yaitu  pertanyaan  tentang  materi
pelajaran sebelumnya.
  Memotivasi  belajar  dengan  mengemukakan  kasus  yang  ada
kaitannya dengan materi pelajaran yang akan diajarkan
  Mengemukakan tujuan pelajaran dan berbagai kegiatan yang akan
dikerjakan dalam mencapai tujuan pelajaran itu.
b)  Kegiatan Inti Pelajaran
  Mengemukakan lingkup materi pelajaran yang akan dipelajari
  Membentuk kelompok
  Mengemukakan  tugas  setiap  kelompok  kepada  ketua  kelompok
atau langsung kepada semua siswa
  Mengemukakan  peraturan  dan  tata  tertib  serta  saat memulai  dan
mengakhiri kegiatan kerja kelompok.
  Mengawasi, memonitor,  dan  bertindak  sebagai  fasilitator  selama
siswa melakukan kerja kelompok.
  Pertemuan  klasikal  untuk  pelaporan  hasil  kerja  kelompok,
pemberian balikan dari kelompok lain atau dari guru.
c)  Kegiatan Mengakhiri Pelajaran
  Meminta siswa merangkum isi pelajaran yang telah dikaji melalui
kerja kelompok.
  Melakukan evaluasi hasil dan proses
  Melaksanakan  tindak  lanjut  baik  berupa mengajari  ulang materi
yang  belum  dikuasai  siswa  maupun  memberi  tugas  pengayaan
bagi siswa yang telah menguasai materi tersebut.
 2.  Metode Karya Wisata
a.  Pengertian
Sagala  (2006)  menyatakan  bahwa  karya  wisata  atau  studi  wisata  sebagai
metode  pembelajaran  adalah  siswa  dibawah  bimbingan  guru  mengunjungi
tempat-tempat tertentu dengan maksud untuk mempelajari obyek belajar yang
ada di tempat itu.
Lalu, apa perbedaannya dengan tamasya ? Tamasya berbeda dari karya wisata
dalam hal bahwa kepergian orang ke suatu  tempat  itu dengan maksud untuk
mencari hiburan.
b.  Tujuan
Rusyan  (dalam  Sagala,  2006)  menyatakan  walaupun  karya  wisata  banyak
unsur non akademisnya, tetapi tujuan pendidikan dapat pula tercapai terutama
mengenai wawasan  dan  pengalaman  tentang  dunia  luar  seperti  tempat  yang
memiliki situs bersejarah, musium, peternakan, atau pertanian  (agro wisata),
dan  sebagainya.  Tetapi  kalau  karya  wisata  itu  sengaja  disiapkan  sebagai
metode  pembelajaran  maka  unsur  akademiknya  harus  menonjol.  Tujuan
pembelajaran harus dirumuskan secara  jelas, materi pembelajaran yang akan
dipelajari harus ditulis berupa  tugas  yang harus  diperoleh melalui observasi
atau wawancara dengan nara sumber yang ada ditempat wisata itu, dan ketika
akan kembali  atau  setelah  sampai di  sekolah guru harus mengevaluasi hasil
belajar yang baru mereka kerjakan melalui karya wisata itu. Dengan demikian
tujuan karya wisata sebagai metode pembelajaran adalah untuk :
1)  Mengkaji materi pembelajaran  tertentu sebagaimana direncanakan dalam
kurikulum/silabus. Misalnya untuk mempelajari cara berternak sapi perah
dan  pengelolahan  susunya,  maka  siswa  diajak  berkarya  wisata  ke
peternakan sapi perah.
2)  Melengkapi materi pelajaran yang  tertulis di buku   sehingga pemahaman
siswa menjadi lebih jelas dan konkrit.
3)  Memupuk  rasa  cinta  lingkungan,  daerah,  tanah  air,  dan  penghargaan
terhadap pahlawan serta pemimpin yang berjasa dimasa silam.
c.  Alasan Menggunakan Metode Karya Wisata
1)  Memvariasikan penggunaan metode pembelajaran agar siswa  termotivasi
belajar.
2)  Dengan  karya wisata  siswa  berkembang  rasa  kebersamaanya,  tanggung
jawabnya, kerjasamanya, dan toleransinya. 3)  Penguasaan materi  yang dipelajari  secara  langsung melalui karya wisata
akan lebih cepat dikuasai dan lama diingat.
4)  Karena keunggulan dan tujuan karya wisata sebagai metode pembelajaran
sebagaimana dikemukakan dalam naskah ini.
d.  Keunggulan dan Kelemahan Metode Karya Wisata
1)  Keunggulan
Apa saja keunggulan metode karya wisata ?
Metode karya wisata mempunyai keunggulan sebagai berikut :
a)  Siswa dapat belajar langsung di lapangan sehingga pengetahuan yang
diperoleh nyata, hidup, bermakna, dan komperhensif.
b)  Siswa  dapat  menemukan  sendiri  jawaban  dari  masalah  atau
pertanyaan tentang materi yang dipelajari dengan melihat, mendengar,
mencoba dan membuktikan sendiri secara langsung.
c)  Motivasi dan minat belajar siswa tinggi. Siswa senang belajar melalui
karya wisata.
d)  Guru  diperingan  tugasnya  dalam  menyampaikan  materi  pelajaran,
karena materi disampaikan oleh nara sumber atau observasi  langsung
oleh siswa sendiri.
e)  Siswa  aktif  belajar  melalui  observasi,  wawancara,  percobaan,
menggolong-golongkan, dan sebagainya.
2)  Kelemahan
Apakah ada kelemahan metode karya wisata ?
Ada beberapa kelemahan metode karya wisata, antara lain :
a.  Memerlukan persiapan yang melibatkan banyak pihak.
b.  Memerlukan  waktu  yang  cukup  lama,  apalagi  kalau  dilaksanakan
terlalu  sering  dan  jauh  dari  sekolah,  sehingga  dapat  mengganggu
jadwal pelajaran.
c.  Memerlukan biaya yang relatif tinggi.
d.  Memerlukan  pengawasan  yang  ketat  agar  siswa  fokus  kepada
tugasnya.
e.  Laporan hasil karya wisata biasanya diserahkan tidak tepat waktu.
e.  Cara Mengatasi Kelemahan Metode Karya Wisata
Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi kelemahan metode
karya wisata antara lain :
1)  Rumuskan tujuan secara jelas dan konkrit. 2)  Tentukan  secara  jelas  tugas-tugas  yang  harus  dilakukan  sewaktu  karya
wisata dan sesudah karya wisata.
3)  Bentuk  panitia  pelaksanaan  karya  wisata  yang  bertugas  menyiapkan
semua hal yang berkaitan dengan pelaksanaan karya wisata.
4)  Pilih waktu libur untuk pelaksanaan karya wisata.
5)  Rencanakan pembiayaan jauh sebelum karya wisata itu dilaksanakan. Bila
mungkin masukkan  rencana pembiayaan  itu dalam DUK  (Daftar Usulan
Kegiatan) anggaran sekolah.
6)  Buat  tata  tertib  pelaksanaan  karya  wisata  secara  jelas  dan
dikomunikasikan secepatnya kepada siswa.
f.  Langkah-langkah  Pelaksanaan  Metode  Karya  Wisata  dalam
Pembelajaran
1)  Kegiatan Persiapan
a)  Merumuskan tujuan pembelajaran
b)  Menyiapkan materi pelajaran yang sesuai silabus/kurikulum yang ada
c)  Melakukan studi awal ke lokasi sasaran karya wisata
d)  Menyiapkan skenario pelaksanaan karya wisata
e)  Menyiapkan tata tertib pelaksanaan karya wisata
2)  Kegiatan Pelaksanaan Karya Wisata
a)  Kegiatan Pembukaan
Kegiatan  pembukaan  ini  dilaksanakan  di  sekolah  sebelum  berangkat
ke  lokasi karya wisata,  atau dapat pula dilaksanakan di  lokasi karya
wisata sebelum turun ke lapangan. Kegiatan pembukaan ini meliputi :
  Mengingatkan  kembali  pelajaran  yang  pernah  diberikan melalui
pertanyaan apersepsi.
  Memotivasi  siswa dengan membuat kaitan materi pelajaran  yang
akan  dipelajari  dengan  peristiwa-peristiwa  yang  terjadi  di
masyarakat atau melalui pertanyaan-pertanyaan.
  Mengemukakan  tujuan  pelajaran  yang  akan  dipelajari  dan
kegiatan-kegiatan  yang  harus  dilakukan  untuk  mencapai  tujuan
pelajaran tersebut selama karya wisata.
  Mengemukakan tata tertib selama karya wisata.
b)  Kegiatan Inti
Kegiatan inti pelajaran ini dilakukan selama karya wisata :   Melakukan  observasi  terhadap  obyek  sasaran  belajar,  lalu
mendiskripsikannya  dalam  bentuk  kalimat,  mengambil
gambarnya, dan sebagainya.
  Mewawancarai  nara  sumber  dan  mencatat  informasi  yang
disampaikan secara lisan oleh nara sumber.
  Mengumpulkan leaflet atau booklet yang ada.
  Sesuai  dengan  skenario  yang  disiapkan  guru,  dapat
diselenggarakan  seminar  atau  dikusi  dengan  nara  sumber,
penguasa/pejabat yang relevan.
c)  Kegiatan Penutup
Kegiatan  mengahiri  karya  wisata  ini  dapat  dilakukan  ketika
masihberada  di  lokasi  wisata  atau  setelah  kembali  ke  sekolah,
kegiatannya meliputi :
  Menyuruh  siswa  melaporkan  hasil  karya  wisata  dan  membuat
rangkuman.
  Melakukan evaluasi proses dan hasil karya wisata.
  Melakukan  tindak  lanjut berupa  tugas yang sifatnya memperkaya
hasil karya wisata. 3.  Metode Penemuan (Discovery)
a.  Pengantar
Apa  yang  dimaksud  dengan  metode  penemuan  (discovery)  ?  Sebelum
menjawab pertanyaan tersebut perlu dipahami dengan jelas istilah yang saling
dipertukarkan.  Penemuan  (discovery)  sering  dipertukarkan  pemakaiannya
dengan penyelidikan (inquiry).
Sund  (dalam  Kartawisastra,  1980)  berpendapat  bahwa  penemuan  adalah
proses  mental  dimana  siswa  mengasimilasikan  suatu  konsep  atau  prinsip.
Sedangkan  inquiry  (inkuiri) menurut Sund meliputi  juga penemuan. Dengan
kata  lain,  inkuiri  adalah  perluasan  proses  penemuan  yang  digunakan  lebih
mendalam.  Artinya  proses  inkuiri  mengandung  proses  mental  yang  lebih tinggi  tingkatannya,  misalnya  :  merumuskan  masalah,  merancang
eksperimen, melakukan eksperimen, mengumpulkan data, menganalisis data,
menarik  kesimpulan,  dan  sebagainya.  Akhirnya  Sund  berpendapat  bahwa
penggunaan  metode  penemuan  baik  untuk  siswa  kelas  rendah,  sedangkan
inkuiri baik untuk kelas tinggi.
Dengan  demikian  penemuan  diartikan  sebagai  prosedur  pembelajaran  yang
mementingkan  pembelajaran  perseorangan,  manipulasi  obyek,  melakukan
percobaan,  sebelum  sampai  kepada  generalisasi.  Metode  penemuan
mengutamakan  cara  belajar  siswa  aktif  (CBSA),  berorientasi  pada  proses,
mengarahkan sendiri, mencari sendiri, dan reflektif.
b.  Tujuan
Apa  tujuan  penggunaan  metode  penemuan  ?    Tujuan  penggunaan  metode
penemuan antara lain :
1)  Untuk memperoleh metode pembelajaran yang sesuai dengan materi dan
tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
2)  Untuk  mengatifkan  siswa  belajar  (CBSA)  sesuai  dengan  materi  dan
tujuan pembelajaran.
3)  Untuk memvariasikan metode  pembelajaran  yang  digunakan  agar  siswa
tidak bosan.
4)  Agar  siswa  dapat  menemukan  sendiri,  menyelidiki  sendiri,  dan
memecahkan sendiri masalah yang dipelajari, sehingga hasilnya setia dan
tahan lama dalam ingatan, dan tidak mudah dilupakan.
c.  Alasan Digunakan Metode Penemuan
Mengapa  guru memilih  metode  penemuan  dalam  pembelajarannya  ?  Guru
menggunakan metode penemuan karena metode penemuan itu :
1)  Memungkinkan untuk mengembangkan cara belajar siswa aktif.
2)  Pengetahuan  yang  ditemukan  sendiri  melalui  metode  penemuan  akan
betul-betul dikuasai, dan mudah digunakan / ditransfer dalam situasi lain.
3)  Siswa  dapat  menguasai  salah  satu  metode  ilmiah  yang  sangat  berguna
dalam kehidupannya.
4)  Siswa  dibiasakan  berpikir  analitis  dan  mencoba  memecahkan  masalah
yang akan ditransfer dalam kehidupan masyarakat.
d.  Kebaikan dan Kelemahan Metode Penemuan
1)  Kebaikan Metode Penemuan
a)  Siswa belajar bagaimana belajar melalui proses penemuan.
b)  Pengetahuan yang diperoleh melalui penemuan sangat kokoh. c)  Metode penemuan membangkitkan gairah siswa dalam belajar.
d)  Metode penemuan memungkinkan  siswa bergerak untuk maju  sesuai
dengan kemampuannya sendiri.
e)  Metode  ini menyebabkan  siswa mengarahkan  sendiri cara belajarnya
sehingga ia merasa lebih terlibat dan termotivasi sendiri untuk belajar.
f)  Metode  ini berpusat pada anak, dan guru sebagai  teman belajar   atau
fasilitator.
2)  Kelemahan Metode Penemuan
Apa kelemahan metode penemuan ? Kelemahan metode penemuan antara
lain :
a)  Metode  ini mempersyaratkan kesiapan mental, dalam arti siswa yang
pandai  akan  memonopoli  penemuan  dan  siswa  yang  bodoh  akan
frustrasi.
b)  Metode ini kurang berhasil untuk kelas besar karena habis waktu guru
untuk membantu siswa dalam kegiatan penemuannya.
c)  Dalam  pelajaran  tertentu  (misalnya  IPA)  fasilitas  yang  dibutuhkan
untuk mencoba ide-ide mungkin terbatas.
d)  Metode  ini  terlalu  mementingkan  untuk  memperoleh  pengertian,
sebaliknya  kurang  memperhatikan  diperolehnya  sikap  dan
keterampilan.
e)  Metode  ini kurang memberi kesempatan untuk berpikir kreatif kalau
pengertian-pengertian yang akan ditemukan telah diseleksi oleh guru,
begitu pula proses-prosesnya dibawah pembinaannya.
e.  Cara mengatasi Kelemahan Metode Penemuan
1)  Bentuklah kelompok-kelompok kecil, yang anggotanya  terdiri dari siswa
pandai  dan  siswa  kurang  pandai,  agar  siswa  yang  pandai  bisa
membimbing siswa yang kurang pandai. Dengan cara ini pula kelemahan
kelas besar dalam penggunaan metode ini dapat diatasi.
2)  Metode penemuan untuk IPA dapat pula dilakukan di luar kelas sehingga
tidak memerlukan fasilitas atau bahan yang umumnya mahal.
3)  Mulailah  dengan  penemuan  terbimbing,  kemudian  jika  siswa  sudah
terbiasa  dengan metode  ini maka  gunakanlah metode  penemuan  bebas,
agar siswa benar-benar dapat berkembang berpikir kreatifnya.
 f.  Langkah-langkah Pelaksanaan Metode Penemuan
Jika  guru  menggunakan  metode  penemuan,  apa  saja  langkah-langkah
pelaksanaannya  ?  Langkah-langkah  pelaksanaan  metode  penemuan  itu
adalah:
1)  Kegiatan Persiapan
a)  Mengidentifikasi kebutuhan bekajar siswa (need assessment).
b)  Merumuskan tujuan pembelajaran.
c)  Menyiapkan  problem  (materi  pelajaran)  yang  akan  dipecahkan.
Problem  itu  dinyatakan  dalam  bentuk  pernyataan  atau  pertanyaan.
Problem  tentang  konsep  atau  prinsip  yang  akan  ditemukan  itu  perlu
ditulis dengan jelas.
d)  Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan.
2)  Kegiatan Pelaksanaan Penemuan
a)  Kegiatan Pembukaan
  Melakukan  apersepsi,  yaitu  mengajukan  pertanyaan  mengenai
materi pelajaran yang telah diajarkan.
  Memotivasi  siswa  dengan  cerita  pendek  yang  ada  kaitannya
dengan materi yang diajarkan.
  Mengemukakan  tujuan  pembelajaran  dan  kegiatan/tugas  yang
dilakukan untuk mencapai tujuan pembelajaran itu.
b)  Kegiatan Inti
  Mengemukakan  problema  yang  akan  dicari  jawabannya melalui
kegiatan penemuan.
  Diskusi  pengarahan  tentang  cara  pelaksanaan
penemuan/pemecahan problema yang telah ditetapkan.
  Pelaksanaan  penemuan  berupa  kegiatan  penyelidikan/percobaan
untuk menemukan konsep atau prinsip yang telah ditetapkan.
  Membantu  siswa  dengan  informasi  atau  data,  jika  diperlukan
siswa.
  Membantu  siswa  melakukan  analisis  data  hasil  temuan,  jika
diperlukan.
  Merangsang terjadinya interaksi antar siswa dengan siswa.
  Memuji siswa yang giat dalam melaksanakan penemuan.
  Memberi kesempatan siswa melaporkan hasil penemuannya.
c)  Kegiatan Penutup
  Meminta siswa membuat rangkuman hasil-hasil penemuannya.   Melakukan evaluasi hasil dan proses penemuan.
  Melakukan  tindak  lanjut,  yaitu  meminta  siswa  melakukan
penemuan  ulang  jika  ia  belum  menguasai  materi,  dan  meminta
siswa  mengerjakan  tugas  pengayaan  bagi  siswa  yang  telah
melakukan penemuan dengan baik.

Metode Pembelajaran Diskusi, Simulasi dan Pemberian Tugas

1.  Metode Diskusi  
a.  Pengertian
Sanjaya  (2006), dan Sumantri dan Permana  (1998/1999) menyatakan bahwa
metode diskusi diartikan sebagai siasat untuk menyampaikan bahan pelajaran
yang  melibatkan  siswa  secara  aktif  untuk  membicarakan  dan  menemukan
alternatif   pemecahan  suatu  topik bahasan yang bersifat problematis. Dalam
percakapan  itu  para  pembicara  tidak  boleh  menyimpang  dari  pokok
pembicaraan  yaitu  masalah  yang  ingin  dicarikan  alternatif  pemecahannya.
Dalam diskusi  ini guru berperan  sebagai pemimpin diskusi,  atau guru dapat
mendelegasikan  tugas  sebagai  pemimpin  itu  kepada  siswa,  walaupun
demikian  guru masih  harus mengawasi  pelaksanaan  diskusi  yang  dipimpin
oleh  siswa  itu.  Pendelegasian  itu  terjadi  kalau  siswa  dalam  kelas  dibagi
menjadi beberapa kelompok diskusi. Pemimpin Diskusi harus mengorganisir
kelompok yang dipimpinnya agar setiap anggota diskusi dapat berpartisipasi
secara aktif.
b.  Tujuan  
1)  Memecahkan materi pembelajaran yang berupa masalah atau problematik
yang sukar dilakukan oleh siswa secara perorangan.
2)  Mengembangkan keberanian siswa mengemukakan pendapat.
3)  Mengembangkan sikap toleran terhadap pendapat yang berbeda.
4)  Melatih  siswa  mengembangkan  sikap  demokratis,  keterampilan
berkomunikasi, mengeluarkan pendapat, menafsirkan dan menyimpulkan
pendapat.
5)  Melatih dan membentuk kestabilan sosial-emosional.
c.  Alasan Penggunaan Metode Diskusi
Mengapa  guru  memilih  menggunakan  metode  diskusi  ?  Sumantri  dan
Permana (1998/1999) mengemukakan alasan dipilihnya metode diskusi :
1)  Topik bahasan bersifat problematis.
2)  Merangsang  peserta  didik  untuk  terlibat  secara  aktif  dalam  perdebatan
ilmiah.
3)  Melatih peserta didik untuk berpikir kritis dan terbuka.
4)  Mengembangkan  suasana  demokratis  dan melatih  peserta  didik  berjiwa
besar.
5)  Peserta  didik memiliki  pAndangan  yang  berbeda-beda  tentang masalah
yang dijadikan topik diskusi. 6)  Peserta  didik  memiliki  pengetahuan  dan  pendapat-pendapat  tentang
masalah yang akan didiskusikan.
7)  Masalah  yang  didiskusikan  akan  berhubungan  dengan  persoalan-
persoalan yang lain pula.
d.  Kelebihan dan Kelemahan Metode Diskusi  
1)  Kelebihan Metode Diskusi
Apa  saja  keunggulan  Metode  Diskusi?  Beberapa  keunggulan  metode
diskusi untuk pembelajaran adalah:
a)  Siswa dapat menguasai materi pelajaran secara bersama-sama.
b)  Merangsang  siswa  untuk  lebih  kreatif menyumbangkan  gagasan  dan
ide-ide.
c)  Melatih  siswa  membiasakan  diri  bertukar  pikiran  dalam  mengatasi
setiap permasalahan.
d)  Melatih  siswa  mengemukakan  pendapat  dan  menghargai  pendapat
orang lain.
e)  Menyajikan materi yang tidak bisa disajikan oleh metode lain.  
2)  Kelemahan Metode Diskusi
Sebaliknya,  apa  saja  kelemahan Metode Diskusi  ? Beberapa  kelemahan
metode diskusi untuk pembelajaran di sekolah adalah :
a)  Sering  diskusi  dikuasai  oleh  dua  atau  tiga  orang  siswa  yang  pandai
bicara.
b)  Pembahasan  dalam  diskusi  cenderung  meluas,  sehingga  hasilnya
kabur.
c)  Diskusi  memerlukan  waktu  yang  cukup  panjang,  sehingga  tidak
sesuai dengan jadwal pelajaran yang ada.
d)  Dalam  diskusi  sering  terjadi  perbedaan  pendapat  yang  bersifat
emosional  sehingga menimbulkan  ketersinggungan  antar  siswa  yang
menyebabkan terganggunya iklim pembelajaran.
e)  Kadang-kadang guru tidak menguasai cara menyelenggarakan diskusi
sehingga diskusi cenderung menjadi tanya jawab.
e.  Cara Mengatasi Kelemahan Diskusi  
Apa  yang  harus  dilakukan    untuk  mengatasi  kelemahan  diskusi?  Ada
beberapa cara untuk mengatasi kelemahan metode diskusi antara lain:
1)  Masalah yang didiskusikan harus cukup sulit dan menarik perhatian siswa
karena berkaitan dengan kehidupan mereka. 2)  Guru  harus  menempatkan  dirinya  sebagai  pemimpin  diskusi.  Ia  harus
membagi-bagi  pertanyaan  dan  memberi  petunjuk  tentang  jalannya
diskusi.
3)  Tempat duduk harus diatur melingkar  atau berbentuk  tapal kuda  supaya
peserta diskusi dapat saling berhadapan sehingga terjadi komunikasi yang
lancar.
4)  Setiap  siswa  peserta  diskusi  harus  memahami  masalah  yang  harus
didiskusikan,  untuk  itu  guru  sebagai  pemimpin  diskusi  harus  terlebih
dahulu menjelaskan masalah yang akan didiskusikan dan garis besar arah
dan tujuan yang ingin dicapai.
f.  Langkah-langkah Pelaksanaan Metode Diskusi  
Apa  saja  langkah-langkah  pelaksanaan  metode  diskusi  ?  Langkah-langkah
pelaksanaan metode diskusi meliputi hal-hal berikut :
1)  Kegiatan Persiapan
  Merumuskan tujuan yang ingin dicapai dalam diskusi  
  Mengidentifikasi masalah yang  cukup  sulit  yang berupa problematik
sehingga memerlukan diskusi untuk memecahkannya.
  Memilih  jenis  diskusi  yang  cocok  apakah  itu  diskusi  kelas,  diskusi
kelompok kecil, simposium, atau diskusi panel tergantung pada tujuan
yang  ingin  dicapai misalnya:  apabila  tujuan  diskusi  suatu  persoalan,
maka  dipilih  jenis  diskusi  kelompok  kecil,  sedang  jika  tujuannya
untuk  mengembangkan  gagasan  siswa  maka  simposium  dianggao
sebagai jenis diskusi yang tepat.
2)  Kegiatan Pelaksanaan Metode Diskusi  
a)  Kegiatan Pembukaan
  Guru  menanyakan  materi  pelajaran  yang  pernah  diajarkan
(apersepsi).
  Guru mengemukakan permasalahan yang ada di masyarakat yang
ada kaitannya dengan masalah yang akan didiskusikan.
  Guru  mengemukakan  tujuan  diskusi  serta  tata  cara  yang  harus
diperhatikan dalam diskusi.
b)  Kegiatan Inti Pembelajaran
  Guru mengemukakan materi  pelajaran  yang  berupa  problematik
yang  akan  didiskusikan,  dan  menjelaskan  secara  garis  besar
hakekat permasalahan tersebut.   Guru berusaha memusatkan perhatian peserta diskusi dengan cara
antara  lain  :  mengingatkan  arah  diskusi  yang  sebenarnya,
mengakui  kebenaran  gagasan  siswa  dengan  menggalang  bagian
penting  yang  telah  diucapkan  siswa,  merangkum  hasil
pembicaraan pada tahap tertentu sebelum berpindah pada masalah
berikutnya.
  Memperjelas uraian pendapat siswa karena  ide yang disampaikan
kurang jelas sehingga sukar dimengerti oleh anggota diskusi.
  Menganalisis pAndangan siswa karena terjadi perbedaan pendapat
antar  anggota  diskusi  dengan  jalan meneliti  apakah  alasan  siswa
tersebut mempunyai  dasar  yang  kuat, memperjelas  hal-hal  yang
disepakati dan yang tidak disepakati.
  Meningkatkan  uraian  pendapat  siswa  dengan  jalan  mengajukan
pertanyaan kunci yang menantang siswa untuk berpikir, memberi
waktu  untuk  berpikir,  memberi  komentar  positif  terhadap
pendapat siswa, mendengarkan dengan penuh perhatian, dan sikap
yang bersahabat.
  Menyebarkan  kesempatan  berpartisipasi  agar  pembicaraan  tidak
didominasi oleh beberapa orang siswa yang enggan berpartisipasi,
memberi  giliran  pada  siswa  yang  pendiam,  meminta  siswa
mengomentari pendapat temannya, dan menengahi pendapat yang
saling sama kuat.
c)  Kegiatan Penutup  
  Kegiatan ini meliputi :
  Meminta siswa atau wakil kelompok melaporkan hasil diskusi
  Meminta  siswa  lain  atau  kelompok  lain  mengomentari  dan
melengkapi rumusan hasil diskusi.
  Melakukan evaluasi hasil belajar dan evaluasi proses diskusi.
  Memberi tugas untuk memperdalam hasil diskusi.
 2.  Metode  Simulasi
a.  Pengertian
Apa yang dimaksud dengan metode simulasi dalam pembelajaran disekolah ?
Abimanyu  dan  Purwant  (1980),  Sumantri  dan  Permana  (l998/l999)
menyatakan  bahwa  metode  pembelajaran  digunakan  untuk  menirukan
keadaan  sebenarnya  kedalam  situasi  buatan,  misalnya  seorang  guru
mensimulasikan bagaimana cara melompat tinggi dengan gaya panggung atau
bagaimana  seorang  penatar  P4  mensimulasikan  kehidupan  masyarakat
Pancasila,  dimana  setiap  peserta  penataran  ada  yang  berperan  sebagai
lurah/RW/RT  dan  anggota  masyarakat  yang  kesemuanya  berperan  secara
sungguh-sungguh  seperti  yang dialami dalam kehidupan  sosial di kelurahan
itu.
Dengan  demikian  simulasi  adalah  suatu  usaha  pembelajaran  untuk
memperoleh  pemahaman  akan  hakekat  suatu  konsep  atau  prinsip,  atau
sesuatu  keterampilan  tertentu  melalui  proses  kegiatan  atau  latihan  dalam
situasi tiruan. Melalui simulasi itu siswa akan mampu menghadapi kenyataan
yang mungkin terjadi secara lebih efektif dan efisien.
b.  Tujuan
Tujuan  digunakan  metode  simulasi  baik  langsung,  maupun  tidak  langsung
adalah sebagai berikut :
1)  Tujuan langsung
a)  Untuk  melatih  keterampilan  tertentu  baik  yang  bersifat  profesional
maupun kehidupan sehari-hari.
b)  Untuk memperoleh pemahaman tentang konsep atau prinsip.
c)  Untuk latihan memecahkan masalah.  
2)  Tujuan tidak langsung
a)  Untuk meningkatkan aktifitas belajar dengan melibatkan siswa dalam
mempelajari situasi yang hampir sama dengan  kejadian sebenarnya.
b)  Untuk meningkatkan motivasi belajar, karena simulasi sangat menarik
dan menyenangkan siswa.
c)  Melatih siswa bekerja sama dalam kelompok.
d)  Mengembangkan daya kreatif siswa.
e)  Melatih siswa untuk memahami  dan menghargai pendapat orang lain.
c.  Alasan Penggunaan Metode Simulasi
Mengapa  metode  simulasi  diperlukan  dalam  interaksi  pembelajaran  di
sekolah ? Ada  beberapa  alasan  tentang  digunakannya  metode  simulasi  dalam
pembelajaran :
1)  Simulasi  dapat    menunjang  pelaksanaan  dalam  melatih  keterampilan
dasar mengajar yang sangat diperlukan bagi terbentuknya guru-guru yang
profesional.  
2)  Simulasi merupakan  salah  satu metode  yang memungkinkan  siswa  aktif
belajar  menghayati,  memahami  dan  memperoleh  keterampilan  tertentu
tanpa memerlukan  obyek  atau  situasi  yang  sebenarnya  yang  umumnya
susah didapatkan.
3)  Metode simulasi memungkinkan terpadunya teori dan praktek, konten dan
metode,  sebab  dengan  simulasi  teori  atau  konten  yang  baru  diajarkan
dapat  segera  dipraktekkan,  sehingga  konsep  yang  diperoleh  dan
keterampilan  yang  dimiliki  menjadi  sangat  kuat  tertanam  dalam  diri
siswa.    
4)  Melalui  metode  simulasi  memungkinkan  siswa  belajar  dengan
pemahaman bukan belajar secara mekanis.  
5)  Dengan  metode  simulasi  dimungkinkan  pelibatan  alat-alat  indra  siswa
secara  optimal,  sehingga  pencapaian  tujuan  pelajaran  akan  lebih  efektif
dan bermakna.
d.   Kekuatan dan Kelemahan Metode Simulasi
1)  Kekuatan Metode Simulasi
Apa  saja kekuatan  metode simulasi ?
Ada  beberapa  keuntungan  digunakannya  metode  simulasi  dalam
pembelajaran. Keuntungan-keuntungan itu antara lain :
a)  Menciptakan kegairahan siswa untuk belajar.
b)  Mengembangkan daya cipta siswa.
c)  Siswa  dapat  menguasai  keterampilan  atau  konsep-konsep  tertentu
melalui simulasi.
d)  Mengembangkan rasa percaya diri dan perasaan positif.
e)  Melalui  simulasi kegiatan pembelajaran dapat berlangsung walaupun
tidak dalam situasi dan obyek yang sebenarnya.  
f)  Melalui  simulasi  siswa  dibantu  memahami  hal-hal  yang  asbtrak
melalui kegiatan nyata, walaupun dalam bentuk tiruan.  
2)  Kelemahan Metode Simulasi
Apa  saja kelemahan  metode simulasi ?
Kelemahan metode simulasi adalah : a)  Pengetahuan  dan  keterampilan  yang  disimulasikan  tidak  selalu
sepenuhnya sama dengan kenyataan di lapangan.
b)  Simulasi  memerlukan  kreatifitas  yang  tinggi  dari  guru    dan  siswa
yang kadang-kadang sukar dipenuhi.
c)  Perlu pemahaman siswa  tentang materi dan peranannya serta fasilitas
pendukung yang tidak selalu mudah terpenuhi.
d)  Simulasi  sebagai  metode  pembelajaran  dapat  melenceng  tujnya
menjadi alat hiburan.
e)  Rasa malu, ragu-ragu dan tidak menguasai materi akan menyebabkan
simulasi tidak mencapai tujuan.
f)  Sering  guru  tidak  melakukan  diskusi  balikan  setelah  selesai
pelaksanaan simulasi, sehingga kurang bermanfaat bagi siswa lainnya.
e.  Cara Mengatasi Kelemahan Metode Simulasi
Apa yang dapat dilakukan untuk mengatasi kelemahan metode simulasi ?
Beberapa  cara  yang  dapat  dilakukan  untuk  mengatasi  kelemahan  metode
simulasi adalah :
1)  Perlu  pengkajian  yang  cermat  tentang  pengetahuan  dan  keterampilan
yang akan disimulasikan agar sesuai dengan kenyataan di lapangan.
2)  Guru  perlu menyiapkan materi  dan  skenario  simulasi  sebelum  simulasi
dilaksanakan.
3)  Guru perlu menjelaskan kepada siswa bahwa simulasi  ini adalah  latihan
keterampilan  tertentu  bukan  suatu  hiburan  karena  itu  siswa  lain  yang
tidak terlibat dalam simulasi harus menyimak dengan baik karena dalam
tahap  evaluasi mereka  akan  ditanya  pengetahuan  dan  keterampilan  yag
disimulasikan itu.
4)  Setelah  simulasi  berakhir  harus  dilakukan  diskusi  balikan  yang
melibatkan  semua  siswa agar siswa yang  tidak melakukan  simulasi  ikut
memahami hasil simulasi itu.
5)  Siswa yang  akan memegang peranan dalam  simulasi perlu  latihan  yang
memadai  sebelum melakukan  simulasi agar  tidak  terjadi keragu-raguan,
rasa malu dan tidak menguasai materi.
f.  Langkah-langkah Pelaksanaan Metode Simulasi
Jika  Anda  akan  melakukan  pembelajaran  dengan  menggunakan  metode
simulasi, apa saja langkah-langkah yang harus Anda lakukan ?
Langkah-langkah pembelajaran dengan metode simulasi meliputi :
 1)  Kegiatan Persiapan
Kegiatan persiapan yang perlu dilakukan oleh guru adalah :
a)  Merumuskan tujuan pembelajaran yang akan dicapai oleh siswa.
b)  Memilih materi dan topik yang akan disimulasikan.
c)  Menyiapkan garis besar skenario pelaksanaan simulasi.
d)  Guru  memberi  penjelasan  kepada  siswa  tentang  garis  besar  materi,
tujuan dan situasi yang akan disimulasikan.
e)  Guru  mengorganisasikan  pembentukan  kelompok,  peranan-peranan
yang  akan  ada,  pengaturan  ruangan,  pengaturan  materi,  pengaturan
alat yang akan digunakan  dan sebagainya.
f)  Menawarkan kepada siswa  tentang siapa yang akan memegang peran
dalam simulasi.
g)  Guru  memberi  penjelasan  kepada  siswa  dan  para  pemegang  peran
tentang hal-hal yang harus dilakukan.
h)  Guru memberi kesempatan bertanya.
i)  Guru memberi  kesempatan  pada  tiap  kelompok  dan  para  pemegang
peran untuk menyiapkan diri.
j)  Guru menetapkan  alokasi waktu  yang  diperlukan  untuk  pelaksanaan
simulasi.
2)  Kegiatan Pelaksanaan
a)  Kegiatan Pembukaan
  Menanyakan materi pelajaran yang lalu.
  Membuat  cerita  anecdote  yang  ada  kaitannya  dengan  pelajaran
yang akan diajarkan
  Menyampaikan acuan, yaitu tujuan pelajaran yang akan dilakukan
dengan simulasi.
b)  Kegiatan Inti
Setelah segala sesuatunya siap, maka simulasi dimulai
  Siswa  yang  tidak  memainkan  peran  akan  bertindak  selaku
pengamat/observer.  Mereka  dibekali  panduan  observasi  untuk
merekam peranan yang dimainkan oleh para pelaku simulasi.
  Para pemegang peran melakukan simulasi sesuai dengan skenario
atau pedoman umum yang  telah dibuat oleh guru atau yang  telah
disiapkan oleh para pemegang peran.  
  Guru  membantu  mensupervisi,  dan  memberi  sugesti  demi
kelancaran pelaksanaan simulasi.   Memberi  kesempatan  pada  para  pengamat  untuk menyampaikan
kritik, dan laporan hasil pengamatannya
  Memberi  kesempatan  kepada  para  pemegang  peran  untuk
memberikan klarifikasi,
c)  Kegiatan Menutup Simulasi
Kegiatan ini meliputi usaha-usaha guru untuk :
  Guru  meminta  siswa  membuat  kesimpulan-kesimpulan  dan
rangkuman.
  Guru melakukan evaluasi
  Jika  berdasarkan  hasil  evaluasi  ternyata  simulasi  yang  dilakukan
tidak  mencapai  tujuan,  maka  para  pemegang  peran  diminta
mengulangi  lagi  simulasi  dengan  memperhatikan  masukan  dari
para  observer,  atau  guru  dapat  menunjuk  siswa  lain  untuk
melaksanakan simulasi ulang tersebut.
 
3.   Metode Pemberian Tugas
a.  Pengertian
Sagala  (2006) mengemukakan  bahwa metode  pemberian  tugas  adalah  cara
penyajian bahan pelajaran dengan cara memberikan tugas tertentu agar siswa
melakukan  kegiatan  belajar,  dan  kemudian  hasil  pelaksanaan  tugas  itu
dilaporkan kepada guru.
b.  Tujuan
Tujuan penggunaan metode pemberian tugas adalah :
1)  Untuk memperdalam bahan ajar yang ada
2)  Untuk mengecek penguasaan siswa terhadap bahan yang telah dipelajari
3)  Untuk  membuat  siswa  aktif  belajar,  baik  secara  individu  maupun
kelompok
c.  Alasan Penggunaan Metode Pemberian Tugas
Mengapa guru menggunakan metode pemberian  tugas ? Alasan penggunaan
metode pemberian tugas adalah karena dengan metode tersebut 1)  Siswa  diaktifkan  baik  secara  mental  maupun  fisik  dalam  menguasai
materi pelajaran
2)  Siswa akan lebih mudah menguasai materi pelajarann dan siswa diperluas
pengetahuannya tentang materi pelajaran tersebut
3)  Siswa dibiasakan tidak cepat puas dengan apa yang dipelajari dari materi
ajar  yang  telah  ada  sehingga  dapat  dikembangkan  sikap  ingin  tahu  dan
haus ilmu pengetahuan
4)  Siswa akan termotivasi belajar dan dilatih problem solving
d.  Kekuatan dan Kelemahan Metode Pemberian Tugas
1)  Kekuatan metode pemberian tugas.
Apa  saja  kekuatan  metode  pemberian  tugas?  Kekuatan  atau  kelebihan
metode pemberian tugas adalah:
a)  Pengetahuan  yang    dipelajari  lebih  meresap,  tahan  lama,  dan  lebih
otentik.
b)  Melatih  siswa  untuk  berani mengambil  inisiatif,  bertanggung  jawab,
dan berdiri sendiri.
c)  Tugas  yang  diberikan  guru  dapat  memperdalam,  memperkaya  atau
memperluas wawasan siswa tentang apa yang dipelajari.
d)  Siswa dilatih kebiasaan mencari dan mengolah informasi sendiri.
e)  Metode ini jika dilakukan berbagai variasi dapat menggairahkan siswa
belajar.
2)  Keterbatasan metode pemberian tugas.
Apa saja keterbatasan metode pemberian tugas?
Beberapa  kelemahan  dari metode  pemberian  tugas  dalam  pembelajaran
adalah:
a)  Bagi siswa yang malas cenderung melakukan kecurangan atau mereka
hanya meniru pekerjaan orang lain.
b)  Ada kalanya tugas itu dikerjakan oleh orang lain sehingga siswa tidak
meperoleh hasil belajar apa-apa.
c)  Jika  tugas  yang  diberikan  siswa  terlalu  berat  dapat  menimbulkan
stress pada siswa.
d)  Ada  kalanya  guru  memberi  tugas  tanpa  menyebutkan  sumbernya,
akibatnya siswa sulit untuk menyelesaikannya.

 e.  Cara Mengatasi Kelemahan Metode Pemberian Tugas
Apa  saja  usaha  yang  harus  dilakukan  guru  untuk  mengatasi  kelemahan
metode  pemberian  tugas?  Beberapa  cara  yang  dapat  dilakukan  untuk
mengatasi kelemahan metode pemberian tugas antara lain:
1)  Tugas yang diberikan pada siswa hendaknya jelas, sehingga mereka tidak
mengalami kesulitan dalam mengerjakannya.
2)  Beri waktu yang cukup untuk menyelesaikan tugas yang diberikan.
3)  Tugas  yang diberikan harus diawasi  secara  sistematis agar  siswa belajar
dengan sungguh-sungguh.
4)  Tugas  yang  telah  dikerjakan  dan  telah  diserahkan  pada  guru  harus
dikoreksi  dan  diberi  catatan-catatan  perbaikan  dan  kemudian
dikembalikan pada siswa.
5)  Tugas  yang  diberikan  hendaknya menarik minat  siswa  dan mendorong
siswa untuk menyelesaikannya.
f.  Langkah-langkah Pengajaran Dengan Metode Pemberian Tugas
Apa  saja  langkah-langkah  pengajaran  dengan  metode  pemberian  tugas?
Langkah-langkah  pembelajaran  dengan  menggunakan  metode  pemberian
tugas meliputi:
1)  Kegiatan Persiapan
a)  Merumuskan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai
b)  Menyiapkan  pokok-pokok  materi  pembelajaran  untuk  mencapai
tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
c)  Menyiapkan tugas-tugas kegiatan yang akan diberikan pada siswa.
2)  Kegiatan Pelaksanaan
a)  Kegiatan pembukaan
  Mengajukan  pertanyaan  apersepsi  untuk  mengingatkan  siswa
terhadap materi yang telah diajarkan.
  Memotivasi  siswa  dengan  mengemukakan  cerita  yang  ada  di
masyarakat  yang  ada  kaitannya  dengan  materi  yang  akan
diajarkan.
  Mengemukakan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
b)  Kegiatan inti pelajaran
  Guru menerangkan secara garis besar materi pelajaran yang akan
diajarkan.
  Guru menjelaskan rincian tugas dan cara mengerjakannya   Siswa  mengerjakan  tugas  sesuai  dengan  petunjuk  atau  cara
penyelesaian  tugas  yang  diberikan  oleh  guru  termasuk  antaranya
adalah menggunakan lembar kegiatan siswa.
  Jika  tugas  itu  direncanakan  untuk  diselesaikan  selama  jam
pelajaran  yang  ada, maka  guru meminta  siswa melaporkan  hasil
penyelesaian tugasnya.
  Guru memeriksa hasil penyelesaian tugas siswa.
  Jika  tugas  itu  direncanakan  untuk  diselesaikan  di  rumah,  maka
siswa  diberitahu  kapan  hasil  penyelesaian  tugas  itu  harus
diserahkan pada guru untuk diperiksa oleh guru.
c)  Kegiatan mengakhiri pelajaran
  Guru menyuruh  siswa merangkum materi yang diajarkan melalui
kegiatan pemberian tugas itu.
  Guru melakukan evaluasi
  Guru melakukan tindak lanjut yang kemungkinannya dapat berupa
memberikan penjelasan tentang materi yang belum dikuasai siswa
atau  memberi  tugas  tambahan  untuk  memperdalam  atau
menambah penguasaan siswa terhadap materi yang diajarkan.

Metode Pembelajaran Ceramah, Tanya Jawab, dan Demonstrasi

1.  Metode  Ceramah
a.  Pengertian
Sumantri  dan  Permana  (l998/l999)  menyatakan  bahwa  metode  ceramah
adalah  cara mengajar  yang paling popular dan banyak dilakukan oleh  guru.
Hal  ini  karena  metode  ceramah  mudah  disajikan  dan  tidak  banyak
memerlukan media. Metode  ceramah  adalah  penyajian  pelajaran  oleh  guru
dengan  cara memberikan penjelasan  secara  lisan kepada  siswa. Penggunaan
metode ceramah sangat  tergantung pada kemampuan guru. Penguasaan guru
terhadap materi pelajaran, kemampuan berbahasa, intonasi suara, penggunaan
media,  dan    variasi  gaya mengajar  lainnya  sangat menentukan  keberhasilan
metode ini.
b.  Tujuan
Tujuan metode ceramah adalah menyampaikan materi pelajaran yang bersifat
informasi,  yaitu  konsep,  pengertian,  prinsip-prinsip    yang  banyak  dan  luas
serta  hasil  penemuan-penemuan  baru  yang  belum  terpublikasikan  secara
meluas. Secara lebih khusus tujuan metode ceramah adalah :
1)  Menciptakan lAndasan pemikiran siswa agar dapat belajar melalui bahan
tertulis hasil ceramah guru.
2)  Menyajikan  garis-garis  besar    isi  pelajaran    dan  permasalahan  perting
yang terdapat  dalam isi pelajaran.
3)  Merangsang  siswa  untuk  belajar mandiri  dan menumbuhkan  rasa  ingin
tahu melalui pengayaan belajar.
4)  Memperkenalkan  hal-hal  baru  dan  memberikan  penjelasan  secara
gamblang teori dan prakteknya.
5)  Sebagai langkah awal untuk metode yang lain  dalam upaya menjelaskan
prosedur yang harus ditempuh siswa. Misalnya sebelum eksperimen siswa
diberi penjelasan tentang apa-apa yang harus dilakukan oleh siswa.
c.  Alasan Penggunaan Metode Ceramah
 Mengapa  kita  harus  menggunakan  metode  ceramah?  Metode  ceramah
digunakan  guru dalam pembelajaran dengan alasan-alasan sebagai berikut :
1)  Siswa benar-benar memerlukan penjelasan guru karena   bahan baru atau
langkanya sumber pustaka, dan untuk menghindari kesalahpahaman.
2)  Karena tidak ada buku sumber pelajaran yang tersedia.
3)  Menghadapi  siswa  yang  banyak  jumlahnya,  dan  bila  menggunakan
metode lain  sukar diterapkan.
4)  Menghemat waktu, biaya, dan peralatan. d.   Kekuatan dan Keterbatasan Metode Ceramah
1)  Kekuatan Metode Ceramah
Apa    saja  kekuatan    dari metode  ceramah  untuk  pembelajaran  di  SD?
Setidaknya  ada  lima  keunggulan  metode  ceramah  sehingga  guru
memilihnya sebagai metode pembelajaran. Kekuatan metode ceramah itu
antara lain :
a)  Murah  dalam    arti  efisien  dilihat  dari  segi  waktu,  biaya  dan
tersedianya guru.
b)  Mudah dalam arti materi dapat disesuaikan dengan terbatasnya waktu,
karakteristik siswa, materi pelajaran, dan tersedianya alat pelajaran.
c)  Meningkatkan  daya  dengar  siswa  dan menumbuhkan minat   belajar
dari sumber lain.
d)  Memperoleh  penguatan,  dalam  arti  guru  memperoleh  penghargaan,
kepuasan  dan  sikap  percaya  diri    dari  siswa  yang  diajar  jika  siswa
memperhatikannya  dan  kelihatan  senang    karena mengajarnya  guru
baik.
e)  Ceramah  dapat memberikan wawasan  yang  luas  karena  guru    dapat
menambah  dan mengkaitkan  dengan  sumber  dan materi  lain  dalam
kehidupan sehari-hari.
2)  Kelemahan Metode Ceramah
a)  Siswa  dapat  menjadi  jenuh  terutama  kalau  guru  tidak  pandai
menjelaskan.
b)  Dapat menimbulkan verbalisme pada siswa.
c)  Materi ceramah terbatas pada yang diingat guru.
d)  Bagi  siswa  yag  keterampilan  mendengarkannya  kurang  akan
dirugikan.
e)  Siswa dijejali dengan konsep yang belum tentu dapat diingat terus.
f)  Informasi yang disampaikan mudah usang dan ketinggalan zaman.
g)  Tidak merangsang berkembangnya kreatifitas siswa.
h)  Terjadi interaksi satu arah yaitu dari guru kepada siswa.
e.   Cara Mengatasi Kelemahan Metode Ceramah
1)  Selang-selingilah ceramah dengan pertanyaan-pertanyaan.
2)  Gunakan  alat  peraga  baik  langsung  maupun  tiruan,  serta  lakukan
demonstrasi untuk meragakan konsep yang Anda kemukakan.
3)  Ciptakan  interaksi  yang bervariasi  antara guru-siswa,  siswa-guru,  siswa-
siswa. 4)  Lakukan  gaya  mengajar  yang  bervariasi  supaya  siswa  tidak  bosan
mendengarkan ceramah Anda.
f.   Langkah-langkah Pelaksanaan Metode Ceramah
Jika  Anda  melaksanakan  metode  ceramah,  langkah-langkah  apa  saja  yang
harus  Anda  lakukan?  Langkah-langkah  yang  harus  dilakukan  meliputi
kegiatan persiapan, kegiatan pelaksanaan dan kegiatan mengakhiri ceramah.
1)  Kegiatan Persiapan
a)  Merumuskan  tujuan  yang  ingin  dicapai.  Tujuan  harus  dirumuskan
dengan jelas sehingga jelas pula apa yang harus dikuasai siswa setelah
proses pembelajaran selesai.
b)  Menentukan  pokok-pokok  materi  yang  akan  diceramahkan.
Keberhasilan  ceramah  sangat  tergantung  pada  penguasaan  guru
terhadap  materi  yang  akan  diceramahkan.  Pokok-pokok  materi  itu
harus  sesuai  dengan  tujuan  pembelajaran  yang  harus  dicapai.
Disamping  itu  diperlukan  pula  ilustrasi-ilustrasi  atau  contoh-contoh
yang relevan untuk memperjelas informasi yang disampaikan.
c)  Mempersiapkan  alat  bantu.  Alat  bantu  ini  dapat  mempermudah
pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan. Disamping itu alat
bantu juga dapat membantu meningkatkan kualitas ceramah.
2)  Kegiatan Pelaksanaan
Ada tiga kegiatan yang perlu dilakukan oleh guru yaitu :
a)  Kegiatan pembukaan
  Dalam kegiatan pembukaan ini, guru paling tidak harus melakukan :
  Apersepsi yaitu menanyakan kembali pelajaran yang lalu.
  Motivasi yaitu suatu anekdot yang berusaha mengaitkan peristiwa
dalam  kehidupan  yang  berkaitan  dengan  materi  yang  akan
diajarkan.
  Memberi  acuan  yaitu  menyampaikan  tujuan  pengajaran  atau
pokok-pokok materi yang akan diajarkan.
b)  Kegiatan inti pelajaran
Yaitu  kegiatan  penyampaian materi  pembelajaran melalui  informasi
lisan. Agar ceramah guru berkualitas maka guru harus dapat menarik
perhatian  siswa  agar  tetap  terarah  pada  materi  yang  sedang
disampaikan. Untuk menjaga perhatian  siswa,  guru perlu melakukan
hal-hal berikut:
  Menjaga kontak pAndang dengan siswa secara terus menerus.
  Gunakan bahasa yang komunikatif agar mudah dimengerti siswa.   Sajikan  materi  secara  sistematis  tidak  meloncat-loncat  sehingga
tidak membingungkan siswa.
  Tanggapi respon siswa dengan segera dan secara antusias.
  Jagalah  suasana  kelas  agar  tetap  kondusif  dan  menggairahkan
untuk belajar.
  Selang-selingilah  ceramah  Anda  dengan  pertanyaan-
pertanyaan/tanya jawab.    
c)  Kegiatan mengakhiri ceramah
Ceramah  harus  diakhiri  melalui  prosedur  tertentu  agar  materi  yang
barus diterima tidak dilupakan. Prosedur itu adalah :
  Membimbing  siswa membuat  rangkuman  atas  materi  yang  baru
disampaikan.
  Melakukan evaluasi formatif.
  Melakukan  tindak  lanjut, yaitu mengajarkan kembali materi yang
belum  dikuasai  siswa  atau   memberi    tugas  tambahan  jika  siswa
telah menguasai materi berdasarkan hasil evaluasi formatif. 2.   Metode Tanya Jawab
a.  Pengertian
    Apa yang dimaksud metode tanya jawab dalam pembelajaran di sekolah?
Metode  tanya  jawab  adalah  cara  penyampaian  suatu  pelajaran  melalui
interaksi dua  arah dari  guru kepada  siswa  atau dari  siswa kepada  guru  agar
diperoleh  jawaban  kepastian materi melalui  jawaban  lisan  guru  atau  siswa.
Dalam metode tanya jawab, guru dan siswa  sama-sama aktif. Siswa dituntut
untuk aktif agar mereka tidak tergantung pada keaktifan guru. Rasa ingin tahu
anak usia SD harus ditumbuh-suburkan agar ia menjadi manusia yang kreatif.
Untuk  itu  guru  harus  menguasai  keterampilan  bertanya  dan  juga    harus mempunyai semangat yang tinggi didalam menciptakan situasi yang kondusif
bagi terlaksananya tanya jawab yang mendidik.
b.  Tujuan
    Adapun tujuan metode tanya jawab adalah :
1)  Untuk mengetahui penguasaan siswa terhadap materi pelajaran.
2)  Mendorong  siswa  berani mengajukan  pertanyaan  kepada  guru    tentang
masalah yang belum dipahami
3)  Menimbulkan kompetisi belajar yang sehat, dimana siswa yang aktif dan
dapat menjawab pertanyaan guru atau siswa lain dengan baik akan lebih
percaya  diri  dan  akan  terus  berusaha  untuk  lebih  baik  lagi,  dan  siswa
yang belum aktif atau tidak dapat menjawab pertanyaan guru atau siswa
lainnya dapat mempersiapkan diri lebih baik lagi dalam kesempatan lain.
4)  Melatih siswa untuk berpikir dan berbicara secara sistematis dan sistemik
berdasarkan pemikiran yang orisinal.
5)  Dengan metode  tanya  jawab  siswa diarahkan agar mengerti, memahami
dan berinteraksi  secara  aktif dalam pembelajaran  sehingga  tujuan dapat
dicapai dengan baik.
c.  Alasan Menggunakan Metode Tanya Jawab
Mengapa guru menggunakan metode tanya jawab dalam pembelajaran ?
Alasan guru menggunakan metode tanya jawab adalah untuk :
1)  Menimbulkan rasa  ingin  tahu siswa  terhadap permasalahan yang sedang
dibicarakan  sehingga  timbul  partisipasi  aktif  dan  aktifitas mental  yang
tinggi pada siswa.
2)  Menimbulkan pola fikir reflektif, sistematis, kreatif`dan kritis.
3)  Mewujudkan cara belajar siswa aktif.
4)  Melatih  dan  memberanikan  siswa  untuk  belajar  mengekspresikan
kemampuan lisan.
5)  Memberi  kesempatan  siswa  menggunakan  pengetahuan  yang  telah
dimilikinya.
d.  Kekuatan dan Keterbatasan Metode Tanya Jawab
1)  Kekuatan Metode tanya jawab
Keunggulan Metode tanya jawab meliputi sebagai berikut
a)  Dapat menarik dan memusatkan perhatian siswa terhadap pelajaran.
b)  Mengetahui kedudukan atau kualitas siswa dalam belajar di kelas.
c)  Dapat merangsang siswa menggunakan daya pikir dan nalarnya.
d)  Menimbulkan keberanian dalam mengemukakan jawaban. 2)  Keterbatasan Metode tanya jawab
Keterbatasan metode tanya jawab adalah :
a)  Pada kelas  yang  jumlah  siswanya besar pertanyaan dapat disebarkan
ke  seluruh  siswa  sehingga  siswa  tidak  memiliki  kesempatan  yang
sama untuk menjawab atau pun bertanya.
b)  Siswa  yang  tidak  aktif  tidak  memperhatikan,  bahkan  tidak  terlibat
secara mental.
c)  Sering  guru  tidak  memiliki  keterampilan  bertanya  yang  memadai
sehingga tujuan pelajaran tidak tercapai.
d)  Menimbulkan  rasa  rendah  diri  pada  siswa  yang  tidak  memiliki
keberanian menjawab atau bertanya.
e)  Dapat  membuang-buang  waktu  bila  siswa  tidak  responsif  terhadap
pertanyaan.
e.  Cara Mengatasi Kelemahan Metode Tanya Jawab
Bagaimana  cara mengatasi  kelemahan metode  tanya  jawab?  Beberapa  tips
untuk mengatasi kelemahan metode tanya jawab :
1)  Jumlah siswa dalam satu kelas tidak boleh lebih dari 40 orang siswa, agar
pertanyaan guru dapat dijawab oleh sebagian besar siswa.
2)  Siswa  yang  tidak  aktif  harus  diminta  mengulangi  jawaban  siswa  yang
benar,  jika  dia  dapat mengulangi  jawaban  temannya  tadi  dengan  benar,
maka dia harus diberi penguatan positif agar ia tertarik dan ikut aktif.
3)  Guru harus terampil dalam mengemukakan pertanyaan.
4)  Pertanyaan-pertanyaan  harus  disusun  mulai  dari  yang  mudah  sampai
dengan  yang  sukar  agar  siswa  yang  kurang  pintar  dapat  pula menjawab
pertanyaan.
f.  Langkah-langkah  Pelaksanaan Metode Tanya Jawab
Bagaimana  cara  melaksanakan  metode  tanya  jawab  dengan  baik?  Metode
tanya jawab ini dapat dilakukan dengan langkah-langkah pelaksanaan sebagai
berikut :
1)  Kegiatan Persiapan
a)  Rumuskan tujuan yang harus dicapai oleh siswa setelah pembelajaran
berakhir
b)  Siapkan  materi  pembelajaran  sesuai  dengan  tujuan  yang  telah
dirumuskan. c)  Siapkan  pertanyaan-pertanyaan  yang  akan  digunakan  sesuai  dengan
ranah  kognitif,  afektif,  atau  psikomotorik  (tergantung  materi  dan
tujuan pelajaran).
2)  Kegiatan Pelaksanaan
a)  Kegiatan Pembukaan
Seperti halnya metode ceramah, sebelum kegiatan inti pelajaran, guru
melaksanakan kegiatan membuka pelajaran yang meliputi :
  Mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk memotivasi siswa yaitu
pertanyaan-pertanyaan  yang  ada  kaitannya  dengan  materi  yang
akan diajar.
  Mengajukan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
b)  Kegiatan Inti Pelajaran
Kegiatan  ini  dilakukan  melalui  metode  tanya  jawab  dengan
memperhatikan hal-hal berikut:
  Ajukan  pertanyaan-pertanyaan mengenai materi  pelajaran  seperti
yang telah dipersiapkan sebelumnya.
  Gunakan  keterampilan-keterampilan  bertanya  dasar  dan  lanjut
seperti  memberi  acuan,  pemusatan,  menggilir,  menyebarkan,
memberi  waktu  berpikir,  memberi  tuntunan,  mengajukan
pertanyaan melacak dan sebagainya.
  Jangan lupa memberi penguatan yang dapat menjawab pertanyaan
guru  dan menghindari  pemberian    penguatan  negatif  bagi  siswa
yang  tidak  dapat  menjawab  pertanyaan  atau  yang  jawabannya
salah.
  Beri  tuntunan  bagi  siswa  yang  tidak  bisa menjawab  pertanyaan
guru  atau  bagi  siswa  yang  jawabannya  salah.  Jika  siswa  tidak
dapat menjawab pertanyaan alihkan ke beberapa siswa lain sampai
diperoleh  jawaban  yang  benar.  Siswa  yang  menjawab  salah
diminta  mengulangi  jawaban  yang  benar  dan  diberi  penguatan
yang benar. Jika  tidak ada satupun siswa yang menjawab dengan
benar, maka guru harus menjawab dan memberi penjelasan.
  Jika ada siswa yang bertanya lemparkan pertanyaan itu pada siswa
lain untuk menjawabnya, jangan terburu-terburu guru sendiri yang
menjawab pertanyaan itu.
  Pertanyaan  guru  yang  sahih  (analisis,  sintesis  dan  evaluasi)  beri
kesempatan  siswa  mendiskusikan  dengan  teman  sebangkunya
untuk memperoleh jawaban yang benar.   Setiap  pokok  bahasan  yang  selesai  dipertanyakan  guru meminta
siswa untuk membuat kesimpulannya
c)  Kegiatan Mengakhiri Tanya Jawab
Apa  yang  harus  dilakukan  guru  dalam  mengakhiri  pembelajaran
dengan metode  tanya  jawab  ini? Adapun  yang  harus dilakukan  guru
adalah:
  Meminta  siswa  merangkum  isi  pelajaran  yang  dilaksanakan
melalui  tanya  jawab  itu.  Guru  membimbing  siswa  membuat
rangkuman  itu  melalui  tuntunan  atau  pertanyaan-pertanyaan
pelacak untuk memperoleh rangkuman yang diinginkan.
  Guru  melakukan  evaluasi  dengan  mengajukan  pertanyaan-
pertanyaan  untuk mengetahui  tingkat  penguasaan  siswa  terhadap
materi yang diajarkan.
  Guru memberi tugas untuk mempelajari materi pelajaran di rumah
untuk makin menguasai materi tersebut. 3.  Metode Demonstrasi
a.  Pengertian
Sanjaya  (2006),  dan  Sumantri  dan  Permana  (1998/1999)  mengemukakan
bahwa  demonstrasi  adalah  cara  penyajian  pelajaran  dengan memperagakan
dan mempertunjukkan  pada  siswa  tentang  suatu  proses,  situasi  atau  benda
tertentu yang sedang dipelajari baik dalam bentuk sebenarnya maupun dalam
bentuk  tiruan yang dipertunjukkan oleh   guru atau  sumber belajar  lain yang
ahli dalam topik bahasan yang harus didemonstrasikan.
Metode  Demonstrasi  biasanya  berkenaan  dengan  tindakan-tindakan  atau
prosedur  yang  dilakukan  misalnya  :  proses    mengerjakan  sesuatu,  proses
menggunakan  sesuatu,  membandingkan  suatu  cara  dengan  cara  lain,  atau
untuk mengetahui/melihat kebenaran sesuatu.  b.  Tujuan
Apa    tujuan  digunakannya  metode  demonstrasi  ?  Metode  demonstrasi
digunakan dengan tujuan :
1)  Mengajarkan suatu proses atau prosedur yang harus dikuasai oleh siswa.
2)  Mengkongkritkan informasi atau penjelasan kepada siswa.
3)  Mengembangkan  kemampuan  pengamatan  kepada  para  siswa  secara
bersama-sama.
c.  Alasan Penggunaan Metode Demonstrasi
Kapan guru menggunakan metode demonstrasi ? Guru menggunakan metode
demonstrasi apabila :
1)  Tidak semua topik dapat dijelaskan secara gamblang dan konkrit melalui
penjelasan atau diskusi.
2)  Karena  tujuan  dan  sifat  materi  pelajaran  yang  menuntut  dilakukan
peragaan berupa demonstrasi.
3)  Tipe belajar siswa yang berbeda-beda, ada yang kuat visual, tetapi lemah
dalam auditif dan motorik, ataupun sebaliknya.
4)  Memudahkan mengajarkan suatu proses atau cara kerja.
5)  Sesuai  dengan  langkah  perkembangan  kognitif  siswa  yang masih  dalam
fase operasional konkrit.  
d.   Kekuatan dan Keterbatasan Metode Demonstrasi
1)  Kekuatan Metode Demonstrasi
Apa Kelebihan Metode Demonstrasi dibanding dengan metode yang lain?
Kelebihan  metode  demonstrasi  dibanding  dengan  metode  yang  lain
adalah:
a)  Pelajaran menjadi  lebih  jelas dan  lebih konkrit sehingga  tidak  terjadi
verbalisme.
b)  Siswa  akan  lebih  mudah  memahami  materi  pelajaran  yang
didemontrasikan itu.
c)  Proses  pembelajaran  akan  sangat  menarik,  sebab  siswa  tak  hanya
mendengar tetapi juga melihat peristiwa yang terjadi.
d)  Siswa  akan  lebih  aktif  mengamati  dan  tertarik  untuk  mencobanya
sendiri.
e)  Menyajikan materi yang tidak bisa disajikan oleh metode lain.
2)  Kelemahan Metode Demonstrasi
Apa  Kelemahan  Metode  Demonstrasi  ?  Beberapa  kelemahan  metode
demonstrasi antara lain:  a)  Tidak semua guru dapat melakukan demonstrasi dengan baik.
b)  Terbatasnya  sumber  belajar,  alat  pelajaran,  media  pembelajaran,
situasi yang sering tidak mudah  diatur dan terbatasnya waktu.
c)  Demonstrasi memerlukan waktu yang lebih banyak dibanding dengan
metode ceramah dan tanya jawab.
d)  Metode  demonstrasi  memerlukan  persiapan  dan  perancangan  yang
matang.
e.  Cara Mengatasi Keterbatasan Metode Demonstrasi
Upaya-upaya  apa  yang dapat dilakukan untuk mengatasi kelemahan metode
demonstrasi? Kelemahan metode demonstrasi dapat diatasi melalui berbagai
cara berikut:
1)  Guru harus terampil melakukan demonstrasi.
2)  Melengkapi sumber, alat dan media pembelajaran yang diperlukan untuk
demonstrasi.
3)  Mengatur waktu sebaik mungkin.
4)  Membuat rancangan dan persiapan demonstrasi sebaik mungkin.    
f.  Langkah-langkah Pelaksanaan Metode Demonstrasi
Apa  saja  langkah-langkah  pelaksanaan  metode  demonstrasi?  Langkah-
langkah pelaksanaan metode demonstrasi meliputi hal-hal berikut :
1)  Kegiatan Persiapan
  Merumuskan tujuan pembelajaran yang harus dicapai oleh siswa
  Menyusun materi  yang  akan  diajarkan  untuk mencapai  tujuan  yang
telah dirumuskan.
  Menyiapkan  garis  besar  langkah-langkah    demonstrasi  yang  akan
dilakukan  untuk  mempermudah  penguasaan  materi  yang  telah
disiapkan.
  Melakukan  latihan  pendemonstrasian    termasuk  cara  penggunaan
peralatan yang diperlukan.
2)  Kegiatan Pelaksanaan Metode Demonstrasi
a)  Kegiatan Pembukaan
Sebelum kegiatan demonstrasi, ada beberapa hal yang harus dilakukan
dalam pembukaan pelajaran :
  Aturlah  tempat  duduk  yang  memungkinkan  setiap  siswa  dapat
memperhatikan apa yang didemonstrasikan guru.
  Tanyakan pelajaran sebelumnya.   Timbulkan motivasi  siswa  dengan mengemukakan  anekdot  atau
kasus  di masyarakat  yang  ada  kaitannya  dengan  pelajaran  yang
akan dibahas.
  Kemukakan  tujuan  apa  yang  harus  dicapai  oleh  siswa  dan  juga
tugas-tugas  apa  yang  harus  dilakukan  disamping  dalam
demonstrasi nanti.
b)  Kegiatan Inti Pembelajaran
  Mulailah melakukan  demonstrasi  sesuai  yang  telah  direncanakan
dan dipersiapkan oleh guru.
  Pusatkan  perhatian  siswa  kepada  hal-hal  penting  yang  harus
dikuasai  dari  demonstrasi  yang  dilakukan  oleh  guru  sehingga
semua  siswa  mengikuti  jalannya  demonstrasi  dengan  sebaik-
baiknya.
  Ciptakan  suasana  kondusif  dan  hindari  suasana  yang
menegangkan.
  Berikan kesempatan kepada siswa untuk aktif dan kritis mengikuti
proses  demonstrasi  termasuk memberi  kesempatan  bertanya  dan
komentar-komentar.
c)  Kegiatan Mengakhiri Pembelajaran
  Jika  demonstrasi  telah  selesai,  yang  dilakukan    guru  selanjutnya
adalah:
  Meminta  siswa  merangkum  atau  menyimpulkan  pokok-pokok
atau langkah-langkah kegiatan demonstrasi.
  Memberi kesempatan pada siswa untuk bertanya mengenai hal-hal
yang belum dipahami.
  Melakukan  evaluasi,  baik  evaluasi  hasil  belajar maupun  evaluasi
bersama tentang jalannya proses demonstrasi.
  Tindak  lanjut  baik  berupa  tugas-tugas  berikutnya maupun  tugas-
tugas untuk mendalami materi yang baru diajarkan.

PENDEKATAN KETRAMPILAN PROSES (PKP)

A.  Rasional Penerapan PKP Dalam Pembelajaran

                 Pendekatan  Ketrampilan  Proses,  seperti  telah  ditegaskan  sebelumnya,
adalah  pendekatan  yang  menekankan  penggunaan  ketrampilan  memproseskan
perolehan dalam pembelajaran yang dikembangkan sebagai konsep terlaksana  untuk
menerapkan Pendekatan CBSA. Oleh karena  itu,   alasan dikembangkannya PKP  ini
tidak berbeda secara prinsip dengan rasional Pendekatan CBSA. Rasional penerapan
PKP dalam pembelajaran  (Conny Semiawan, dkk,1985: 14-16; Moedjiono dan Moh.
Dimyati, 1992/1993:  12-14) sebagai berikut:
1.  Percepatan perkembangan  ilmu pengetahuan menyebabkan bahan ajar, yang  
bersumber  dari  ilmu  pengetahuan  itu  makin  banyak  (makin  luas  dan  atau
mendalam) sehingga  tidak mungkin  lagi guru mengajarkan  semua  fakta dan
konsep itu kepada muridnya dalam pembelajaran di sekolah. Kalau guru tetap
berusaha  mengajarkan  semua  fakta  dan  konsep  itu,  maka  guru  biasanya
memilih cara praktis dengan metode ceramah. Akibatnya, murid  mengetahui
banyak  fakta dan konsep yang diajarkan  itu,  tetapi murid  tidak dilatih untuk
menemukan  dan  atau  mengembangkan  fakta,  konsep,  dan  atau  prinsip,
dengan kata lain, tidak dilatih untuk mengembangkan ilmu pengetahuan.
2.  Perkembangan kognitif murid SD-MI yang masih berada pada  tahap operasi
konkrit      sehingga masih memerlukan  contoh nyata untuk dapat memahami
konsep  yang  abstrak  dan  rumit,  utamanya  dengan memperaktekkan  sendiiri
upaya menemukan konsep  itu. Hal  itu sesuai dengan salah satu prinsip PKP
yakni  perkembangan  kognitif  sesungguhnya  dilandasi  oleh  gerakan  dan
perbuatan,  seperti pendapat  Jean Piaget  “….. mengetahui  sesuatu obyek  tak
lain daripada memperlakukannya”; esensi pengetahuan adalah aktivitas, baik
fisik dan  terutama mental. Tugas guru adalah menyiapkan  suatu  lingkungan
belajar  yang  menggiring  murid  untuk  bertanya,  mengamati,  mengadakan
percobaan,  dll  untuk  menemukan  fakta,  konsep,    dan  atau  prinsip.  Murid
mulai belajar menjadi seorang „ilmuwan‟.
3.  Penemuan  ilmu  pengetahuan  hanyalah  suatu  kebenaran  relatif  yang  masih
tetap  terbuka  untuk  dikaji  dan  diuji  kembali.  Hal  tersebut  menuntut  suatu
sikap ilmiah dari para ilmuwan yakni mampu dan mau mengkaji dan menguji
kembali  sesuatu  yang  telah  dianggap  benar.  Sikap  ilmiah  itu  seharusnya
mulai  ditanamkan  pada  setiap  murid  SD-MI.  Dari    sisi  lain,  murid  mulai
dibiasakan  untuk mempertanyakan  dan mencari  kemungkinan-kemungkinan
lain, dengan kata lain, murid dibiasakan untuk berpikir dan bertindak kreatif.
4.  Setiap pembelajaran harus tetap berusaha untuk mengembangkan kepribadian
murid secara holistik. Meskipun suatu pembelajaran berada dikawasan ranah
kognitif, tetapi pembelajaran itu tidak boleh dilepaskan dari ranah afektif dan
atau  psikomotorik.  PKP  yang  menekankan  pengembangan  ketrampilan
memproseskan perolehan (kawasan psikomotorik: ketrapilan fisik/intelekual)
akan  berperan  sebagai    wahana  penyatukait  antara  pengembangan  konsep
(ranah kognitif) dan pengembangan  sikap dan nilai (ranah afektif).
        Demikianlah  beberapa alasan  yang mendorong dikembangkannya PKP sebagai
konsep  terlaksananya penerapkan Pendekatan CBSA,   namun bukanlah pengaktifan
murid  yang  “…..tanpa  isi,  tanpa  pesan,  tanpa    rancangan,  dan  tanpa  arah.
……..[Tetapi]  yang  dipraktekkan  adalah  cara  belajar  siswa  aktif  yang
mengembangkan ketrampilan proses perolehan.”  (Conny Semiawan, dkk, 1985: 16).
Pembelajaran  aktif  dan  bermakna  itu   menuntut  aktivitas murid  yang  bukan  hanya
bersifat fisik, melainkan yang utama adalah keterlibatan mental (intelektual dan atau
emosionl).  Pembelajaran  yang  bermakna  itu  akan  menumbuhkan    prakarsa  dan
kreativitas murid dalam pembelajaran, serta  akan mendorong  perkembangan mental
yang  kadarnya  tinggi  dalam  2  (dua)  komponen  penting  yakni  (1)  berpikir  kritis
dalam mencari kebenaran fakta, konsep, prinsip, dan atau teori,  dan (2)   kreativitas
dalam  mencari  kebermaknaan  (Siler,  1990,  dan  Lipman,  1991,  dari  Conny R.Semiawan,  1993:17-19). Seperti diketahui, proses berpikir dapat dibedakan dalam
2  (dua)  fungsi utama, yakni  (1) berpikir kritis,  rasional  logis, konvergen  (memusat)
sebagai  fungsi  utama    dari  belahan  otak  kiri,  dan  (2)  berpikir  kreatif,  divergen
(memencar)    sebagai  fungsi  utama  dari  otak  kanan. Kedua  sisi  fungsi  berpikir  itu
saling  melengkapi  dan  merupakan  satu  kesatuan,  dan  keduanya  seharusnya
dikembangkan  secara    seimbang,  serasi dan  selaras dalam pembelajaran di SD-MI.
Dalam pengamatan tentang pembelajaran di SD-MI, diperoleh kesan bahwa berpikir
kreatif belum cukup dikembangkan.

B. Pengertian Pendekatan Ketrampilan Proses (PKP)

             Pendekatan Ketrampilan Proses (PKP) adalah pendekatan pembelajaran yang
mengutamakan  penerapan  berbagai  ketrampilan  memproseskan  perolehan  dalam
pembelajaran  itu      “Ketrampilan  memproseskan  perolehan  adalah  suatu  konsep
terlaksana  yang  dapat membantu  kita  untuk menerapkan Cara Belajar Siswa Aktif
(CBSA)   …”  (Conny  Semiawan,  1985:  3).  Penerapan  PKP  dalam  pembelajaran
memberi penekanan agar dalam pembelajaran itu para murid dilatihkan ketrampilan-
ketrampilan mendasar yang  biasa dipergunakan para ilmuwan  dalam menghasilkan
penemuan-penemuan  besar  dalam  ilmu  pengetahuan,  seperti:  mengamati,
menghitung, mengukur, mengklasifikasi,  dll. Ketrampilan mendasar  itu  yang  telah
menghasilkan  penemuan  besar  dalam  ilmu  pengetahuan,  seperti:  „pemutarbalikan‟
Copernicus  yang  mengemukakan  bahwa  bukan  matahari  yang  mengedari  bumi
(seperti  anggapan    umum  pada  saat  itu)  tetapi  terbalik:  bumi  yang  mengedari
matahari,  atau    penemuan  ketidaksadaran  (Id/Das  unbewuzte)  oleh Sigmund Freud
dengan aliran Psikoanalisa, atau penemuan gagasan koperasi oleh Muhammad Hatta
(Bung Hatta),  dsb    Penemuan-penemuan  besar  itu  dilakukan  karena  para  ilmuwan
tersebut  menguasai  berbagai  ketrampilan  mendasar  (fisik  dan  atau  mental),
meskipun  penguasaan  fakta,    konsep,  prinsip  dan  atau  teori  dalam  bidangnya
mungkin masih terbatas.
       Ketrampilan-ketrampilan  mendasar  yang  dikuasai  para  ilmuwan  itu  pada
prinsipnya  terdapat  juga  dalam  diri  anak,  hanya  masih  potensial  dan  atau  masih
sederhana  dan  belum  berkembang.  Kalau  diperhatikan  seorang  anak  dan  seorang
ilmuwan  menyelidiki  sesuatu  disekitarnya,  umpama  seekor  kupu-kupu,  maka
keduanya didorong oleh hasrat ingin tahu yang besar, serta pada dasarnya keduanya
menggunakan  ketrampilan  proses  yang  sama,  yakni  kemungkinan  keduanya
mengamati,  menghitung,  mengukur,  dsb.  Perbedaannya  hanyalah  bahwa  para
ilmuwan menggunakan ketrampilan proses itu dengan lebih intensif dan berkualitas.

Para  ilmuwan bekerja dengan  landasan  teoritis,  lebih  terarah dan sistimatis, seperti:
ilmuwan  itu  merumuskan  masalah,  membuat  hipotesis,  melakukan
penelitian/eksperimen,  serta mengumpulkan, mengolah,  dan menginterpretasi  data,
dsb.  Intensitas dan kualitas penguasaan ketrampilan proses  itulah  yang menghantar
para ilmuwan menghasilkan penemuan-penemuan besar dalam ilmu pengetahuan.
       Pembelajaran  di  SD-MI  seyogianya  secara  dini  menumbuhkan  dan
mengembangkan ketrampilan proses seperti yang dikuasai para  ilmuwan  itu dengan
menerapkan  PKP  dalam  pembelajaranya.  Dengan  penerapan  PKP  dalam
pembelajaran, murid  dengan memproseskan perolehannya akan mampu menemukan
sendiri  fakta,  konsep,  dan  atau  prinsip  (pengembangan  pengetahuan-pemahaman
dalam ranah kognitif), dan seiring dengan itu, pembelajaran itu secara berangsur tapi
berlanjut  akan  mengembangkan  sikap  dan  nilai  pada  siswa  yang  relevan  seperti
cermat, teliti, jujur, dsb. Dengan kata lain, pembelajaran yang semula menggunakan
berbagai  ketrampilan  proses  (fisik,  social,  dan  atau  intelektual  dalam  ranah
psikomotorik), akan menghantar murid pada suatu pengetahuan-pemahaman  (dalam
ranah  kognitif),  serta  seiring  dengan  itu  menumbuhan  pula  sikap  dan  nilai  yang
relevan  (dalam  ranah  afektif).  “Seluruh  irama  gerak  atau  tindakan  dalam  proses
belajar-mengajar seperti ini akan menciptakan kondisi cara belajar siswa aktif. Inilah
sebenarnya  yang dimaksudkan dengan pendekatan proses”  (Conny Semiawan, dkk,
1985:  18)..    Pendekatan  proses  itu  akan  mengembangkan  kreativitas  murid,  yang
pada  gilirannya,  akan menjadi  landasan untuk pegembangan kepribadiannya  secara
keseluruhan.
          Terdapat beberapa manfaat yang dapat dicapai dengan menerapkan PKP dalam
pembelajaran di SD-MI (Funk, 1985; dari Moedjiono dan Moh. Dimyati, 1992/1993:
14)  sebagai berikut:
1.  Dengan  penerapan  PKP  dalam  pembelajaran,  murid  akan  memperoleh
pengertian yang tepat tentang hakekat ilmu pengetahuan;
2.  Dengan  penerapan  PKP  dalam  pembelajaran  berarti murid  bekerja  dengan
ilmu  pengetahuan,  tidak  sekadar  memperoleh  informasi  tentang  ilmu
pengetahuan itu.
3.   Dengan penerapan PKP dalam pembelajaran, murid  secara  serentak belajar
tentang proses dan produk ilmu pengetahuan.
Penerapan  PKP  dalam  pembelajaran  akan  menempatkan  murid  sebagai
„ilmuwan‟  dalam  menggeluti  ilmu  pengetahuan  itu,  dengan  kata  lain,  murid
berperan sebagai „produsen‟ bukan sekadar penerima ilmu pengetahuan itu.        

A.  Jenis-Jenis Ketrampilan Proses

             Terdapat  berbagai  ketrampilan  proses  yang  perlu  diterapkan  dalam
pembelajaran  yang  menggunakan  Pendekatan  Ketrampilan  Proses  itu    (Conny
Semiawan,  dkk,  1985:19-34;  Moedjiono  dan  Moh.  Dimyati,  1992/1993:  15-19)
sebagai berikut:

1. Observasi atau Pengamatan
         Sebagai  ketrampilan  ilmiah  yang  mendasar,  mengobservasi  atau  mengamati
adalah penggunaan semua alat  indra  (untuk melihat, mendengar, meraba, mencium,
dan atau mengecap) dengan seksama untuk memilah-milahkan sesuatu yang penting
dari yang kurang/tidak penting. Murid dalam kehidupannya sehari-hari pasti banyak
melihat  benda,  binatang,  tumbuhan,  dan  atau  orang  disekitarnya,  atau  mendengar
kicauan burung, bunyi klakson kendaraan,  dll, atau merasakan hembusan angin, dsb.
Tetapi  penglihatan,  pendengaran,  perabaan,  dll  itu  hanya  sepintas  dan  kurang
saksama,  sehingga  kegiatan  itu  bukan  observasi  atau  pengamatan.  Prasyarat  utama

dalam  observasi    adalah  pemusatan  perhatian,  ketelitian,  dan  kecermatan      dalam
melihat, mendengar, dsb sehingga dapat memilahkan yang penting dari yang lainnya.
Murid  seharusnya  dilatih  melalui  pembelajaran  untuk  melakukan  observasi  atau
pengamatan  dengan  cermat  dan  terarah,  dan  tidak  sekadar  melihat/mendengar
sesuatu itu sepintas lalu.
  
2. Penghitungan
           Menghitung  merupakan  ketrampilan  mendasar  yang  banyak  sekali
dipergunakan  para  ilmuwan  dalam  bekerja    Oleh  karena  itu,  menghitung  harus
dilatihkan    melalui  pembelajaran  di  SD-MI,  bukan  hanya  dalam  pembelajaran
matematika  tetapi  juga  pembelajaran  lainnya,  seperti    dalam  pembelajaran  ilmu
pengetahuan alam (menghitung jumlah daun, kaki belalang, dsb), pembelajaran ilmu
pengetahuan  social  (menghitung  jumlah anggota keluarga, penduduk  satu wilayah),
pembelajaran  Bahasa  Indonesia  (menghitung  jumlah  kata  dalam  setiap  kalimat,
jumlah  kalimat  dalam  satu  alinea,  dsb),  dan  lain-lain.  Hasil  perhitungan  itu  dapat
dilaporkan  dengan  membuat  tabel,  grafik,  dan  atau  histogram,  Tingkat  kesulitan
penghitungan  itu  harus  disesuaikan  dengan  tingkat  perkembangan  dan  kemampuan
murid, di kelas-kelas awal dengan penghitungan  sederhana, sedangkan untuk kelas-
kelas lanjut dengan penghitungan dan cara pelaporan yang lebih rumit.

3. Pengukuran
Ketrampilan  pengukuran  adalah  salah  satu  ketrampilan  penting  dan  banyak
dipergunakan  para  ilmuwan  dalam  pekerjaannya;  oleh  karena  itu,  ketrampilan
pengukuran  harus  menjadi  bagian  penting  dalam  pembelajaran  di  SD-MI.
Pengukuran  didasarkan  pada  perbandingan,  seperti membandingkan  panjang,  luas,
volume dari benda, membandingkan kecepatan, suhu, dsb. Melatih murid melakukan
berbagai pengukuran haruslah menjadi  .Bagian penting dalam pembelajaran di SD-
MI.  Pelatihan  pengukuran  itu  dilakukan  secara  bertahap,  pada  awalnya  hanya
membandingkan  panjang,  besar,  berat,  dll  terhadap  benda  di  sekitarnya,  kemudian
mulai diperkenalkan dengan ukuran  seperti meter, gram,  liter, dll yang disesuaikan
dengan tingkat perkembangan dan kemampuan murid.


4. Klasifikasi
 Ketrampilan  klasifikasi  atau  menggolong-golongkan    sesuau  merupakan
pekerjaan  rutin    seorang  ilmuwan,  dan  karena  itu  murid  SD-MI  sejak  dini  harus
diperkenalkan  dengan  ketrampilan  klasifikasi  ini.  Murid  harus  terlatih  melihat

persamaan dan perbedaan sesuatu sebagai dasar klasifikasi itu, baik berdasarkan ciri
khusus,  tujuan,  maupun  untuk  kepentingan  tertentu.  Melalui  pembelajaran,  murid
ditugaskan  melakukan    penggolongan  berbagai  benda  disekitarnya,  umpama
klasifikasi klereng berdasarkan warnanya, kancing baju berdasarkan besarnya, daun-
daunan  bedasarkan  bentuknya,  dsb.  Dengan  demikian,  murid  akan  terlatih
mengamati sesuatu secara cermat, mengenal persamaan dan perbedaan benda-benda
tersebut, serta mampu menggolong-golongkannya sesuai ciri-ciri khususnya masing-
masing. Di kelas awal, cara klasifikasi yang ditugaskan masih sederhana, dan makin
lanjut  kelas  dengan  kemampuan murid  yang  mulai  berkembang,    tugas  klasfikasi
makin  sulit,  baik  isi  tugasnya maupun  cara  pengolahan  hasil  klasifikasi  itu  dalam
pelaporan.

.5. Pengenalan Ruang dan Waktu serta Hubungan Keduanya                                            
   Ketrampilan  berkaitan  dengan  pengenalan  bentuk-bentuk  ruang  (lingkaran,
persegi  empat,  segi  tiga,  kubus,  silinder,  dll),  pengenalan  arah  (bawah,  atas,
belakang, depan, kiri, kanan, dll), pengenalan  waktu (menit, jam, sehari, seminggu,
sebulan dll) serta hubungan yang satu dengan lainnya (arah, jarak, dan waktu, seperti
lamanya  mengelilingi  suatu  lingkaran,  dll)  termasuk  ketrampilan  yang  sering
dipergunakan  ilmuwan    dalam  bekerja.  Oleh  karena  itu,  ketrampilan  ini  perlu
dilatihkan  kepada murid  SD-MI melalui  pembelajaran.,  seperti menetapkan  bentuk
suatu  ruang  atau  benda,    arah  suatu  gerakan,  lamanya  waktu  yang  dipakai  untuk
mengelilingi lapangan olah raga dengan berjalan kaki atau berlari, dsb.

6. Pembuatan Hipotesis
    Pembuatan  hipotesis  merupakan  ketrampilan  yang  sangat  penting  bagi
seorang  ilmuwan. Suatu hipotesis adalah suatu perkiraan  ilmiah  tentang pemecahan
suatu masalah,   penjelasan suatu keadaan, dll, yang   selanjutnya diuji kebenarannya
melalui penelitian, eksperimen, dsb. Murid SD-MI perlu memperoleh  latihan untuk
membuat  hipotesis  yang  kemudian  diuji  dengan  eksperimen  sederhana  melalui
berbagai  pembelajaran  di  sekolah.    Sebagai  contoh:  karena  setiap  pembakaran
memerlukan oksigen  yang ada diudara, maka  lilin yang menyala akan mati apabila
ditutup  rapat;    atau  lilin menyala  yang  penutupnya  kecil  akan  padam  lebih  dahulu
dari pada  lilin menyala yang penutupnya  lebih besar. Karena  tanaman memerlukan
air, maka  tanaman  yang  disiram  teratur  akan  lebih  subur  dari  pada  tanaman  yang
kurang/jarang disiram (dengan catatan: kedua  tanaman  itu ditempatkan pada  tempat
yang tidak kena hujan). Pembuatan dan pengujian hipotesis melalui eksperimen akan
menumbuhkan/mengembangkan  berbagai  ketrampilan  mendasar  seperti  yang diperlukan para  ilmuwan dalam bekerja,  tetapi  juga murid akan menemukan sendiri
pengetahuan-pemahaman  yang  ilmiah,  dan  serentak  dengan  itu,  akan
menumbuhkan/mengembangkan sikap ilmiah.

7. Perencanaan Penelitian/Eksperimen
    Eksperimen atau percobaan dapat dilakukan oleh siapa saja dalam kehidupan
sehari-hari,  tetapi  kebanyakan melakukannya  secara  trial  and  error  saja;  demikian
pula dengan  anak,  sering melakukan percobaan  trial and  error dengan mainannya,
dengan binatang peliharaannya, dan sebagainya.  Berbeda dengan kebanyakan orang,
para  ilmuwan    melakukan  eksperimen  dalam  rangka  penelitian  untuk  menguji
hipotesisnya.  Para  ilmuwan melakukan  penelitian/eksperimen  dilandasi  oleh  dasar
teoritis, serta dilakukan secara sistimatis dan terarah yang dipandu oleh hipotesisnya.
Oleh  karena  itu,  pembelajaran  di  SD-MI  seharusnya  meningkatkan  kemampuan
murid  yang  biasa melakukan  percobaan  secara  trial  and  error  saja menjadi  suatu
eksperimen  yang  dipandu  oleh  suatu  hipotesis  yang    dilandasi  dasar  teoritis,  dan
dilakukan  secara  sistimatis  dan  terarah.  Melalui  pembelajaran,  disamping
eksperimen,    murid  dibiasakan  pula  melakukan  berbagai  penelitian  sederhana,
seperti:  jumlah anak dari  setiap orang  tua murid di kelasnya,    tinggi badan  seluruh
murid di kelasnya, dsb. Dapat pula melakukan penelitian yang lebih rumit, umpama
hubungan  antara  tinggi  badan  dan  berat  seseorang,  hubungan  antara  tinggi  badan
dengan  nomor  sepatu  yang  dipakainya,  dsb.  Perlu  ditekankan  bahwa  setiap
penelitian/eksperimen  harus  didahului  oleh  perencanaan  yang  matang,  sehingga
penelitian/eksperimen  itu  dapat  berlangsung  seperti  yang  diinginkan.  Dengan
perencanaan  itu,  dapat  diketahui  jenis  dan  jumlah  alat  dan  bahan  yang  diperlukan,
faktor atau variabel yang harus diperhatikan/dikendalikan, prosedur kerja yang harus
ditempuh,  cara  mencatat,  mengolah,  dan  menginterpretasi  data  untuk  membuat
kesimpulan,  dsb.  Kesulitan  dan  kerumitan  penelitian/eksperimen  itu  disesuaikan
demgam tingkat perkembangan dan kemampuan murid.

8. Pengendalian Variabel
Pengendalian  variabel  atau  faktor  yang  berpengaruh  dalam
penelitian/eksperimen merupakan  salah  satu  ketrampilan mendasar  yang  dilakukan
para ilmuwan dalam melaksanakan penelitian/eksperimen itu. Pengendalian variabel
meliputi  baik  variabel  bebas  maupun  variabel  tergantung  (variabel  eksperimen).
Pengendalian  variabel,  baik  variabel  bebas  maupun  variabel  tergantung,  sangat
penting  dalam  setiap  eksperimen.      Dengan  demikian,  murid  perlu  segera
diperkenalkan dengan ketrampilan pengendalian variabel itu melalui pembelajaran di SD-MI.  Ketrampilan  pengendalian  variabel  dilatihkan  secara  langsung  sewaktu
murid  melakukan  eksperimen.  Sebagai  contoh  eksperimen  tentang  pentingnya
berbagai  jenis pupuk bagi  tanaman: variabel  tergantung  (variabel yang akan diteliti
adalah pupuk), sedang variabel bebas adalah semua hal yang terkait dengan tanaman,
kecuali  pupuk,  seperti:  bibit  tanaman,  tanah  tempat  menanam,  curah  hujan  atau
penyiraman,  sinar matahari, dsb. Dalam eksperimen, murid berlatih mengendalikan
variabel  bebas agar hal-hal itu sama untuk semua tanaman (baik tanaman percobaan
maupun  tanaman  lain  sebagai  pembanding),  demikian  juga  dengan  variabel
tergantung  (variabel  yang  akan dicobakan)  yakni penggunaan berbagai  jenis pupuk
pada  beberapa  tanaman  yang  berbeda  dan  yang  tidak  dipupuk.  Setelah  beberapa
minggu, keadaan tanaman yang dipupuk dengan pupuk yang berbeda dan yang tidak
dipupuk dibandingkan, sehingga akan dapat disimpulkan tentang (1) pengaruh pupuk
terhadap kesuburan  tanaman, dan  (2)  jenis pupuk yang  lebih menambah kesuburan
tanaman. Dengan  latihan  pengendalian  variabel  dalam  berbagai  eksperimen, murid
akan lebih menguasai ketrampilan pengendalian variabel itu

9. Interpretasi Data
 Ketrampilan  mengintrepretasi  atau  menafsirkan  data  adalah  salah  satu
ketrampilan kunci dalam keberhasilan ilmuwan dalam pekerjaannya. Data yang telah
dikumpulkan  dalam  penelitian/eksperimen  harus  dapat  diinterpretasi/ditafsirkan
dengan cara-cara  sesuai kaidah  ilmiah. Pembelajaran di SD-MI  seyogianya melatih
murid  untuk  menguasai  ketrampilan  interpretasi  data  ini.  Data  yang  telah
dikumpulkan  melalui  berbagai  kegiatan  seperti:  perhitungan,  pengukuran,
eksperimen, dan atau penelitian sederhana, diolah dan disajikan dalam berbagai cara
seperti: tabel, grafik, diagram, dan atau histogram, yang selanjutnya diinterpretasikan
dalam berbagai kesimpulan. Umpamanya, pengukuran  tinggi badan murid-murid di
kelas  sendiri   dan disajikan dalam bentuk  tabel dapat dibuat  tafsiran  seperti;  tinggi
badan  berada  dalam  rentangan  dari  terendah  ke  tertinggi,  ketinggian  berapa  yang
banyak  jumlah muridnya,  bahkan  dapat  dihitung  rata-rata  tinggi  badan murid  satu
kelas  itu,  dsb.  Dengan  pembelajaran  yang  memberi  peluang  untuk  berlatih
menginterpretasi data, murid akan terbiasa membuat kesimpulan yang sesuai dengan
kaidah ilmiah, dan bukannya kesimpulan yang direka-reka saja

gambar, model,  tabel,    grafik,    diagram,  dan  sebagainya  yang  akan memudahkan
orang lain untuk memahami apa yang dikomunikasikan itu. Ketrampilan komunikasi
ini  mutlak  dikuasai  oleh  para  ilmuwan,  agar  gagasan,  penemuan,  dan  sejenisnya
dapat  tersebar  luas  dan  diketahui  orang  lain.    Murid  di  SD-MI  perlu  dibiasakan
mengkomunikasikan gagasan,   hasil pengamatan, pengukuran, dan atau eksperimen,
dsb  sesuai  kaidah  komunikasi  ilmiah.  Dengan  bimbingan  guru,  murid  harus
melengkapi  laporannya  dengan  penyajian  data  yang  relevan  dengan  laporan  itu,
seperti  gambar,  tabel,  grafik,  dll.  Demikian  juga  laporan  hasil  kerja  tugas  dalam
Lembar Kerja Murid,  hasil diskusi atau kerja kelompok, serta kegiatan pembelajaran
lainnya yang menghasilkan  sesuatu yang perlu dikomunikasikan kepada pihak  lain.
Dengan  latihan  ini,  murid  secara  berangsur  akan  dapat  menguasai  ketrampilan
komunikasi ini, baik lisan maupun tertulis.
Demikianlah  berbagai  jenis  ketrampilan  proses  yang  selalu  dipakai  oleh  para
ilmuwan  untuk  menghasilkan  temuan-temuan  penting  yang  telah  mengabadikan
namanya dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan. Murid-murid SD-MI secara dini,
bertahap,  tetapi  berlanjut  harus  diberi  peluang  untuk mengusai  ketrampilan  proses
tersebut melalui pembelajaran di sekolah. Pengembangan ketrampilan proses secara
dini harus telah dimulai di kelas-kelas awal dengan memilih ketrampilan yang sesuai
dengan  perkembangan  dan  kemampuan  murid-murid  yang  bersangkutan,  seperti
ketrampilan mengobservasi, perhitungan, klasifikasi, komunikasi, dsb. Untuk kelas-
kelas  lanjut  harus    dilatihkan  berbagai  ketrampilan  proses  lainnya  yang  lebih  sulit
dan rumit; hal itulah yang dimaksudkan dengan latihan melalui pembelajaran secara
bertahap tetapi berlanjut. Pengembangan berbagai ketrampilan proses tersebut adalah
hasil  akumulasi  dari  diterapakannya PKP  itu melalui  berbagai  pembelajaran  dalam
berbagai bidang studi .

A.  Penerapan Ketrampilan Proses Dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Di SD-MI

            Setiap pembelajaran  selalu berlangsung dalam 3  (tiga)  tahapan utama  yakni
perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian. Kajian  tentang penerapan PKP itu dibatasi
hanya  pada  tahap  perencanaan  saja,  dengan  catatan:  Anda  dipersilahkan
mempraktekkannya bagi   yang berkesempatan dan mau melaksanakan pembelajaran
sesuai  dengan  gagasan  yang  dikaji  pada  tahap  perencanaan  ini.  Anda  dapat
mengadakan  penyesuaian situasional (penyesuaian sesuai dengan situasi dan kondisi
obyektif di  sekolah/kelas  tempat pelaksanaan pembelajaran  itu). Selanjutnya, kalau
pembelajaran  itu  sementara  dilaksanakan  dan  memerlukan  revisi  dari  rencana semula,  silahkan  mengadakan  penyesuaian  transaksional  (penyesuaian  karena
kebutuhan nyata sementara pembelajaran berlangsung).
           Penyusunan  rencana  pelaksanaan  pembelajaran  harus  didahului  dengan
beberapa  kegiatan  sebelum  mulai  merancang  pembelajaran  itu.  Kegiatan  sebelum
perancangan itu, antara lain diperlukan hal-hal berikut:
1.  Pemahaman yang tepat tentang kurikulum, utamanya silabi, yang menjadi acuan
dalam    pembelajaran    yang  akan  direncanakan  itu:  kaji  dengan  cermat
kompetensi,  indikator, pengalaman belajar, materi pokok, dll. Pilih pengalaman
belajar dan materi pokok  yang  cocok untuk penerapan PKP dalam pelaksanaan
pembelajaran itu.
2.  Pemahaman  yang  tepat  tentang  tingkat  perkembangan  dan  kemampuan  murid
yang  akan mengikuti  pembelajaran  itu,  utamanya  tentang  kemampuan  awalnya
(entering behavior);
3.  Fasilitas  pembelajaran  yang  tersedia/dapat  disediakan  dan  dapat  dipergunakan
dalam  pembalajaran:  sumber  belajar, media  pembelajaran,  alat  dan  bahan  yang
diperlukan;
Selanjutnya,  pilih  ketrampilan  proses  yang  sesuai  dengan  keperluan  pembelajaran
berdasarkan hasil kajian Butir 1, 2, dan 3 tersebut di atas. Setelah langkah persiapan
itu tuntas, mulailah merancang pembelajaran, dan setelah rancangan itu jelas barulah
mulai penyusunan/penulisan rencana pelaksanaan pembelajaran itu. .


 10.    Kesimpulan Sementara (Inferensi)                                                        
Ketrampilan  membuat  kesimpulan  sementara  atau  inferensi  sering
dipergunakan  para  ilmuwan  dalam  suatu  penelitian,  suatu  kesimpulan  yang masih
akan diuji selanjutnya untuk menjadi kesimpulan akhir. Murid dilatih untuk membuat kesimpulan sementara berdasarkan  informasi atau data yang dimilikinya pada suatu
waktu  tertentu,  yang masih  akan diuji kembali dengan diperolehnya  informasi/data
tambahan. Umpamanya:  guru menyebutkan  tiga  ciri  suatu  hewan  (seperti,  berkaki
empat,  lebih  besar  dari  kambing,  biasa  jadi  pacuan),  dan  Murid  menebaknya
(kuda)..Kesimpulan sementara itu diselidiki kebenarannya dengan mencari informasi
atau data tambahan, seperti tidak bertanduk, mudah dijinakkan, dsb..

11. Peramalan
Baik  ilmuwan maupun orang  awam biasa membuat peramalan. Perbedaannya
terletak pada dasar peramalan  itu. Peramalan orang awam biasanya didasarkan pada
pengalamannya,  seperti  kalau mendung  akan  terjadi  hujan,  kalau  panen  padi  gagal
akan  terjadi  harga  beras  naik,  dsb.  Peramalan  para  ilmuwan  biasanya  didasarkan
fakta  atau  data  yang  telah  dikumpulkannya  melalui  obervasi,  pengukuran,
eksperimen,  dll,  yang  memperlihatkan  suatu  kecenderungan  gejala  tertentu.
Pembelajaran  di  SD-MI  harus  memberi  peluang  kepada  murid  untuk    berlatih
membuat  peramalan  yang  didasarkan  pada  informasi  atau  data  yang  telah  tersedia.
Umpama  berdasarkan  catatan  curah  hujan  pada  bulan  tertentu  selama  2-5  tahun,
murid  dapat  membuat  peramalan  banyaknya    curah  hujan  bulan  ybs  tahun  ini.
Demikian  pula  dengan  informasi/data  lainnya  yang  teredia    dapat  dijadikan  dasar
untuk membuat peramalan.

12. Penerapan (Aplikasi)
Para  ilmuwan  pada  umumnya menguasai  ketrampilan  untuk mengaplikasikan
suatu konsep, prinsip, dan atau teori untuk memecahkan suatu masalah, menjelaskan
suatu  peristiwa  baru,  dsb.  Pembelajaran  di  SD-MI  seharusnya  melatih  muridnya
untuk menggunakan ketrampilan penerapan ini, baik dengan langsung melakukannya
maupun  dengan  menunjukkan  bukti  penerapan  itu  disekitarnya.  Beberapa  contoh
seperti  konsep yang menyatakan bahwa udara mempunyai tekanan dapat diterapkan
dengan memompa ban  sepeda agar dapat membawa beban yang  lebih berat,.bahwa
air mengalir  dari  tempat  tinggi  ketempat  rendah  diterapkan  dengan menempatkan
tempat  cadangan  air  diketinggian  agar  air  dapat mengalir  keseluruh  bagian  rumah
(untuk  cadangan  air di  rumah  tinggal)  atau keseluruh bagian kota  (untuk  cadangan
air Perusahaan Air Minum atau PDAM).
13. Komunikasi
Ketrampilan  komunikasi  selalu  diperguanakan  para  ilmuwa  untuk
menyampaikan gagasan, hasil penelitian, penemuan, dll kepada orang lain, baik lisan
maupun  tertulis,  yang  biasanya  dilengkapi  dengan  penyajian  data  dalam  bentuk

gambar, model,  tabel,    grafik,    diagram,  dan  sebagainya  yang  akan memudahkan
orang lain untuk memahami apa yang dikomunikasikan itu. Ketrampilan komunikasi
ini  mutlak  dikuasai  oleh  para  ilmuwan,  agar  gagasan,  penemuan,  dan  sejenisnya
dapat  tersebar  luas  dan  diketahui  orang  lain.    Murid  di  SD-MI  perlu  dibiasakan
mengkomunikasikan gagasan,   hasil pengamatan, pengukuran, dan atau eksperimen,
dsb  sesuai  kaidah  komunikasi  ilmiah.  Dengan  bimbingan  guru,  murid  harus
melengkapi  laporannya  dengan  penyajian  data  yang  relevan  dengan  laporan  itu,
seperti  gambar,  tabel,  grafik,  dll.  Demikian  juga  laporan  hasil  kerja  tugas  dalam
Lembar Kerja Murid,  hasil diskusi atau kerja kelompok, serta kegiatan pembelajaran
lainnya yang menghasilkan  sesuatu yang perlu dikomunikasikan kepada pihak  lain.
Dengan  latihan  ini,  murid  secara  berangsur  akan  dapat  menguasai  ketrampilan
komunikasi ini, baik lisan maupun tertulis.
Demikianlah  berbagai  jenis  ketrampilan  proses  yang  selalu  dipakai  oleh  para
ilmuwan  untuk  menghasilkan  temuan-temuan  penting  yang  telah  mengabadikan
namanya dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan. Murid-murid SD-MI secara dini,
bertahap,  tetapi  berlanjut  harus  diberi  peluang  untuk mengusai  ketrampilan  proses
tersebut melalui pembelajaran di sekolah. Pengembangan ketrampilan proses secara
dini harus telah dimulai di kelas-kelas awal dengan memilih ketrampilan yang sesuai
dengan  perkembangan  dan  kemampuan  murid-murid  yang  bersangkutan,  seperti
ketrampilan mengobservasi, perhitungan, klasifikasi, komunikasi, dsb. Untuk kelas-
kelas  lanjut  harus    dilatihkan  berbagai  ketrampilan  proses  lainnya  yang  lebih  sulit
dan rumit; hal itulah yang dimaksudkan dengan latihan melalui pembelajaran secara
bertahap tetapi berlanjut. Pengembangan berbagai ketrampilan proses tersebut adalah
hasil  akumulasi  dari  diterapakannya PKP  itu melalui  berbagai  pembelajaran  dalam
berbagai bidang studi .

A.  Penerapan Ketrampilan Proses Dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Di SD-MI

            Setiap pembelajaran  selalu berlangsung dalam 3  (tiga)  tahapan utama  yakni
perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian. Kajian  tentang penerapan PKP itu dibatasi
hanya  pada  tahap  perencanaan  saja,  dengan  catatan:  Anda  dipersilahkan
mempraktekkannya bagi   yang berkesempatan dan mau melaksanakan pembelajaran
sesuai  dengan  gagasan  yang  dikaji  pada  tahap  perencanaan  ini.  Anda  dapat
mengadakan  penyesuaian situasional (penyesuaian sesuai dengan situasi dan kondisi
obyektif di  sekolah/kelas  tempat pelaksanaan pembelajaran  itu). Selanjutnya, kalau
pembelajaran  itu  sementara  dilaksanakan  dan  memerlukan  revisi  dari  rencana

semula,  silahkan  mengadakan  penyesuaian  transaksional  (penyesuaian  karena
kebutuhan nyata sementara pembelajaran berlangsung).
           Penyusunan  rencana  pelaksanaan  pembelajaran  harus  didahului  dengan
beberapa  kegiatan  sebelum  mulai  merancang  pembelajaran  itu.  Kegiatan  sebelum
perancangan itu, antara lain diperlukan hal-hal berikut:
1.  Pemahaman yang tepat tentang kurikulum, utamanya silabi, yang menjadi acuan
dalam    pembelajaran    yang  akan  direncanakan  itu:  kaji  dengan  cermat
kompetensi,  indikator, pengalaman belajar, materi pokok, dll. Pilih pengalaman
belajar dan materi pokok  yang  cocok untuk penerapan PKP dalam pelaksanaan
pembelajaran itu.
2.  Pemahaman  yang  tepat  tentang  tingkat  perkembangan  dan  kemampuan  murid
yang  akan mengikuti  pembelajaran  itu,  utamanya  tentang  kemampuan  awalnya
(entering behavior);
3.  Fasilitas  pembelajaran  yang  tersedia/dapat  disediakan  dan  dapat  dipergunakan
dalam  pembalajaran:  sumber  belajar, media  pembelajaran,  alat  dan  bahan  yang
diperlukan;
Selanjutnya,  pilih  ketrampilan  proses  yang  sesuai  dengan  keperluan  pembelajaran
berdasarkan hasil kajian Butir 1, 2, dan 3 tersebut di atas. Setelah langkah persiapan
itu tuntas, mulailah merancang pembelajaran, dan setelah rancangan itu jelas barulah
mulai penyusunan/penulisan rencana pelaksanaan pembelajaran itu. .